Rumah

Langkah Antisipasi Kebakaran Bangunan Vital

IM.com – Survey membuktikan, bahwa penyebab kebakaran terbesar karena hubungan arus pendek listrik dan kompor atau tabung LPG yang meledak. Dengan demikian kita bisa memfokuskan pada dua masalah ini, namun bukan berarti kita mengabaikan penyebab yang lain.

Seperti musim kemarau biasanya akan diikuti tanah dan ilalang yang mengering serta air sungai, bozem dan sejenisnya mengalami penyusutan secara drastis. Maka, jika terjadi kebakaran akan sulit pemadamannya karena sumber airnya atau ketersediaan air sedikit.

“Hal yang harus diingat bahwa dalam penyelamatan kebakaran tidak hanya aspek nyawa kita tapi juga aset yang dimiliki untuk menjaga kerbelangsungan aktivitas. Penyelamtan diri dan aset tidak akan mungkin kalau tidak ada komitmen, persipan dan latihan terjadwal,” demikiran penuturan Dr. Ir Amien Widodo M.Si Dosen ITS Surabaya.

Perlu diketahui, bahwasanya kerusakan akibat kebakaran sungguh sangat besar, apalagi kalau yang terbakar sebuah bangunan atau kantor vital yang menyimpan aset-aset vital dan startegis. Kerugian bisa sangat besar kalau dalam pemulihan dan rekkonstruksi membutuhkan waktu lama.

Peristiwa kebakaran itu memang unik, hampir semua orang memaklumi keadaanya, mereka hampir sepakat tidak ada yang salah, walau rumah-rumah mereka rata dengan tanah. Toleransi dan kesepakatan bersama bahwa kebakaran adalah musibah menyebabkan kita tidak pernah berlajar dari kesalahan.

Sebagai langkah antisipasi, Amien Widodo menyampaikan lima langkah. Pertama pimpinan tertinggi kantor itu segera membuat komitmen untuk membentuk Tim Keselamatan dan harus segera diikuti setiap bagian, unit, laboratorium dan lainnya. Tujuan utama tim Ini jelas mengurangi segala risiko kebakaran.

Kalau perlu segera ditetapkan ”Mulai hari ini tidak boleh ada lagi aksiden kebakaran” Artinya seluruh tim yang ada di bagian, unit, laboratorium dan lainnya segera berbenah diri. “Kenapa Tim Keselamatan?.” tanya Amien Widodo seraya menjelaskan, karena aksiden itu tidak hanya kebakaran saja, bisa saja ada kerusuhan, tawuran mahasiswa, teroris, gempa dan lain lain.

Kedua, segera lakukan identifikasi dan menilai kemampuan dari masing-masing sumber daya manusia yang dimiliki, mungkin ada yang pernah dilatih/punya sertifikat ahli kebakaran atau ada bekerja yang dari PLN dll. Ketiga, Kemudian Tim segera mendiskusikan tentang penyebab dan pemicu kebakaran bersama ahlinya (PMK,PLN,PN Gas dan expert lainnya) dan cara-cara mengatasinya. Rencanakan pula melakukan peninjauan dan pemeriksaan langsung ke ruang ruang, apakah sudah sesuai dengan aturan.

Keempat, bersama PMK latihan penyelamatan dan evakuasi kebakaran, mengingat banyak yang tidak tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran, dan terakhir, rencanakan upaya pemantauan, evaluasi dan perawatan khusunya bagi ruangan dan atau barang yang rawan terbakar.

Hal ini juga berlaku bagi stasiun radio atau televisi, kompleks pertokoan, mall, pasar, restoran besar, perkantoran, sekolahan, kampus, dll. Mestinya kompleks ini lebih terorganisir karena pengelola kompleks bisa disalahkan kalau terjadi accident atau kecelakaan. Misalnya kebakaran pasar, pengelola pasar bisa disalahkan kalau tidak punya SOP pemantauan, pemeliharaan dan penindakan rutin pada setiap kios pasar yang memasang atau menambah kabell listrik sembarangan. (uyo)

Berita Terkait

Komentar