
inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Marilah kita keluar sejenak. Sekarang hari telah berangsur-angsur gelap, meski masih ada secercah sinar terlihat di langit. Masih ada cukup cahaya untuk melihat dengan jelas berbagai rupa dan bentuk, tetapi sulit untuk memastikan benda apakah mereka itu.
Lihat, kita dapat melihat garis pohon di depan itu, tetapi kita tidak dapat melihat apakah ada sesuatu yang terhampar di atas tanah di bawah pohon itu. Jadi kita harus hati-hati saat berjalan ke sana, atau kita mungkin akan mungkin mengalami kecelakaan.
Cucu-cucuku, akal manusia laksana kilatan kecil cahaya itu. Apa yang bisa ia tunjukkan kepadamu sungguh terbatas. Akal ini terbatas sebagaimana sedikit cahaya atau kilauan yang dapat dilihat dalam sesuatu yang terbentuk dari lima unsur berupa tanah, api, air, udara, dan eter. Apa pun yang berbentuk dapat memantulkan cahaya, namun hanya dapat memberi sedikit penerangan saja.
Begitu pula akal. Akal hanyalah sebuah cahaya yang redup dalam kegelapan, sebuah pancaran dari sumber cahaya lain. Akal tak dapat menembus kegelapan ataupun menerobos awan yang mencegahmu untuk mengetahui sepenuhnya apa yang terdapat di balik awan itu. Akal hanya dapat memberimu sedikit kejelasan. Ia tidaklah cukup untuk mencegah kecelakaan. Engkau tak dapat melangkah dengan aman hanya dengan menggunakan akalmu.
Namun demikian, ada sesuatu yang melampaui akal. Ada suatu rasa keadilan, kearifan jiwa, kearifan akal, dan kearifan Ilahi yang berpijar. Hanya dengan kearifan kita dapat melihat dengan jelas dan memahami lebih mendalam. Kita membutuhkan kearifan.
Sekarang bulan telah muncul, dan malam telah menjadi lebih terang. Mula-mula hanya ada sedikit cahaya, laiknya bayang-bayang dari sebuah bayangan, tetapi sekarang kita dapat melihat dengan cahaya kuning sejuk sang bulan. Kesejukan cahaya bulan seperti halnya rasa keadilan manusia, yang berkembang melalui penyembahannya kepada Tuhan.
Sebagaimana bulan itu muncul dan mengusir kegelapan, pertimbangan datang dan menunjukkan kepada manusia tentang sifat dasar dari segala sesuatu. Ia membantu manusia untuk melihat apakah sesungguhnya semua itu ada, dan membantu manusia untuk melihat jalannya.
Melalui hubungan kita dengan Tuhan dalam doa dan shalat inilah kesejukan dapat diketahui. Hubungan kita dengan Tuhan merupakan anugerah yang dapat kita peroleh dari shalat, dan melalui hubungan ini kita dapat memahami dunia dan diri kita sendiri secara lebih baik.
Hubungan itu sangat intim, nikmat, dan menggairahkan. Melalui shalat dan dzikir, yakni mengingat Tuhan, kita dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup kita dan melanjutkan perjalanan kita dengan senang.
Pada saat itu, perjalanan hidup sangatlah manis dan shalat kita terasa indah. Hal itu memberi kita kedamaian.
Jika kita mempunyai iman yang mampu memelihara hubungan dengan Tuhan ini, ia akan membawa kenyamanan yang menyejukkan bagi hati, seperti sejuknya bulan. Marilah kita menikmati kesejukan dan kebahagiaan, ketika menjalani kehidupan dan menyelesaikan perjalanan kita.
Wahai, cucu-cucuku, fajar telah menyingsing. Sejuknya cahaya bulan telah berlalu, dan terbitlah matahari yang membakar kabut pagi.
Sekarang hari telah terang dan kearifan telah menyingsing.
Anak-anak, ketika kearifan muncul dalam diri kita, ia sangat panas dan terang, selayaknya matahari. Dalam cahaya yang sempurna itu kita dapat melihat segala sesuatu. Ketika pencerahan hadir dalam hidupmu, semua hubunganmu dengan dunia akan terbakar, sebagaimana matahari membakar kabut pagi.
Ketika kebajikan menyingsing, semua awan kehidupan akan terbakar, dan segala penderitaan dan kesedihanmu akan hilang. Kelambanan, angan-angan, dan kegelapan di dunia ini akan berusaha mendatangimu, tetapi semuanya tidak akan mempengaruhimu.
Ketika kearifan penuhmu dan kesempurnaan kesucian jiwamu muncul, dunia dalam dirimu akan hancur oleh panas. Engkau akan mencapai kesempurnaan keagungan Tuhan dan akan menjadi “anak” Tuhan. Kuasa-Nya, yakni cahaya itu, akan datang kepadamu dan bekerja dalam dirimu. Perkembangan ruhani itu akan menunjukkan bahwa engkau adalah “putra”-Nya. Tuhan dan kuasa-Nya akan menjadi kehidupanmu.
Kasihku untukmu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Renungkanlah segala sesuatu yang ada dalam hidupmu dan berusahalah untuk memahaminya. Semoga engkau mencapai kesempurnaan dari keagungan Tuhan. Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen









































