IM.com – Juni Soekendar tak pernah menaruh ambisi besar di dunia seni rupa. Ia lebih memilih berjalan di jalur sunyi, menekuni kanvas, menyelami warna, dan menghadirkan bunga sebagai bahasa jiwanya.
Sejak muda dia terbiasa hidup di lingkungan yang akrab dengan seni. Hanya saja perjalanan panjang sebagai pelukis tak selalu mulus. Jatuh bangun, kegelisahan dan pencarian makna sempat mewarnai langkahnya.
Bagi Juni, melukis adalah cara menjaga keseimbangan hidup. Ia dikenal sederhana, tenang, dan lebih suka mengekspresikan isi hatinya lewat sapuan kuas daripada kata-kata.
“Saya ingin melukis yang bisa saya rasakan, bukan sekadar memenuhi selera pasar,” ungkapnya. Prinsip ini membuat karyanya selalu jujur dan personal.
Tema bunga yang ia pilih bukan tanpa alasan. Baginya, bunga adalah simbol siklus hidup, lahir, mekar, layu dan kembali hadir. Dalam kelopak yang rapuh tersimpan pesan tentang keteguhan. Karena itu, bunga dalam lukisan Juni bukan sekadar dekorasi, melainkan refleksi kehidupan.
Karya-karyanya memancarkan rasa. Bunga merah dalam kontras gelap memberi letupan energi. Sementara bunga putih bernuansa emas menghadirkan ketenangan spiritual. Permainan cahaya dan warna yang diolah Juni menciptakan kedalaman rasa yang bisa langsung menyentuh penonton.
Melihat karya Juni berarti memahami dirinya, sederhana, tenang, apa adanya. Justru dalam kesahajaan itulah keindahan bunga-bunganya terasa mengesankan. (kim)