Arsitek Andy Rahman menjelaskan filosofi dan proses kreatif karya instalasi “Cakra Manggilingan” dalam Wicara Seniman ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (3/10/2026).

inilahmojokerto.com – Sebuah lingkaran bata menyambut pengunjung ketika memasuki ruang pamer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya. Sekilas, susunan material itu tampak seperti struktur bangunan yang belum selesai. Namun, ketika diamati lebih dekat, ribuan keping bata tersebut justru membawa gagasan tentang perjalanan hidup manusia.

Karya itu adalah “Cakra Manggilingan”, instalasi arsitektur karya Andy Rahman. Berada di pintu masuk ruang pamer, karya tersebut menjadi salah satu penanda pertemuan antara arsitektur dan seni rupa kontemporer dalam perhelatan ARTSUBS 2026.

Susunan bata yang membentuk konfigurasi melingkar dengan sejumlah bata seolah melayang di bagian tengah tidak sekadar menawarkan pengalaman visual. Di balik bentuknya, Andy menyisipkan filosofi tentang kehidupan yang terus berputar—manusia berada dalam siklus naik dan turun, sehingga tidak semestinya larut dalam kesombongan ketika berada di atas maupun kehilangan rasa syukur ketika berada di bawah.

“Cakra Manggilingan” juga berbicara tentang hubungan manusia dengan alam, hubungan antarmanusia, sekaligus hubungan manusia dengan Tuhan. Lingkaran menjadi bahasa visual untuk menggambarkan siklus kehidupan dan keterhubungan tersebut.

Gagasan itu menjadi semakin menarik ketika ditempatkan dalam konteks tema ARTSUBS 2026: Border, Threshold, Beyond. Karya Andy berada pada wilayah Beyond, karena hadir dari seorang arsitek yang memasuki ruang seni rupa dan membawa pengetahuan arsitektur ke dalam bentuk karya instalasi.

Pengalaman tersebut diakui Andy sebagai sesuatu yang baru. Dalam Wicara Seniman di selasar Balai Budaya, Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (3/10/2026), ia menceritakan bagaimana latar belakangnya sebagai arsitek memengaruhi proses penciptaan karya tersebut.

Bagi Andy, terdapat perbedaan mendasar antara merancang bangunan dan menciptakan karya untuk ruang pamer. Arsitektur pada umumnya berangkat dari kebutuhan dan fungsi, sementara instalasi seni memiliki kebebasan lebih besar dalam menyampaikan gagasan.

“Ketika masuk ke pameran seni, instalasi sudah tidak lagi berbicara soal fungsi, melainkan spesifik sebagai karya seni. Sebagai arsitek, seseorang tidak serta-merta menjadi seniman,” kata Andy.

Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tahun 2004 itu mengatakan, kecintaannya terhadap seni menjadi salah satu pintu untuk mengeksplorasi sisi kreatifnya. Namun, pengalaman dan cara berpikir sebagai arsitek tetap menjadi bagian penting dalam proses penciptaan.

Andy sendiri dikenal melalui praktik arsitekturnya bersama biro Andyrahman Architect, yang didirikannya bersama Abdi Manaf pada 2006. Ia juga pernah masuk nominasi ArchDaily Building of the Year.

Di balik bentuk sederhana “Cakra Manggilingan”, terdapat proses penciptaan yang cukup panjang. Sekitar 1.800 keping bata dibuat menggunakan mesin CNC berdasarkan desain yang telah dipersiapkan.

Tidak hanya bentuk, pencahayaan juga dirancang secara khusus untuk memperkuat karakter instalasi. Cahaya menjadi bagian dari pengalaman ruang, sekaligus membantu menegaskan hubungan antara material, bentuk, dan gagasan yang ingin disampaikan.

Namun, perhatian Andy terhadap material tidak berhenti pada aspek estetika.

Dalam praktik arsitekturnya, material menjadi salah satu persoalan yang terus ia eksplorasi. Ia menyoroti penggunaan bata konvensional berbahan tanah liat yang pada skala tertentu berhubungan dengan eksploitasi sumber daya alam.

Dari persoalan tersebut, Andy kemudian mengeksplorasi kemungkinan material alternatif, termasuk terakota yang dikombinasikan dengan PVC dan plastik limbah.

Eksperimen itu memperlihatkan bahwa material bangunan tidak hanya dapat dipandang dari sisi fungsi konstruksi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjawab persoalan lingkungan.

Karena itu, “Cakra Manggilingan” tidak berhenti sebagai objek artistik di ruang pamer. Karya tersebut sekaligus menjadi ruang eksperimen yang mempertemukan arsitektur, seni, material, tradisi Nusantara, dan gagasan keberlanjutan.

Kurator ARTSUBS, Asmudjo Irianto, yang menjadi moderator dalam Wicara Seniman, melihat Andy sebagai salah satu arsitek asal Surabaya yang memiliki identitas kuat dalam praktik arsitekturnya.

Menurut Asmudjo, kualitas artistik dalam karya yang memiliki fungsi dapat lahir dari pertemuan antara pengetahuan teknis, pendekatan personal, dan estetika.

Dalam konteks ARTSUBS 2026, perjalanan Andy menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana batas antar-disiplin dapat menjadi lebih cair. Arsitektur tidak harus selalu berakhir sebagai bangunan, sementara seni rupa tidak selalu harus lahir dari seniman yang bekerja dalam disiplin seni secara konvensional.

“Cakra Manggilingan” justru lahir dari pertemuan keduanya.

Di satu sisi, karya itu masih membawa jejak kuat arsitektur melalui material, struktur, ruang, dan teknik pembuatannya. Di sisi lain, ketika ditempatkan dalam ruang pamer, bata-bata tersebut berubah menjadi bahasa artistik yang mengajak pengunjung membaca kembali makna kehidupan.

Pada titik inilah karya Andy menemukan relevansinya dengan semangat Beyond dalam ARTSUBS 2026: melampaui batas profesi, melampaui fungsi material, dan melampaui cara pandang bahwa arsitektur hanya berakhir pada sebuah bangunan.

Melalui “Cakra Manggilingan”, Andy Rahman menunjukkan bahwa material yang selama ini dianggap bagian dari konstruksi dapat berubah menjadi medium untuk menyampaikan refleksi tentang manusia, alam, Tuhan, dan keberlanjutan.

Sebuah karya yang pada akhirnya tidak hanya mengajak pengunjung melihat, tetapi juga mempertanyakan kembali posisi manusia dalam siklus kehidupan yang terus berputar.

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini