
IM.com – Ada yang unik di Galeri DKS, Balai Pemuda Surabaya. Tiga perupa dengan latar berbeda, datang dari jalur masing-masing namun bertemu dalam satu pameran seni rupa bertajuk “SYNTHESIS”.
Mereka adalah Henry Siswanto, Budi Bi, dan Rudy Crut, tiga nama dengan kisah perjalanan yang nyaris tak saling bersinggungan tapi akhirnya berkelindan di Galeri DKS, Kompleks Balai Pemuda, Alun-Alun Surabaya dari tanggal 30 Agustus hingga 7 September2025.


Henry lahir dan besar di Surabaya. Latar belakang arsitektur membuatnya akrab dengan garis, bangunan dan struktur. Tapi siapa sangka jalan hidupnya mengantarkan menyelami logam bekas? Dari potongan gear, mesin dan baut, Henry merangkai sosok-sosok yang terasa hidup.
“Besi itu keras, dingin, tapi kalau kita tekuni akan bisa bercerita,” ucap Henry. Dalam pameran ini dia menghadirkan 9 patung logam dan sebuah motor gede custom, seakan ingin membuktikan bahwa logam pun bisa bernapas.
Berbeda dengan Henry, Budi Bi menemukan jalannya melalui kelembutan cat air. Sebagai Ketua Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (KOLCAI) Surabaya, Budi percaya bahwa medium sederhana ini menyimpan keajaiban.


Dalam pameran SYNTHESIS, Budi menampilkan tiga karya surealis-fantasi berukuran besar. Lukisannya penuh simbol. Figur manusia biru bertangan banyak, ikan koi, awan dan tanaman yang seolah bergerak.
“Saya melukis untuk merawat imajinasi. Cat air itu lembut, tapi bisa membuka ruang tafsir yang tak terbatas,” tuturnya.
Sementara Rudy Crut menempuh jalur yang sangat berbeda. Berawal dari kecintaan menggambar di Surabaya, ia kemudian terjun ke dunia ilustrasi digital hingga namanya dikenal global.

Rudy pernah berkarya untuk Riot Games, Blizzard Entertainment, dan Marvel, dan kini menjabat sebagai Illustration Craft Lead di Riot Games.
Di SYNTHESIS, Rudy memamerkan 12 digital painting penuh warna dan detail fantasi. Baginya, ilustrasi digital adalah bentuk seni rupa modern yang tak kalah dengan lukisan kanvas. “Kreativitas itu hasil latihan panjang dan rasa ingin tau yang terus menyala,” ujarnya.
Kurator Asmujo Jono Irianto, yang membuka pameran ini menyebut SYNTHESIS sebagai ruang temu antara logam, cat air, dan digital. Lebih dari itu, ia adalah ruang persinggungan tiga jalan hidup.
Henry datang dari dunia arsitektur, Budi dari jalan komunitas seni cat air dan Rudy dari industri kreatif global. Mereka berbeda, tapi dalam SYNTHESIS, karya mereka menyatu, membentuk mozaik tentang seni rupa masa kini. (kim)