Anak sapi yang malang itu sedang menyusu pada segala hal yang di dekatnya. Ia tidak dapat memperoleh susu sedikit pun dengan cara itu!

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, saudara-saudaraku, putra-putriku. Kita sekarang berada di ladang yang kering. Lihatlah di sekeliling kita!

Apakah engkau melihat semua sapi yang digembalakan di ladang? Di sana, manusia memberi makan pada sapi-sapi yang baru saja beranak. Dan di sinilah kandang di mana sapi dan anak-anaknya dirawat. Akankah kita masuk ke dalamnya? Ah, baiklah, sekaranglah saatnya untuk melihat petani memerah sapi.

Tetapi, lihatlah anak sapi yang diikat di depan induknya, menginginkan susu. Anak sapi yang malang itu sedang menyusu pada segala hal yang ada di dekatnya. Ia tidak dapat memperoleh susu sedikit pun dengan cara seperti itu!

Sekarang anak-anak sapi menyusu pada dagu induknya. Semakin banyak ia menyusu, maka semakin banyak ia mengeluarkan air liur, sehingga anak sapi itu hanya menelan ludahnya sendiri. Anak sapi itu tidak mendapatkan susu dengan cara ini! Tidak adakah cara lain yang lebih baik?

Oh, tidak! Anak sapi itu berusaha untuk menyusu di telinga petani. Oops! Sekarang anak sapi merambah kaki pak tani, dan petani itu menjadi marah sekali. Dengarkanlah omelan petani pada anak sapi dan dia mengusirnya.

Tetapi si anak sapi tidaklah mengerti, dan tetap menggigit telinga petani dan tampak seperti menyusu induknya. Sekarang petani menjadi sangat marah dan berhenti memeras susu sapi itu.

Jadi siapa yang rugi? Tentu bukan sapi, dan jelas bukan anak sapi, yang pada akhirnya memperoleh susu pengganti. Manusialah yang merugi. Lihatlah, sekarang anak sapi meminum susu lebih dari yang ia butuhkan, dan itu membuat anak sapi menjadi sakit. Jika anak sapi mati, kemarahan petani akan membuatnya kehilangan anak sapi dan juga susu.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Petani itu setiap hari mendapatkan susu dari sapi, tetapi engkau harus menghadap Tuhan agar engkau mendapatkan susu. Tuhanlah Yang dapat memberimu susu keanggunan, susu cinta, pengampunan, dan kebajikan.

Tuhan adalah Kekuatan, Satu Dzat Yang memiliki keanggunan tak terbatas dan cinta yang tak tertandingi. Segala keuntungan yang engkau terima berasal dari Tuhan. Tetapi, meski engkau berusaha meraih susu Tuhan, apakah engkau mengetahui apa yang akan berada di belakangmu? Pikiranmu, hasratmu, dan lima unsur.

Semuanya itu akan merintangimu laksana anak sapi yang mencari-cari susu dan menyusu pada ini dan itu. Berbagai kesulitan, kerugian, dan kemelaratan juga muncul dari belakang untuk menjilatimu dan menggigitmu.

Ketika kesulitan mengganggu seorang Mukmin beriman yang mencari Tuhan, dia mungkin menyerah, sembari berpikir, “Tuhan macam apakah Engkau ini? Di sini aku, sedang mencari Engkau dan mencari susu kebenaran-Mu, tetapi semua yang kudapatkan adalah kesengsaraan dan kesakitan. Ini tidak adil!”

Seperti halnya petani yang berhenti memerah sapi karena marah terhadap anak sapi. Manusia suatu saat membiarkan masalah-masalahnya menghalangi dalam mencari cinta Tuhan dan kasih-Nya. Dia kehilangan kesetiaan dan kepercayaannya kepada Tuhan. Dan ketika ini terjadi, manusia lari, mencari perlindungan dari apa yang dilihat.

Dia berpaling pada hal-hal duniawi seperti matahari, bulan, kepercayaan-kepercayaan, batu, pohon, tanah, api, air, udara atau eter. Tetapi mereka tidak mempunyai kearifan, sehingga mereka menghisapnya dan menginjak-injaknya.

Mereka merusak pikirannya, “dan dia menjadi marah. Lagi-lagi dia menyalahkan Tuhan. “Semua kesulitan ini berasal dariku karena aku mempercayai-Mu dengan mencari susu-Mu. Apa gunanya?” teriaknya. Dan dia menghentikan pencariannya (kepada-Nya) dan kehilangan susu keanggunan dan kebajikan.

Lantas, sebagaimana anak sapi yang kemudian jatuh sakit dan mati karena minum susu terlalu banyak, manusia yang melibatkan diri dalam karma mengalami banyak kesedihan, kemarahan, dan kemelaratan. Karena dukanya, dia kehilangan kebenaran dan sifat-sifat luhurnya, dan dia menghentikan pengabdiannya kepada Tuhan.

Ini adalah kesalahan terbesar manusia yang akan membawanya pada kesulitan yang mendalam. Menjauh dari Tuhan merupakan penyakit yang membahayakan, penyakit yang menyebabkan kematian.

Cucu-cucuku, sebagaimana anak sapi, dunia akan menjilat dan menggigitmu. Tetapi, engkau harus ingat bahwa ia tidak memiliki kebajikan. Betapapun dahsyatnya dunia mengganggumu, engkau jangan pernah menyerahkan sifat-sifat baikmu, perbuatan baik, kebenaran, kebajikan, dan keyakinan kepada Tuhan.

Dengan iman, engkau harus sungguh-sungguh berusaha untuk menyuling susu kasih, susu kebajikan, cinta dan kasih sayang dari Tuhan. Engkau harus mengembangkan kesabaran batin, keteguhan hati, kepercayaan kepada Tuhan, dan memanjatkan puji kepada Tuhan, yang dikenal dengan sabur, syukur, tawakkal Allah, dan alhamdulillah. Dan engkau harus menunaikan tugasmu dengan keyakinan, kepastian, menunaikan keteguhan hati, dan iman.

Pikiran, nafsu, dan sifat-sifat jahat tidak memiliki kebajikan. Mereka akan mencari segala sesuatu, mencari mangsa mereka. Bahkan, engkau jangan pernah menyerah untuk mencari kebenaran.

Ketika kesulitan menggerogotimu dari depan atau belakang, atau menyerang dan bahkan menginjak-injakmu, engkau harus selalu menunjukkan kesabaran. Betapapun menderitanya engkau, engkau harus tetap berusaha untuk menyuling dan minum susu kebenaran Tuhan. Barulah engkau akan tahu melalui rasa kebajikan yang baik dapat mengatasi kelelahan dan memenuhi kehidupanmu dengan kedamaian dan ketenangan.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Engkau harus merenungkan ini. Amin. Semoga Tuhan menolongmu.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini