Belajar dari Gempa Lombok, Surabaya Dilewati 2 Sesar Aktif Termasuk Empat Kota di Jawa Timur

IM.com – Gempa bermagnitudo 7 mengguncang Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dan wilayah sekitarnya pada Minggu (5/8/2018) sekitar pukul 18.46 WIB. Gempa ini disebut sebagai gempa utama dalam rangkaian gempa yang mengguncang wilayah Lombok, NTB, belakangan ini. Sebelumnya, gempa bermagnitudo 6,4 mengguncang Lombok Utara pada 29 Juli 2018.

Data sementara, gempa Lombok berkekuatan 7 SR pada Minggu (5/8) mengakibatkan 98 orang meninggal dunia dan 236 orang terluka. Ada ribuan rumah rusak, terbanyak di wilayah Lombok Utara.

Dr.Ir Amien Widodo, Dosen Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) menyatakan, secara geologi tektonik Lombok memang kawasan seismik aktif sehingga berpotensi diguncang gempa karena terletak di antara 2 sumber gempa dari selatan ada zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara zona sesar aktif yang dikenal dengan Sesar Naik Flores.

Bagian selatan menghasilkan gempa Megathrust, bagian utara gempa sesar naik dan ini menghasilkan aktivitas kegempaan atau seismisitas Pulau Lombok, tampak seluruh Pulau Lombok banyak sebaran titik episenter yang artinya memang banyak aktivitas gempa di wilayah ini.

Menurut Amien, gempa bumi berkekuatan M=6,4 pada tanggal 19 Juli 2018 mengagetkan banyak orang dan merobohkan ribuan rumah di Lombok. Rangkaian aktivitas gempa susulan yang masih terus terjadi bahkan sampai tanngal 4 Agustus mencapai lebih dari 450 x. Dan baru saja terjadi tanggal 5 Agustus 2018 dengan magnitudo 7.0 SR dengan pusat gempa di darat kedalaman 10 km pada 27 km Timur Laut Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat pada pukul 18.46 WIB.

Peringatan dini tsunami telah diaktivasi. Potensi tsunami terjadi di pantai Lombok Barat bagian utara dengan status waspada dan pantai Lombok Timur bagian Utara dengan status Waspada kedalaman air berkisar kurang dari 0,5 meter. BPBD telah memerintahkan masyarakat untuk menjauh dari pantai.

Gempa dirasakan di Pulau Lombok dan pulau pulau sekitarnya, seperti Pulau Sumbawa, Pulau Bali hingga Jawa Timur bagian Timur. Guncangan sangat keras dirasakan di Kota Mataram, masyarakat berhamburan keluar rumah. Korban jiwa tercatat 98 orang dan luka luka ratusan orang. Jumlah korban dipastikan akan bertambah karena masih banyak daerah terdampak yang belum bisa dijangkau oleh tim penyelamat.

Masih menurut Amiean, berdasarkan analisis peta guncangan gempa dirasakan. Intensitas gempa di Kota Mataram VIII MMI, Karangasem VI MMI, Ubud V MMI, Denpasar IV MMI, Kuta IV MMI, Tabanan V MMI, Singaraja III MMI, Negara IV MMI, Banyuwangi III MMI, Jember III MMI, dan Malang II MMI.

Kerusakan bangunan banyak terjadi terjadi di Kota Mataram. Umumnya bangunan-bangunan yang dibangun dengan kurang memperhatikan kontruksi tahan gempa akan mengalami kerusakan jika terkena guncangan gempa dengan intensitas di atas VI MMI Apalagi saat ini di Kota Mataram intensitas gempa VIII MMI.

SESAR AKTIF

Sesar sesar aktif yang lewat Jawa Timur, yakni Surabaya, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun

Lebih lanjut Amien menjelaskan, banyak kota besar di Indonesia yang letaknya berdekatan bahkan dilewati jalur sesar aktif seperti jalur sesar Lembang yang sangat dekat dengan kota Bandung, sesar Cimandiri yang melintas dekat kota Sukabumi, sesar Opak yang jalurnya dekat kota Yogyakarta.

Sesar-sesar berukuran besar di kerak bumi merupakan hasil dari aksi gaya lempeng tektonik, dengan yang terbesar membentuk batas-batas antara lempeng, seperti zona subduksi atau sesar transform. Energi yang dilepaskan menyebabkan gerakan yang cepat pada sesar aktif yang merupakan penyebab utama gempa bumi.

Gempa darat akibat sesar aktif yang membelah kota terbukti menghancurkan bangunan, membunuh ribuan orang serta membuat cacat permanen telah terjadi di beberapa tempat diantaranya seperti yang terjadi di Bener Meriah Aceh 2012, gempa Padang 2009 dan gempa Jogja 2006.

“Khusus saat gempa Jogja 2006 ada ilmu yang harus kita jadikan pelajaran penting di masa depan,” kata Amiean. Saat itu ada puluhan ribu rumah rusak, roboh rata dengan tanah dan membunuh sebagian besar orang yang ada di dalamnya serta menyebabkan cacat permanen. Akan tetapi banyak juga rumah yang masih utuh dan menyelamatkan orang orang yangg ada di dalamnya.

Rumah rumah yang roboh sebagian besar merupakan rumah bata tanpa tulangan, sedangkan rumah yang tidak ambruk rumah tembok yang berstruktur tulangan dan balok. Berdasarkan dari kejadian gempa darat tersebut diatas maka bisa belajar bahwa hancurnya bangunan disebabkan oleh faktor internal bangunan tersebut dan faktor eksternal yaitu magnitud gempa, pergeseran sesar dan respon tanah terhadap gempa.

Pusat Gempa Nasional 2017 telah menyebutkan bahwa banyak kota di Indonesia dilewati sesar aktif yang berpotensi gempa, termasuk Kota Surabaya. Sesar Kendeng membelah Kota Surabaya menjadi 2 sesar, Sesar Surabaya dan Sesar Waru yang berpotensi menimbulkan gempa 6.5 SR dan bergerak 0.05 mm per tahun.

Apa yang harus dilakukan pemerintah Kota Surabaya untuk antisipasi hal itu?, tanya Amien seraya menerangkan, “kamimengusulkan pemerintah melakukan asesmen ancaman gempa, asesmen kerentanan bangunan, asesmen kerentanan tanah dan asesmen kapasitas kesiapsiagaan masyarakat.

Berdasarkan data tersebut bisa dibuat zonasi kawasan yang berisiko tinggi sampai yang berisiko rendah. Dari masing masing kawasan berisiko tersebut dibuat arahan mitigasi struktural dan arahan mitigasi non struktural dengan edukasi masyarakat dalam menghadapi gempa.”

Jepang merupakan Negara kepulauan relatif kecil dan terletak di kawasan geologi tektonik aktif dengan banyak gempa dan tsunami sama dengan negara kita. Karena kecilnya kepulauan maka masyarakat Jepang tidak punya pilihan lain, mereka harus menghadapi gempa tersebut.

Untuk itu mereka mencatat, meneliti, mengembangkan sistem peringatan dini, mengembangkan bangunan tahan gempa, dan mensosialisasikan.“Sosialisasi akan ancamam gempa kepada masyarakat dilakukan terus menerus. Sehingga masyarakat Jepang sudah terbangun budaya keselamatan, sehingga saat terjadi gempa mereka reflek tahu apa yang dikerjakan,” terang Amien. (uyo)

Berita Terkait

Komentar