HEADLINE >> SOSOK

Seorang Guru di Mojokerto Mengabdikan Jadi Relawan

IM.com – Hari guru nasional diperingati tepat Senin (25/11-2019) menjadi bentuk apresiasi terhadap para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang telah mengabdikan dan mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Adalah Agus Wahyu Cahyono (39) guru SDN Bangun, Kecamatan Pungging Mojokerto yang sudah bertahun – tahun mengabdikan dirinya di dunia pendidikan khususnya di Kabupaten Mojokerto.

Lahir dari keluarga sederhana, Agus kecil tidak pernah mempunyai cita – cita menjadi guru. “Saya enggak pernah terbayang bisa menjadi guru. Karena sejak kecil saya hidup bukan dari keluarga pendidik, ” ujarnya saat ditemui di rumahnya di Sarirejo Gg 8 No 6, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Mojosari, Mojokerto.

Setelah lulus SMA dirinya melanjutkan ke Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya dan lulus pada tahun 2004. Agus kali pertama mengabdikan dirinya sebagai pendidik di SDN Purworejo selama delapan tahun. Selanjutnya, pindah ke SDN Bangun hingga kini. ” Saya sudah 17 tahun menjadi pendidik di Mojokerto, ” ujarnya.

Jiwa pendidik yang sudah tertanam didirinya ternyata memberikan dorongan kuat untuk ingin lebih mengabdikan dirinya di kegiatan – kegiatan sosial dan kemanusiaan. Besarnya dorongan itu pula yang melangkahkan kakinya bergabung ke sebuah komunitas relawan di Mojokerto.

Pada tahun 2012 dirinya kali pertama mengenal dunia relawan di bawah bendera Semangat Masyarakat Relawan (Semar) Mojokerto. Saat menjadi relawan Semar, dirinya mendapat pengalaman berkesan sebagai relawan yang langsung berinteraksi dengan korban bencana.

Diceritakan Agus, pada 2012 di Mojoagung, Mojokerto dirinya bertugas sebagai relawan membantu para korban banjir bandang di Kaligunting, Mojoagung. “Saat itu merupakan tugas kali pertama saya menjadi relawan. Di tengah banjir bandang, saya harus mengevakuasi warga menggunakan perahu karet. Padahal ketinggian air sekitar 160 meter. Saat itu enggak bisa membayangkan, tapi saya harus tetap berjuang mengevakuasi korban banjir bandang tersebut agar bisa segera mendapat pertolongan, ” cerita Agus.

Dari pengalaman tersebut, ia merasakan begitu besarnya dibutuhkan kehadiran tenaga relawan di tengah para korban yang terkena musibah. Dan sejak itu, dirinya bertekad pengabdian dan dedikasinya tidak sekadar di dunia pendidikan. Agus ingin berpartisipasi lebih dalam dunia relawan.

Dan pada 2015 dirinya mendeklarasikan sebuah komunitas relawan dengan nama Info Seputar Mojosari (ISM). Sebuah komunitas yang terlibat di berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan di Mojokerto. Sejak terbentuk hingga kini ISM sudah beranggotakan sekitar 282 personel dari berbagai unsur.

“Kami di ISM selalu memberikan dukungan di berbagai kegiatan di Mojokerto khususnya kegiatan yang bersifat sosial dan kemanusiaan, ” ujarnya.

Lantas bagaimana dengan rutinitasnya sebagai pendidik dan keaktifannya di ISM. “Selalu saya sampaikan ke seluruh anggota ISM, bila memiliki pekerjaan utama maka kami selalu tekankan agar didahulukan kewajiban utamanya. Untuk kegiatan di ISM akan didukung anggota lain yang sedang longgar. Begitu juga saya terapkan pada diri saya sendiri. Mengajar tetap diutamakan, bila ada kejadian saya akan membantu mengkondisikan rekan – rekan di lokasi dari sekolah, ” bebernya.

“Sejak aktif di ISM, seakan – akan saya menemukan hobi baru yakni sebagai relawan, ” kata suami dari Pratiwi (35).

Lantas bagaimana dengan kesejahteraan yang diperolehnya dari profesinya sebagai guru. “Saya akui, guru di era sekarang kehidupannya lebih layak. Dan dari gaji sebagai guru dibantu istri saya membuka toko klontong, aktifitas sebagai relawan saya lakoni dengan ikhlas. Jadi anggota ISM itu harus rela menyumbangkan tenaga dan material, jangan mengharapkan lebih, ” tegasnya.

Diceritakan Agus, dirinya pernah berkesempatan membantu sebuah mobil penumpang dari satu sekolah menengah atas di Mojosari yang mengalami rem blong. “Setelah kejadian itu, saya dipanggil pihak sekolah dan disodori sebuah amplop berisi uang tanda terima kasih. Saya terima, tapi saya kembalikan lagi ke pihak sekolah. Saya sarankan bantuan itu diwujudkan peralatan buat anggota ISM. Akhirnya pihak sekolah tersebut membelikan sejumlah helm rescue, ” cerita ayah dari dua anak yakni Muhammad Eki Septiawan (15) dan Novani Dewi Arum Wulandari (10).

Sebagai relawan yang memiliki pengetahuan sebagai pendidik, memudahkan dirinya untuk berinteraksi melakukan berbagai komunikasi dengan korban di lokasi bencana.

“Sebagai guru dan relawan saya sering mengedukasi kepada anak didik agar menumbuhkan jiwa nasionalisme mereka, kepedulian terhadap sesama serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Dunia pendidik dan relawan tak jauh berbeda. Sama – sama mengabdikan diri, ” ujar Agus yang sekaligus menjadi Ketua ISM.

Dengan keaktifannya di ISM dan masih aktif menjadi guru, ia menjadi inspirasi buat sebagian mantan siswanya. “Ada sejumlah anggota ISM yang dulu anak didik saya,” ceritanya.

Diharapkan, di Hari Guru Nasional tahun ini para guru yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bisa menginspirasi dan mengabdikan diri tidak sekadar di dunia pendidikan. Agar Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia bisa lebih unggul dan maju (rei/uyo)

Berita Terkait

Komentar