Ketika seekor buaya membunuh, dibenamkannya mangsa tersebut dalam lumpur.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Maukah ikut bersamaku ke kandang buaya? Di sini manusia memelihara buaya supaya mereka dapat membuat sepatu dan tas tangan dari kulit buaya.

Sekarang waktunya memberi makan buaya. Lihatlah mulut besar yang terbuka lebar dengan seluruh gigi-giginya! Manusia hanya mempunyai 32 gigi, tetapi mulut buaya lebih besar dan dipenuhi gigi.

Jika engkau amati dengan teliti, engkau akan tahu bahwa buaya tidak menggunakan giginya untuk mengunyah. Lelaki itu memberinya makanan berupa irisan daging kecil, dan buaya akan langsung menelannya.

Bukan hanya buaya yang tidak mengunyah makanannya. Singa dan harimau merobek mangsanya dan kemudian menelan seluruhnya begitu saja. Tetapi ada perbedaan antara buaya dan singa atau harimau.

Buaya di sini mampu menelan makanan tanpa mengunyahnya karena seseorang sudah memotong daging tersebut menjadi beberapa irisan. Tetapi di hutan liar, ketika buaya menangkap dan membunuh anjing, kambing, atau bahkan mungkin manusia, ia membenamkannya dalam lumpur. Setelah daging tersebut membusuk, buaya itu menggalinya kembali dan barulah memakannya.

Mengapa ia melakukan itu? Gigi atas dan bawah buaya tidak sama, sehingga tidak dapat mengunyah daging kasar mangsanya. Setelah daging itu busuk, ia menjadi lembut dan mudah dimakan.

Anak-anakku, ada kesamaan tertentu antara buaya dengan manusia. Meskipun manusia mampu mengunyah, dia makan seperti buaya, yang mengambil makanan tanpa berpikir.

Dia akan menyantap daging atau makanan apa pun, meski berbau busuk. Dia tidak berpikir tentang benar dan salah atau baik dan buruk. Dan mengunyah sesuatu tanpa berpikir dengan bijak, dia menelannya bulat-bulat.

Sebagian orang berpikir seperti seekor buaya. Mereka mengambil apa yang baik, menguburnya, dan menantinya busuk. Setelah sesuatu itu membusuk, mereka memakannya.

Tidak masalah sebesar apa pun kebajikan yang diberikan atau betapapun banyaknya sifat baik itu diajarkan, mereka akan mengubur hal-hal itu dalam lumpur kebodohan dari lima unsur. Manusia semacam itu akan meminum apa yang diberikan kepadanya setelah semua kebaikannya membusuk.

Perilaku buaya terlihat dalam semua sifat dan perbuatan manusia. Dia mengambil perkataan Tuhan, kearifan, keadilan, dan kasih-Nya, kesatuan dan kedamaian-Nya, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, dan bahkan beribadah kepada-Nya, dan dia mengubur semua itu dalam neraka gelap kejumudan dan ilusi, membiarkannya membusuk.

Kemudian dia kembali hanya untuk mengambil makna-makna yang mengenakkan dan dapat diterima oleh akalnya. Dia hanya memakan apa yang mudah baginya untuk ditelan dan membiarkan semua yang lain membusuk.

Dia mengubur semua yang baik sampai pada tingkat sifat-sifat buayanya sebelum dia memakannya. Tak penting seberapa besar engkau mengajari orang macam itu tentang sifat-sifat manusia, perbuatan, dan kearifan, dia akan menghancurkannya dengan menguburnya dalam lumpur keadaannya sendiri.

Cucu-cucuku, sifat-sifat Tuhan harus dipahami dengan sifat-sifat Tuhan, dan kearifan Tuhan harus dipahami dengan kearifan-Nya. Engkau harus mencoba memahami kebajikan di sebuah tempat di mana sifat-sifat dan tindakan-tindakan Tuhan ada. Pergilah ke orang bijak dan belajarlah darinya. Semua perbendaharaan yang engkau butuhkan tersimpan dalam dirimu.

Dengan iman, ambillah apa yang diberikan. Kuburlah apa yang dia ajarkan kepadamu dalam kearifan sebelum engkau mencoba untuk mengambilnya. Ketika dia berbicara tentang sifat-sifat Tuhan, kuburlah sifat-sifatmu dalam sifat-sifat Tuhan dan kemudian ambil bagian di dalamnya. Ketika dia berbicara tentang keadilan Tuhan, kuburlah dalam keadilan dan kemudian rasakan.

Jangan seperti buaya. Jangan ambil apa yang diberikan syekh kepadamu dan menguburnya dalam kejumudan. Jika engkau mengubur segala milik Tuhan dalam akal dan ilusi, engkau akan melihat sifat-sifat maya: bau busuk dan amis keraguan, kecurigaan, kesombongan, karma, kegelapan, dan kelambanan.

Tetapi jika engkau mengubur milik Tuhan dalam wilayah Tuhan, engkau akan memahami rahasianya, maknanya, dan keagungan yang membahagiakan. Setelah itu engkau akan mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan hidup dan pengetahuan jalan-jalan keadilan. Barulah kemudian engkau akan memahami dan mendapatkan kebebasan.

Cucu-cucuku terkasih, engkau harus mencoba untuk menemukan makna dalam hidupmu. Engkau harus mencoba menemukan kedamaian dan kebajikan. Itu akan memberikan keuntungan besar bagimu. Tolong pahami ini. Kasihku padamu.

 

Sumber:

Buku Kebun Ma’rifat Vol. 3

Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

31

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini