Oh tidak! Seekor monyet muda jatuh. Lihatlah bagaimana monyet-monyet yang lain telah berkumpul untuk menyerangnya bersama-sama.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, anak-anakku. Kemarilah, ayo kita pergi ke sana, dekat pohon-pohon di tepi sungai itu! Apakah engkau melihat monyet-monyet bermain di dahan-dahan pohon itu?

Ada yang besar, kecil, tua, muda, juga hitam dan abu-abu. Ada beragam jenis monyet yang berbeda-beda warna dan ukurannya. Lihatlah mereka secara seksama. Bahkan wajah mereka berbeda. Sebagian berwajah gelap, merah, sebagian lagi berwajah besar seperti singa.

Bisakah kita melihat mereka bermain-main sebentar? Sejumlah kera sedang bertinju dengan yang lainnya, beberapa dari mereka tampaknya mengetahui jurus-jurus kungfu.

Sedangkan yang lainnya berayun-ayun di antara dahan-dahan seperti artis rekstok gantung. Bahkan si monyet tua sedang bermain-main sambil berloncat-loncatan serta berteriak-teriak.

Lihatlah dari dekat cucu-cucuku. Apakah engkau melihat monyet kecil bergantung pada perut ibunya dan menunggang di atas punggung? Mereka berpegang begitu eratnya, sedang sang ibu meloncat dan berayun-ayun dari dahan ke dahan.

Lihatlah bagaimana ibu mereka berayun-ayun menyeberang ke tepi lain dari sungai, dengan anak-anak mereka yang bergantungan di perut dan punggung mereka. Kadang-kadang anak monyet itu melepaskan diri dari ibunya dan jatuh. Ketika itu terjadi, monyet lainnya tidak akan menerimanya kembali masuk ke dalam kelompoknya, mereka akan mengusirnya.

Ini adalah hukum mereka. Dan seluruh keluarga monyet menganut hukum itu. Hukum ini tidak memandang apakah ia baboon, orang utan, gorila, atau simpanse. Apakah mereka besar atau kecil, tampang boleh berbeda, tapi hukum mereka adalah sama.

Oh tidak! Si monyet muda telah jatuh. Apakah engkau dapat melihat seluruh monyet yang lain bergabung untuk menyerang dan menggigitnya? Beruntung ia berhasil lolos dan berlari untuk menyelamatkan diri.

Salam sayangku padamu, anak-anakku. Manusia juga mempunyai banyak monyet yang bergelantungan padanya. Lihatlah bagaimana dunia dan ilusi menungganggi diri mereka di atas punggungnya dengan bangga? Monyet kesombongan dan karma juga menunggangi dirinya dan tidak peduli apa yang dilakukannya, mereka tidak akan melepaskannya.

Walaupun manusia itu menjadi raja dan berjalan dengan segala kehormatannya, dia masih memiliki beban berat di punggungnya. Dan monyet keangkuhan, kelaparan, penyakit, usia tua, kematian, lima unsur, dan keinginan di dunia, perempuan, dan emas semuanya menggantung di perutnya.

Tidak menjadi masalah seberapa banyak tipuan-tipuan sirkus yang diperlihatkan oleh manusía, tidak menjadi masalah berapa lama dia berdoa dan beribadah, tidak masalah yoga apa yang diperagakan, monyet-monyet ini tidak akan melepaskannya. Mereka bergantung di dada dan menghisap susu dari dadanya. Pernahkah engkau memperhatikan hal ini?

Lihatlah orang yang berada di sana! Seluruh monyet bumi, pikiran, nafsu, gelar, agama, dan filsafat telah menggayuti orang itu untuk waktu yang lama. Tapi dia juga bergantung pada monyet-monyet tersebut, ketika mereka berayun-ayun dari satu tempat ke tempat lain.

Lihatlah! Dia akhirnya dapat melepaskan genggamannya dari monyet-monyet itu! Dia telah jatuh, dan seluruh manusia monyet lainnya berkumpul bersama untuk menyerang, menggigit, dan mengejarnya. Karena dirinya membiarkan mereka pergi, mereka tidak ingin dirinya tetap hidup. Dia melanggar aturan-aturan mereka dan menjadi manusia. Sekarang dia diasingkan dan sendirian, dan dunia tidak akan lagi menerimanya.

Dengan meninggalkan sarang mereka, dirinya meninggalkan manusia-manusia monyet ini, dalam kendali hutan mereka. Dia menyeberang sungai dan pergi. Sekarang dirinya menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia ini mencari Tuhan, pencarian pada satu tujuan.

Cucu-cucuku, mari kita belajar dari hukum-hukum manusia kera ini barang sebentar saja. Jika engkau menerima dan bergantung pada perbedaan warna, suku, dan agama, engkau akan diterima oleh kelompokmu. Inilah hukum dari manusia kera. Tetapi jika engkau lepas dari penguasaannya, mereka akan segera menggigitmu. Segera setelah engkau tanggalkan perbedaan-perbedaan ini dan pergi meninggalkan hukum mereka, mereka akan menyerang dan melemparimu.

Kasihku padamu, anak-anakku. Pikirkanlah sejenak hal ini! Jika engkau menolak untuk belajar tentang hukum-hukum yang ada di dunia dan mencoba untuk pergi melewati batas dari hukum tersebut, engkau akan berada dalam bahaya. Orang-orang yang ada di dunia seperti ini akan memangsamu, memukul, serta menejarmu.

Memang ini sungguh sulit, tapi engkau harus tetap berusaha untuk melarikan diri dari dunia tersebut dan pergi mencari Penuntunmu. Engkau tidak akan menemukan-Nya di belahan dunia mana pun. Dialah Pribadi yang menganggap seluruh kehidupan sebagai milik-Nya. Dia adalah Harta yang tidak memiliki perbedaan atau pemisahan. Dia satu-satunya yang akan melindungimu.

Tetapi sebagian manusia bergantung pada istana duniawi ini, yang membawa keangkuhan diri di punggung mereka. Sedangkan yang lainnya bergantung pada semua kecintaan yang terdapat di dada mereka. Sangat sulit untuk mengatakan apakah mereka manusia atau monyet.

Namun, manusia akan melangkah terus jika dirinya dapat melarikan diri dari lingkaran-lingkaran monyet dan bergantungan erat kepada Dzat Yang ingin menolongnya pada saat dirinya dalam bahaya. Pahamilah hal ini dan berjalanlah di jalan-Nya!

Kasihku padamu, anak-anakku. Semoga Tuhan melindungi dan membawamu ke jalan-Nya. Amin.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini