
inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Kemarilah, ayo kita menyusuri jalan hutan ini. Berhati-hatilah! Ada ular berbisa! Tengok dan tunggulah. Bila kita tetap tenang, ia akan pergi dengan sendirinya.
Lihat, ia berlalu tanpa mengganggu kita. Oh tidak! Di sini muncul seekor piton. Ia berjalan lurus ke arah kita. Cepat, menghindarlah! Seekor piton tidaklah menggigit, ia membelit korbannya dan kemudian menelannya.
Pikirkan hal ini sejenak. Jika ular berbisa menggigit kita, maka kita dapat menyembuhkan luka itu dan mungkin [dapat] menyelamatkan hidup kita. Tetapi jika seekor piton menangkap kita, maka ia akan menerkam dan menelan kita, dan jelas matilah kita.
Kasihku padamu, cucu-cucuku. Apakah engkau memahami makna dari semua ini? Kebodohan, kekurangarifan, amarah, kebencian, balas dendam, dan keraguan semuanya itu adalah ular-ular berbisa. Sifat-sifat itu semua seperti ular pertama yang telah kita lihat, dan semuanya itu dapat menggigit kita.
Menyerang bagian mana sifat-sifat seperti ular itu? Mereka menggigit hati kita. Tetapi, jika kita sangat tenang dan menggenggam erat sifat-sifat Allah swt., iman, cinta, dan sabar, maka ketika sifat-sifat berbisa itu mendekat, mereka akan berlalu begitu saja. Jika kita mempunyai kesabaran batiniah Allah, yakni sabur-Nya, maka sifat-sifat buruk akan berlalu tanpa menggigit kita.
Meskipun apabila kita digigit, sungguh memungkinkan bagi seorang dokter yang baik untuk mengobati luka tersebut dengan obat kebajikan, dengan cinta Allah, serta kekuasaan-Nya. Jika kita dapat menemukan seorang yang akan menyembuhkan kita dengan obat kebajikan ini, maka kita dapat menyelamatkan hidup kita, tetapi jika tidak ada seorang dokter semacam itu, maka kita akan mati.
Dokter yang baik itu adalah seorang syekh yang bijak. Hanya seorang yang mempunyai kearifan dan sifat-sifat Tuhan sajalah yang dapat melindungi kita dan menghilangkan racun ular tersebut.
Tetapi perhatikanlah, cucu-cucuku. Piton ilusi jauh lebih berbahaya daripada berbagai jenis ular berbisa yang ada. Jika ilusi dunia ini menangkapmu, maka ia akan membelitmu dengan ekornya dan menelanmu seutuhnya. Piton ilusi tidak beracun, namun dapat menelan dan melumatkanmu dalam asam neraka.
Apakah piton tersebut? Piton dalam diri kita itu adalah kesombongan, karma, ilusi, dan tiga anak dari ilusi yang disebut tarahan, singhan, dan suran. Ia adalah hawa nafsu, kebencian, ketamakan, fanatisme, rasa cemburu, minum minuman keras, obsesi, pembunuhan, pencurian, dan kepalsuan. Untuk selamat dari piton ilusi, engkau membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan kearifan.
Jangan sampai engkau tertangkap! Engkau harus menghindar! Jika piton itu menangkapmu, wahai cucu-cucuku, maka tamatlah riwayatmu. Seorang manusia bijak tentulah dengan mudah dapat membunuh ular ini, tetapi sebelum engkau memiliki kearifan tersebut engkau harus menemukan cara untuk menghindar.
Bagaimana cara orang bijak membunuh piton? Dia menggunakan suatu kiat cerdas. Pertama, dia menunggu piton tersebut kembali, setelah itu dengan cepat dia bergerak maju dan memotong kepala piton dengan sebilah pisau yang sangat tajam. Lalu dipotongnya tubuh piton itu menjadi beberapa bagian.
Meski demikian, dia harus berhati-hati, sebelum sang piton benar-benar mati. Dalam waktu setengah jam bagian-bagian tubuh yang telah terpisahkan itu dapat menyatu kembali. Piton mempunyai suatu kekuatan magnetik yang memungkinkan tubuhnya menyatu kembali.
Karena itu, jika engkau benar-benar ingin menghancurkannya, maka harus menggunakan cara cerdas yang dilakukan oleh orang bijak itu. Ambillah bagian ekor dan tempatkan di bagian kepala. Lalu ambil bagian tengah dan tempatkan di bagian ekor. Jika engkau mengacak bagian-bagian tubuhnya sedemikian itu, maka bagian-bagian tubuh piton tidak dapat bergabung kembali.
Meskipun bagian-bagian itu berusaha menyatu, namun tidak akan bisa berfungsi sempurna dimana sarafnya tidak tersusun dengan baik.
Pikiran dan ilusi tidak lain laksana piton. Mereka juga memiliki jenis magnet sama, sehingga dapat menyatukan bagian-bagiannya kembali walau engkau berusaha untuk memisahkannya. Ketika engkau potong ilusi menjadi beberapa bagian, maka bagian-bagian tersebut akan menyatu dan tersambung kembali.
Tetapi jika engkau dapat mengacak antara bagian kepala, tengah, serta ekor dari piton, maka engkau dapat mengatasinya. Engkau harus memotong ilusi ke dalam bagian-bagian dan memisahkan secara terpencar-pencar pada arah yang berbeda. Maka cara seperti ini akan dapat melumatkan bagian-bagian tersebut.
Demikian pula, ketika hanya engkau potong satu bagian saja dalam pikiranmu, ia akan berjuang untuk hidup kembali. Jadi, engkau harus benar-benar mewaspadainya. Jangan pernah berpikir, “Aku telah belajar kebajikan. Sekarang aku dapat melakukan apa saja!” sampai engkau tinggalkan dunia ini, pikiran itu akan datang kembali pada kehidupanmu sekali lagi dan sekali lagi, bagian demi bagian.
Jangan pernah berpikir bahwa engkau telah belajar kebajikan, atau bahwa engkau dapat mengendalikan ilusi, atau bahwa engkau adalah seorang terpelajar. Pikiran tersebut merupakan satu tanda pasti bahwa engkau kurang bijak. Hanya ketika engkau mencapai suatu tingkatan dimana ilusi tidak dapat hidup kembali barulah engkau beranggapan telah mempelajari segalanya.
Meskipun engkau mencoba untuk membunuh sebuah bagian dari kesemuan (maya), engkau tetap hanya akan mendapatkan satu tetes kebajikan, hanya sebesar titik kecil. Pada tingkat ini, engkau dapat menjadi seorang manusia baik dengan sedikit kejernihan. Amarah, dendam, ketergesa-gesaan, dan hawa nafsumu, seluruhnya tertaklukkan, namun demikian masih banyak lagi yang perlu dipelajari.
Selanjutnya engkau harus menjadi seorang insan, yakni manusia sejati, lalu menjadi seorang insan kamil, yakni manusia suci, lalu manusia sempurna, dan barulah kemudian seorang gnani, atau manusia bijak. Betapa banyak pelajaran yang terdapat di hadapan kita! Kita tidak boleh mengatakan bahwa diri kita telah tuntas mempelajarinya.
Kasihku padamu, cucu-cucuku. Berusahalah untuk memahami pelajaran ini, butir demi butir, serta menempatkannya secara aman dalam hatimu! Hanya seorang manusia bijak sajalah yang mempunyai sifat-sifat Tuhan, yang mengalami, dan telah menaklukkan ilusi yang dapat membantumu untuk mencapai keadaan ini.
Engkau harus mengetahui bagaimana memotong ilusi ke dalam bagian-bagian dan memisahkan secara terpencar-pencar pada arah yang berbeda, dan kemudian membakarnya. Engkau harus memahami bagaimana untuk mendapatkan penawar racun sifat-sifat buruk, memberi obat kepada orang lain, mengatasi lima unsur alami dan lima indera, mengendalikan hawa nafsu serta nafs amarah, dan bagaimana menaklukkan berbagai kecintaan, pikiran, serta kelambanan.
Engkau harus memahami masing-masing bagian tersebut! Setiap engkau menyelesaikan satu bagian ini, maka engkau akan memperoleh partikel kecil kearifan Tuhan. Inilah caranya engkau dapat menjadi seorang anak baik.
Cucu-cucuku, kasihku padamu. Engkau harus mencari kebajikan, memperoleh pengetahuan Ilahi dari-Nya yang dikenal sebagai ‘ilm, dan meminum obat dari kekuasaan Tuhan, qudrat-Nya. Hanya ketika engkau mengerjakan semua ini, maka engkau selamat dari ular ilusi. Amin. Semoga Tuhan menolongmu!
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen









































