
inilahmojokerto.com – Anak-anak, apakah engkau melihat seorang ibu dan anak laki-laki di sana itu? Anak laki-laki itu kelihatannya seperti seorang anak yang bijaksana. Lihat, dia sedang berjalan menuju kita. Mari kita dengar secara seksama pada apa yang dikatakannya!
“Duhai Bapak kebajikanku, aku menghaturkan penghormatan muliaku kepadamu. Ketika aku melihatmu, perasaan, kesadaran, dan akalku memintaku menaruh hormat kepadamu. Engkau telah mengajari anak-anakmu untuk mengikuti suatu kehidupan yang kokoh dan berjalan di atas jalan lurus dengan perilaku baik.
Engkau sebenarnya seorang yang agung. Aku merasa damai dan tenang dengan kehadiranmu, tetapi aku punya suatu masalah kecil dalam pikiranku, sehingga aku meminta perkenanmu untuk berdiskusi. Diskusi ini mengenai ibuku dan aku. Maafkan aku jika aku mengatakan sesuatu yang salah.
Duhai Bapak kebajikanku, bolehkah aku membicarakan kebajikan kepada ibuku? Aku merasa itu tidak benar, karena aku hanyalah seorang anak kecil. Bagaimana aku dapat menjelaskan kepadanya bahwa meski aku dilahirkan dari rahimnya, kewajibanku yang pertama adalah kepada Tuhan?
Aku menginginkannya untuk memahami bahwa aku harus menempatkan keyakinan dan kepercayaanku kepada Tuhan di atas segala yang lain, bersimpuh di kaki-Nya dan selalu menjaga-Nya dalam hatiku. Dan aku menginginkannya untuk mengetahui bahwa kewajibanku yang kedua adalah untuk meyakini mereka yang diutus Tuhan sebagai wakil-wakil-Nya untuk membimbing umat manusia.
Baru setelah itu ada kewajibanku yang ketiga, adalah kewajiban untuk memperhatikan ibu yang mengandungku selama sembilan bulan, memelukku di dadanya, dan memberiku susu dengan penuh cinta. Kemudian kewajibanku yang keempat, kepada ayahku yang (cintanya) tinggal dalam hati ibuku dan terikat oleh cintanya. Aku harus menghormatinya dengan cinta dan kebajikan hatiku.”
Anak-anakku, apakah engkau melihat bagaimana bijaknya anak laki-laki ini? Kita harus memberinya jawaban atas pertanyaannya.
“Anakku, kata-katamu seperti mutiara kebajakan. Jangan ragu-ragu untuk memberitahukan kepada ibumu tentang apa yang harus engkau katakan, karena Tuhan tidak membedakan antara orang dewasa dan anak kecil. Orangtua sejati adalah orang yang mempunyai hati murni, kedamaian, keadilan, kesatuan, dan cinta yang jernih. Cintanya mengandung sifat-sifat Tuhan, kebajikannya menunaikan kewajiban dari Tuhan, dan dia menjalani kehidupan yang baik. Jika seseorang mempunyai sifat-sifat tersebut, meski tubuhnya boleh saja muda, dia akan menjadi dewasa dalam kebajikan.”
“Anakku, engkau memang masih muda, tetapi dalam hal kebajikan engkau sudah tua, jadi sungguh baik bagimu untuk menasihati ibumu. Aku sendiri tidak banyak ilmu, karenanya aku juga belajar darimu. Dalam hati anak-anak kecil itulah sifat-sifat dan perkataan Tuhan berada, dan melalui anak-anak yang muda tersebut kami sering menemukan jawaban yang kami butuhkan. Sesuatu yang tidak kami ketahui bisa jadi datang melalui dirimu.
Kita tentu tidak dapat mengatakan bahwa mereka yang usianya tua pastilah pintar. Tidak masalah seberapa tuanya kita, jika ego dari keakuan kita besar, maka kita tidak dapat benar-benar belajar. Kita hanya bisa belajar jika masih kecil. Karena itu, Anakku, sungguh baik bagimu untuk membicarakan kebajikan. Mintalah ibumu untuk datang ke mari, agar kita semua dapat belajar dari kebajikanmu.”
Cucu-cucuku, dengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh pemuda yang bijak ini dengan ibunya tentang kehidupan.
“Duhai Ibuku, Allah memberi kita berbagai kekayaan berupa kesabaran batin, ketaatan, keimanan, dan pujian kepada-Nya, yakni kekayaan sabur, syukur, tawakkul, dan alhamdulillah. Kekayaan terbesar dari semuanya itu adalah mempunyai sebuah hati yang ridha dengan apa pun yang diberikan Tuhan, yakni sebentuk hati yang memuji-Nya, seraya berucap, ‘Segala puji milik-Mu, ya Allah, alhamdulillah!’
Jika Allah memberi hanya satu butir padi yang dilimpahkan kepada kita sebagai rezeki, maka kita harus menerima secara ikhlas sebutir padi itu. Kita tidak boleh memiliki pemikiran bahwa kita memerlukan sesuatu yang lebih besar, yakni makanan mewah. Kita tidak boleh berpikir, ‘Aku menginginkan ini. Aku menginginkan itu. Aku ingin uang. Aku ingin berbagai gelar.’ Jika kita berpikir seperti itu, maka kita mendapatkan malapetaka.
Segala sesuatu dalam kehidupan memiliki keterbatasan. Jika kita menerima lebih dari apa yang diharapkan Tuhan kepada kita, itu akan terlampau berlebihan. Misalnya, salah satu jari tidak dapat menahan beban berat yang sama dengan yang dapat ditahan oleh seluruh tubuh. Pada titik tertentu ia akan penuh.
Sesuatu dalam kehidupan kita juga meluber (penuh) ketika kita berusaha untuk melebihi batas-batas kita, saat mengeluh, ‘Aku ingin lebih dari ini. Aku ingin mutiara dan pakaian yang bagus. Aku ingin hidup dalam suatu kehidupan yang mewah. Setiap orang menginginkan sesuatu yang tidak mereka miliki. Seorang istri menginginkan uang, seorang suami menginginkan cinta. Jenis pikiran ini menyebabkan kesebalan, amarah, pertengkaran, dan keretakan hubungan di antar manusia, dan kehidupan ini menjadi neraka bagi mereka.
Ibuku, ketika kehidupan orang-orang dewasa salah, hal itu akan mempengaruhi kehidupan anak-anak mereka. Mereka menyaksikan sifat-sifat orangtua mereka dan merasakan kedukaan yang besar, suatu kedukaan yang tidak pernah berakhir, bahkan seumur hidupnya. Ia seperti sebuah penyakit yang parah.
Mereka kehilangan ilmu mereka, kebajikan, bakat-bakat, kedamaian pikiran, ketenangan dan sifat-sifat baik mereka. Mereka tidak memperoleh semua itu di bawah ketegangan. Kekayaan dari kebajikan, cinta, kesabaran, dan kasih, yang mereka bawa bersama orangtuanya ketika mereka hadir ke dunia ini, menjadi rusak. Cinta Allah, kasih sayang terhadap-Nya dan semuanya yang datang dari Allah hilang pada diri mereka.
Inilah karma yang diturunkan orangtua kepada anak-anak mereka ketika kecemburuan, ego, kebanggaan diri, dan keyakinan terhadap dunia serta benda-benda dunia ini menggantikan kesabaran dan sifat-sifat baik Allah. Itu menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi anak-anak ketika kedua orangtua bercerai dan malahan memperlihatkan perbedaan antara aku dan engkau.
Ketika kedua orangtua berpisah, meninggalkan anak-anak dengan tiada berayah atau beribu, anak-anak tersebut hidup seperti anak yatim piatu dan kehidupan mereka pun jadi sia-sia. Tindakan-tindakan bodoh kedua orangtua menciptakan keadaan yang penuh penderitaan ini.
Ketika keyakinan terhadap Allah, sifat-sifat-Nya, kedamaian, dan ketaatan tidak ada dalam diri kedua orangtua, anak-anak akan terpisahkan dari Allah dan kerajaan-Nya, jauh dari cinta dan keadilan, jauh dari kebajikan, dan jauh dari kehidupan mereka sendiri. Bahkan mereka jauh dari keadilan Tuhan. Itulah yang akan terjadi.
Ibunda, pikirkanlah hal ini! Memang mudah untuk menanam sebutir biji, tetapi Ibu harus berusaha keras agar pohon itu (dapat) tumbuh. Sungguh mudah untuk mempunyai anak-anak, tetapi untuk mendidik dan melindungi mereka, pertama-tama engkau harus mengetahui keterbatasan-keterbatasan pikiran dan kebajikan Ibu sendiri.
Ibunda juga harus mengetahui kemampuan anak-anakmu agar dapat memberi mereka apa yang mereka perlukan. Ketika bakat-bakat anakmu itu mulai terbentuk, Ibunda harus menggali bakat-bakat tersebut dan menggunakan pupuk yang cocok agar bakat-bakat itu berkembang. Tetapi galilah dengan sangat hati-hati, karena jika engkau mulai menggali lebih dalam di sana-sini tanpa melihat, maka engkau dapat merusak bakat-bakat tersebut.
Ibu juga harus melakukan pemupukan secara benar. Kalau Ibu menebarkan pupuk amarah, kebodohan, pendapat, ego, keakuan, dan sifat-sifat jelek Ibu sendiri, maka anak-anak tidak akan menerima keuntungan apa pun.
Duhai Ibunda, jangan biarkan sifat-sifat jelek Ibu mempengaruhi anak-anakmu. Itu akan merusak bakat-bakat asli mereka dan membuat kehidupan mereka menyusut dan mati. Ia akan mengerdilkan kebajikan, cinta, dan perilaku baik mereka. Kalau Ibu merasukkan sifat-sifat burukmu kepada mereka, engkau akan membunuh anak-anakmu tanpa benar-benar membunuh mereka. Dengan memangkas mereka dengan sifat-sifatmu, maka engkau akan membunuh cinta dan kebajikan dalam hati mereka.
Ibuku, di dunia ini ada banyak anak-anak yang menderita seperti yang aku alami. Mereka tidak mempunyai kedamaian dalam kehidupan mereka. Sebagian anak dalam keadaan yatim piatu, sebagian anak minggat dari rumah, dan sebagian yang lain bekerja seperti budak. Sebagian anak, meskipun mereka mempunyai seorang ibu dan ayah, mereka seperti anak yatim piatu dan budak karena keadaan kedua orangtua mereka.
Orangtua harus mengerti cara yang benar ini untuk membesarkan anak-anak mereka. Mereka juga harus belajar bagaimana mereka bisa menjadi dewasa. Seorang istri harus menghormati dan melayani suami, dan seorang suami harus menjadi seorang budak bagi cinta di hati istrinya. Mereka harus menjadi budak bagi cinta satu sama lain. Dengan demikian mereka akan memiliki kedamaian, sabur, syukur, tawakkul dan alhamdulillah.
Ketika hati laki-laki dan perempuan menyatu, maka cinta, kasih sayang, kesatuan, dan kedamaian akan tampak. Cinta dan kesatuan yang sama secara otomatis akan datang ke dalam kehidupan anak-anak dan selanjutnya menguntungkan mereka. Mereka akan tumbuh bersama dalam keadaan itu. Jika anak-anak tumbuh dengan pemeliharaan yang lembut, maka mereka akan mengembalikan kebaikan kepada orangtua mereka dan terhadap orang lain.
Pernahkah engkau melihat bagaimana sebuah pohon yang terlindungi dan terpelihara menumbuhkan bunga-bungaan dan buah-buahan yang menyenangkan orang-orang? Pohon itu memberi orang lain tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Tetapi jika pohon itu tidak dibantu untuk tumbuh secara baik, pоhon itu tidak akan menguntungkan siapa pun. Pohon itu akan layu dan mati.
Itulah yang terjadi pada anak-anak ketika kedua orangtua mereka kehilangan sifat-sifat baik dan tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Ketika orangtua terjatuh ke dalam panasnya api neraka, anak-anak yang berada dalam kandungan panas neraka ini akan terpengaruh oleh karma yang memancar masuk ke tubuh-tubuh mereka bersama aliran darah Mereka akan mendapatkan hukuman, mereka akan tersiksa dalam kehidupan neraka, dan kehidupan mereka tidak akan maju.
Adalah benar bahwa Allah akan memberikan suatu pertolongan untuk hal ini. Bagaimanapun, Dia akan membuatkan kehidupan yang lengkap untuk anak-anak sepertiku. Tetapi kita harus memiliki keimanan, karena jika tidak beriman, maka kehidupan kita akan tersesat.
Kasih Allah akan hilang, sifat-sifat-Nya (dalam diri kita) akan hilang, dan kerajaan-Nya juga akan hilang. Semuanya itu akan menyisakan kepada kita kerajaan penderitaan, kerajaan neraka. Inilah yang akan terjadi, jika kita tidak berpuas diri.
Ibunda, cintaku, hatiku, engkaulah orang pertama yang kulihat ketika diriku hadir ke dunia ini. Segala tindakan seorang ibu menentukan pertumbuhan anak-anaknya. Jika kehidupannya benar, maka kehidupan anak-anaknya akan benar; jika kehidupannya salah, maka kehidupan mereka akan salah.
Jika seorang ibu bertindak dengan perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat jelek, maka tindakan dan sifat yang sama akan masuk ke dalam anak-anaknya. Jika dia beriman, maka iman itu akan muncul ke dalam diri anak-anaknya. Segala sifat yang dimiliki seorang ibu akan merasuki anak-anaknya. Bahkan caranya mencari sifat-sifat dan cinta Allah akan muncul dalam diri mereka.
Mereka juga akan mewarisi reputasi orang-tuanya. Jika orangtua mempunyai sifat-sifat baik dan adil, maka anak-anak akan dikenal sebagai anak-anak dari orang baik. Sebutan ini akan mengikuti mereka. Jika ayahnya seorang pencuri, maka si anak itu disebut sebagai anak seorang pencuri.
Bahkan jika anak-anak berusaha untuk menjadi baik, maka orang-orang akan melihat mereka dan mengatakan bahwa jarang anak-anak dari keluarga jahat dapat berubah menjadi baik. Betapapun kerasnya usaha anak-anak itu untuk mendapatkan nama baik, neraka reputasi orangtuanya akan dihubungkan dengannya. Banyak anak-anak yang menderita karena hal ini.
Ibu, aku tidak mengatakan hal ini (khusus) hanya berkenaan tentangmu. Banyak anak-anak lain yang mempunyai masalah seperti masalahku. Ini bukan hanya kisahku, ini adalah kisah dari semua anak yang menderita akibat dilalaikan. Bahkan anak-anak yang hidup dengan kedua orangtuanya menderita kedukaan yang hebat dalam kehidupan mereka karena kebodohan kedua orangtuanya tersebut.
Janganlah Ibu berpikir bahwa anak-anak secara otomatis akan bahagia hanya karena kalian berdua hidup bersama mereka. Bahasa buruk dan pertengkaran yang kalian lakukan di depan mereka akan merasuki hatinya, dan mereka akan meniru segala perbuatan yang engkau lakukan. Jika engkau menggunakan tutur bahasa yang jelek, maka anak-anak yang masih muda itu akan berbicara seperti itu. Jika engkau tidak sopan, mereka akan bersikap sama.
Sifat-sifat dalam dirimu, entah baik maupun jelek, akan ada dalam diri anak-anak sebagaimana wewangian pada selembar daun ada dalam air jus yang diperas darinya. Karena itu, jika engkau memperlihatkan kesabaran, tindakan-tindakan yang baik, dan berbicara penuh damai dan kasih di depan anak-anak, semua itu akan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Sebagian orangtua bertengkar seperti kucing, beberapa diantaranya juga bertengkar seperti singa dan harimau, ada juga yang bertengkar seperti gajah. Beberapa orangtua bertengkar seperti rubah dan anjing, menggigit satu sama lain. Apa yang akan dilakukan anak-anak ketika orangtua mereka bertengkar seperti itu? Esensi dari tingkah laku tersebut akan merasuki anak-anak.
Tetapi, jika engkau hidup rukun, yakni jika cinta bergabung dengan cinta, kasih sayang dengan kasih sayang, kehidupan dengan kehidupan, tubuh dengan tubuh, pikiran dengan pikiran, hati dengan hati, dan jiwa dengan jiwa, maka anak-anak juga akan hidup seperti ini. Kedamaian akan datang kepada mereka, dan mereka akan tumbuh menjadi baik.
Orangtua harus memahami bagaimana membesarkan anak-anak mereka. Inilah kewajiban pokok dari orangtua dalam masyarakat kita. Jika mereka berdusta, mencuri, dan memperlihatkan sifat-sifat jelek seperti kecemburuan dan ketidakjujuran, maka anak-anak akan melakukan hal yang sama.
Apa pun yang dilakukan orangtua, anak-anak akan mengikuti dan mempelajarinya. Keberhasilan atau kegagalan anak-anak berasal dari cara orangtua memperlakukan dan membesarkan mereka.
Ibunda, jika engkau dan ayah menjalani kehidupan yang baik, dan jika aku menjalani kehidupan yang baik serta anak-anakku menjalani pada kehidupan yang baik pula, mungkin para tetangga akan melihat kita dan memperbaiki kehidupan mereka, demikian pula orang lain di sekitar mereka mungkin juga belajar untuk menjalani kehidupan yang baik. Itu akan membawa surga ke bumi. Cinta dan kasih Allah akan tumbuh, dan dunia ini sendiri akan menjadi kerajaan-Nya.
Ibunda, aku mencintaimu. Maafkanlah aku! Aku tidak bermaksud menyakiti Ibu. Aku bukanlah orang yang mengatakan semua ini. Sesuatu yang berada di dalam hatiku itulah yang berbicara kepada Ibu. Apakah aku berhasil dan sejahtera atau hidup dalam kesengsaraan tergantung pada Ibunda.
Jadi, pertama-tama Ibu harus berhasil dan kemudian engkau mampu membantuku. Jika setiap ibu berusaha untuk hidup seperti ini, aku rasa itu akan menjadi baik. Maafkanlah aku, Ibu.”
Kasihku untukmu, cucu-cucuku. Apakah engkau mendengarkan pada apa yang telah dikatakan oleh anak laki-laki yang bijak ini? Engkau harus menjadi seorang yang bijak juga.
Engkau memerlukan kearifan, dan engkau harus mempunyai keimanan kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Perbaikilah kehidupanmu, dan tingkatkan kesabaran, ketaatan, dan kepasrahan diri, berikan segala puja kepada Allah. Semoga Allah menolongmu.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen









































