
inilahmojokerto.com — Keterbatasan sumber pendapatan tambahan masih menjadi persoalan klasik di banyak wilayah pedesaan.
Di tengah minimnya pendampingan kreatif dari penyuluh maupun perangkat desa yang cenderung sibuk dengan urusan administratif, upaya pemberdayaan lahan kosong sering kali terabaikan.
Di tengah kondisi tersebut, Polsek Sooko, Polres Mojokerto, Polda Jawa Timur, justru menunjukkan langkah konkret.
Untuk mendukung program ketahanan pangan nasional, jajaran Polsek Sooko memanfaatkan lahan kosong di belakang Mapolsek dengan mengembangkan peternakan unggas, khususnya mentok.
Kandang berukuran sekitar 7 x 12 meter atau seluas 84 meter persegi itu dibangun secara sederhana. Namun dari tempat itulah, puluhan unggas mentok, angsa, ayam lokal, hingga burung merpati kini dipelihara secara gotong royong oleh anggota Polsek Sooko.
Andi (43), warga Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, yang sehari-hari bertugas merawat ternak tersebut, menuturkan bahwa kandang itu sudah dibangun sejak sekitar satu tahun lalu, seiring dicanangkannya program ketahanan pangan nasional oleh pemerintah.
“Di area ini ada ayam lokal, mentok, angsa, dan burung merpati. Untuk mentok sendiri ada tiga jenis, yakni mentok jumbo, mentok super, dan mentok lokal,” ujar Andi saat ditemui, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, awalnya hanya dipelihara delapan pasang mentok. Namun seiring waktu, jumlahnya terus berkembang hingga kini mencapai puluhan ekor. Selain mudah berkembang biak, mentok juga dikenal sebagai unggas yang relatif tahan penyakit.
Selama ini, banyak masyarakat yang sebenarnya tertarik beternak ayam atau mentok, namun kerap dihadapkan pada persoalan klasik, yakni biaya pakan. Kondisi ini sering membuat niat beternak urung dilakukan karena dianggap tidak ekonomis.
Namun Chasbullah, penyuluh peternakan di Pacet menerangkan, persoalan pakan sebenarnya bisa diatasi dengan cara sederhana. Salah satunya dengan memanfaatkan pengetahuan populer yang kini mudah diakses melalui berbagai kanal, termasuk media sosial dan YouTube.
“Sebagian pakan bisa diolah dari limbah sayuran pasar. Kalau mau belajar dan telaten, biaya pakan bisa ditekan,” jelasnya.
Di Polsek Sooko sendiri, pakan unggas sebagian besar masih menggunakan dedek dan bekatul yang mudah diperoleh.
Perawatan dilakukan rutin setiap hari, mulai dari membersihkan kandang, mengganti air minum, hingga pemberian pakan.
Langkah Polsek Sooko ini dinilai layak dikembangkan di wilayah pedesaan. Selain perawatannya relatif mudah, harga jual mentok tergolong cukup tinggi dan setara dengan bebek, yang selama ini telah menjadi komoditas kuliner potensial.
Melalui pemanfaatan lahan kosong, pengelolaan sederhana, serta pemanfaatan pengetahuan praktis yang mudah diakses masyarakat, kegiatan beternak mentok ini diharapkan tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang sumber penghasilan tambahan bagi warga desa. (joe/kim)








































