HEADLINE >> SOSOK

Sang Suksesor Kepemimpinan Tebuireng (3-Habis): Ulama Pengusaha Migas

Oleh: Prima Sp Vardhana

KENDATI besar dan kental pendidikan pesantren, Gus Kikin saat lulus Madrasah Aliyah justru melanjutkan ke Akademi Pelayaran di Jakarta. Sampai selesai. Sampai memiliki kemampuan mengemudikan kapal.

Setamat akademi itu Gus Kikin berkarir di BUMN. Menjadi pegawai Djakarta Lloyd. Dengan karir yang moncer pula. Umur 30 tahun sudah menjadi kepala cabang di Cilegon. Itulah masa jaya Djakarta Lloyd. Dengan grup band terkemukanya, D’Lloyd. Setelah lebih 10 tahun di Djakarta Lloyd –dan pindah-pindah ke beberapa cabang– Gus Kikin pun keluar.

“Saya melihat ada yang tidak sehat di situ. Suatu saat akan bahaya,” ujar beliau.

Saat kelak Djakarta Lloyd benar-benar di bibir kebangkrutannya, Gus Kikin sudah lama jadi pengusaha. Eksportir. Yang diekspor adalah komoditi seperti pinang, minyak atsiri, dan banyak lagi. Tujuan utamanya Korea Selatan. Belakangan Gus Kikin punya usaha minyak dan gas bumi. Sumur pertama gasnya ada di Madura. Tepatnya di Sumenep.

Pengusaha mapan di bidang minyak dan gas bumi ini adalah pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML). Sebuah perusahaan migas nasional yang diberi amanat mengelola South East Madura Block. Wilayah kerja yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) ini meliputi wilayah Sumenep dan Situbondo. Saat ini, PT EML telah melakukan pengeboran dua sumur eksplorasi yang diberi nama Sumur ENC-01 dan ENC-02. Kedua sumur tersebut terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Saat upacara penajakan Sumur Eksplorasi ENC-01, hampir sewindu lalu tepatnya 3 April 2012, Gus Sholah yang hadir dengan beberapa kiai mengatakan, sumur tersebut adalah sumur migas pertama di Indonesia yang dimiliki oleh santri. Upacara penajakan tersebut juga dihadiri beberapa purnawirawan jenderal yang dipimpin oleh Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan.

Pada 9 September 2018, PT EML kembali melanjutkan pengeboran Sumur Eksplorasi ENC-02. Menurut General Manager EML Sopandi Tossin, target kedalaman sumur eksplorasi ini direncanakan mencapai sekitar 9.800 kaki. Diperkirakan besar sumber daya sekitar 70 juta barel minyak.

Eksplorasi tersebut dan akan menembus beberapa jenis lapisan batuan. Selain untuk mendapatkan data bawah permukaan dari jenis batuan dan unsur geologi lainnya, kegiatan tersebut juga untuk membuktikan keberadaan hidrokarbon yang ekonomis di perut bumi Sumenep.

Kegiatan pengeboran yang berlangsung selama 210 hari dan berakhir pada 6 April 2019 tersebut, akhirnya berhasil menemukan potensi hidrokarbon. Yang lebih menggembirakan, status sumur yang berhasil menembus kedalaman 7.289 kaki tersebut dinyatakan sebagai sumur penemu minyak dan gas (oil and gas discovery).

Prestasi yang dibukukan Gus Kikin sebagai pengusaha migas, sangatlah mengejutkan dan membanggakan para santri. Mampu membuktikan diri, bahwa santri juga mampu menjadi penguaha migas yang sukses dan cerdas.

Dan Kini Gus Kikin menjadi kiai utama di Tebuireng. Waktunya pun kini akan terbagi di tiga lokasi yaitu Pesantren Tebuireng, lokasi sumur minyak dan gas di Sumenep-Madura, kantor EML perwakilan Surabaya, dan kantor EML Pusat di Jakarta.

Sosok Gus Kikin ini, mungkin merupakan babak baru dunia perkiaian Indonesia. (*)

Berita Terkait

Komentar