Sendang Tirto Kamandanu

IM.com Bergenre Mlaku Mlaku Babinsa duet Pelda Santoso dan Serma Jaenuri menelusuri riwayat Ringin Sembilan, pohon tua di area Sendang Tirto Kamandanu di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kediri.

Ringin Sembilan, dikenal erat dengan hal di luar logika. Mbah Tugino yang akrab dipanggil Mbah No, membuka lembaran sejarah lewat penjelasan simple dan mudah dimengerti. Walaupun, dalam penjelasannya ada beberapa hal yang memang bertentangan dengan hukum fisika.

Dikatakan Mbah No, Ringin Sembilan tidak sekedar jejak sejarah keberadaan Sri Aji Joyoboyo sebelum moksa (lenyap), tetapi ada sejarah lain yang bisa diketahui orang yang memiliki kemampuan panca indera keenam.

Menurutnya, di sekitar Ringin Sembilan banyak benda-benda pusaka tersimpan di dimensi lain. Benda-benda pusaka ini bisa dilihat dan diambil orang yang linuwih (kelebihan). Benda pusaka yang dimaksud Mbah No, bukan cuma benda-benda keris saja, bebatuan sejenis merah delima juga ada.

“Di sini banyak benda-benda pusaka, tapi dunianya lain, tidak dilihat, yang melihat cuma orang linuwih (kelebihan). Jumlah benda-benda pusaka banyak, jenisnya banyak, ada keris, ada merah delima,” ungkap Mbah No.

Dijelaskannya, aura sekitar Ringin Sembilan sangat kuat dan paling kuat di antara tempat lain di sekitar Sendang Tirto Kamandanu. Auranya positif, namun tidak sembarangan orang bisa mengetahuinya. 

“Di sini paling kuat, auranya positif tapi lebih kuat. Aura kuat ini bisa dibuktikan oleh orang-orang linuwih (kelebihan). Dari barat, utara, selatan, timur, di sini yang paling kuat. Biasanya kalau orang-orang yang bisa melihat, pasti ke sini dulu, baru ke tempat lainnya,” sambung Mbah No.

Benda-benda pusaka yang biasa dicari orang-orang, tidak semua bisa dibawa, bahkan cenderung lebih banyak yang dikembalikan lagi, usai orang tersebut berhasil mendapatkannya. 

“Jarang ada yang membawanya, paling banyak sudah dapat lalu dikembalikan lagi. Benda-benda pusaka itu dikembalikan karena tidak cocok dengan orang yang mengambilnya,” jelas Mbah No.

Terlepas percaya atau tidak percaya, pembuktian sejarah tersebut tidak lepas ingin menjalin komunikasi dengan seluruh elemen maupun komponen masyarakat, termasuk tokoh adat seperti Mbah No, yang setiap harinya berada di lokasi tersebut.

Tempat ini bakal ramai dan padat pengunjung saat bulan Suro tiba, biasanya sebelum Suro, sudah banyak pengunjung yang datang dari berbagai daerah.  (penrem 082)

1,238

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini