
inilahmojokerto.com – Spanduk, desain kaus, dan tata letak grafis menjadi bagian dari keseharian Garis Edelweiss sebelum namanya dikenal di dunia seni rupa. Dari pekerjaan yang dekat dengan kebutuhan komersial itu, seniman asal Pasuruan ini membangun perjalanan kreatif hingga menembus jejaring seni nasional dan meraih penghargaan dalam ajang seni internasional.
Garis, yang lahir di Pasuruan pada 1984 dengan nama Garis Kabe Muslim, mengaku tidak pernah merancang jalan hidupnya untuk menjadi perupa. Ia lebih dahulu bekerja sebagai desainer grafis, bidang yang membuatnya akrab dengan bentuk, garis, komposisi, dan berbagai kemungkinan visual.
Namun, dunia desain ternyata bukan satu-satunya ruang untuk mengembangkan imajinasinya.
Perkenalannya dengan dunia pameran pada 2012 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Saat itu, ia mengikuti pameran yang digagas lima orang, termasuk ayahnya yang juga seorang pelukis.
Pengalaman pertamanya sebagai peserta pameran tidak berlangsung dengan bekal pengetahuan yang matang tentang dunia seni rupa. Ia masih meraba bagaimana sebuah pameran bekerja dan bagaimana menempatkan dirinya sebagai seniman.
Dari pengalaman itulah, Garis mulai membawa berbagai objek yang hidup dalam imajinasinya ke dalam karya. Pekerjaan desain yang semula menjadi aktivitas profesional perlahan berjalan beriringan dengan praktik seni rupa.
Ia kemudian bergabung dengan KGSB atau Komunitas Guru Seni dan Perupa Pasuruan serta mengikuti kegiatan pameran tahunan Gandeng Renteng. Komunitas lokal menjadi ruang untuk bertemu dengan perupa lain, bertukar gagasan, dan membangun keberanian untuk terus berkarya.
Dari sana, perjalanan Garis berkembang melampaui lingkungan tempat ia memulai karier.
Salah satu langkah yang berdampak besar justru datang dari keputusan sederhana: mengubah akun Instagram pribadinya menjadi ruang khusus untuk menampilkan gambar dan karya seni.
Konten personal ia singkirkan, lalu akun tersebut diarahkan untuk memperlihatkan perkembangan praktik artistiknya. Media sosial yang semula digunakan untuk berbagi kehidupan sehari-hari berubah menjadi semacam galeri tanpa dinding.
Langkah tersebut membuka kemungkinan bagi karyanya untuk ditemukan oleh orang-orang di luar lingkaran pergaulannya di Pasuruan.
Dalam perjalanan itu, Garis mendapat perhatian Heri Pemad, Direktur Artjog, yang kemudian menghubunginya dan mengundangnya untuk berpartisipasi dalam Artjog.
Pengalaman tersebut memperlihatkan perubahan cara seniman memperkenalkan karya. Jika sebelumnya kesempatan berpameran banyak bergantung pada pertemuan langsung dan jaringan komunitas, ruang digital memungkinkan karya menjangkau calon kolaborator maupun penyelenggara pameran yang berada jauh dari tempat tinggal seniman.
Bagi Garis, internet bukan sekadar tempat mengunggah gambar. Ia menjadi bagian dari proses membangun keberadaan dan memperluas jangkauan karya.
Perkembangan Garis juga terlihat dalam eksplorasi visualnya. Pada periode awal, ia banyak menghasilkan karya monokrom. Perubahan penting terjadi sekitar 2021, ketika ia mulai mengeksplorasi warna secara lebih intensif.
Pada periode yang sama, Garis memasuki ekosistem NFT atau non-fungible token, yang ketika itu berkembang pesat sebagai salah satu ruang distribusi karya digital. Pengalaman tersebut membawanya berhadapan dengan kemungkinan baru dalam penggunaan warna dan medium.
Ia menjalani periode yang intens di ekosistem NFT hingga akhir 2023. Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya, dari kebiasaan bekerja dengan visual untuk kebutuhan desain hingga menjelajahi kemungkinan seni dalam medium digital.
Salah satu pencapaian pentingnya datang pada 2023. Karyanya berjudul The Healer meraih penghargaan iCanvas Digital Art Award dalam ajang Beautiful Bizarre Art Prize.
Penghargaan tersebut menjadi penanda penting dalam perjalanan Garis, yang memulai praktiknya dari Pasuruan dan membangun jejaring melalui komunitas serta media digital.
Kisahnya kembali dibicarakan dalam Wicara Seniman di Balai Budaya, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (17/10/2026), sebagai bagian dari program publik ARTSUBS 2026. Dalam diskusi yang dipandu kurator Nirwan Dewanto itu, Garis berbagi pengalaman bersama Ufa Faizah dari Situbondo dan Dwi Januartanto dari Lamongan.
Ketiganya merupakan peserta pameran seni kontemporer ARTSUBS 2026 yang berlangsung di Balai Pemuda hingga 8 November 2026.
Pertemuan itu turut membuka pembicaraan mengenai posisi seniman yang berkarya dari luar pusat-pusat seni rupa Indonesia. Pasuruan, Situbondo, dan Lamongan bukan kota yang selama ini identik dengan pusat percakapan seni rupa kontemporer nasional. Namun, pengalaman para seniman tersebut memperlihatkan bahwa jarak geografis tidak selalu menentukan sejauh mana karya dapat bergerak.
Perjalanan Garis menunjukkan bahwa membangun karier seni membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan visual. Komunitas, konsistensi berkarya, keberanian mencoba medium baru, dan kemampuan memanfaatkan ruang digital ikut membentuk jalannya.
Dari pekerjaan desain yang menuntut pesan tersampaikan secara cepat, Garis menemukan ruang lain untuk mengembangkan imajinasi yang tidak selalu harus memberikan jawaban langsung.
Perjalanannya dari Pasuruan menuju jejaring seni yang lebih luas memperlihatkan bagaimana sebuah praktik kreatif dapat berkembang melalui banyak pintu. Bukan hanya dari institusi besar, melainkan juga dari komunitas lokal, media sosial, dan keberanian memperlihatkan karya kepada publik.











































