Karya Jelma dan Temu beserta Cangkang karya Garis Edelweiss dalam pameran seni kontemporer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda, Surabaya.

inilahmojokerto.com – Dua karya Garis Edelweiss di ARTSUBS 2026 tidak sepenuhnya disajikan secara terbuka. Sebagian permukaannya justru tersembunyi di dalam kotak bergambar, membuat pengunjung harus mendekat untuk melihat apa yang ada di baliknya.

Cara penyajian itu bukan sekadar urusan teknis memajang karya. Bagi seniman asal Pasuruan tersebut, kemasan dapat menjadi bagian dari gagasan artistik yang mengatur bagaimana penonton berhadapan dengan karya.

Di Balai Pemuda, Surabaya, Garis menghadirkan karya berjudul Jelma dan Temu. Keduanya menggunakan grafit di atas kanvas berukuran 60 x 50 sentimeter serta spidol di atas plywood. Kotak yang membungkus dan menyertai penyajian karya itu juga memiliki judul tersendiri: Cangkang.

Ketiganya membentuk pengalaman melihat yang berbeda dari kebiasaan pengunjung ketika memasuki ruang pameran. Karya tidak seluruhnya disodorkan untuk dinikmati dalam satu pandangan. Ada bagian yang harus ditemukan terlebih dahulu.

Bagi sebagian orang, penyajian semacam itu mungkin terkesan menutup akses terhadap karya. Namun, dalam pendekatan Garis, justru rasa penasaran menjadi bagian dari pengalaman artistik.

Penonton tidak hanya berhadapan dengan objek yang telah selesai dibuat. Mereka juga berhadapan dengan cara objek itu dihadirkan, bagian yang terlihat, dan bagian yang masih tersembunyi.

Dalam dunia seni rupa, bingkai, ruang, pencahayaan, dan cara sebuah karya dipajang dapat memengaruhi pengalaman penonton. Pada karya Garis, gagasan tersebut berkembang melalui penggunaan kotak yang tidak sekadar berfungsi sebagai pelindung atau pembungkus.

Cangkang menjadi bagian tersendiri dari keseluruhan penyajian. Kehadirannya mengubah hubungan antara karya dan orang yang melihatnya.

Alih-alih memberikan seluruh informasi secara langsung, penyajian itu membuka ruang bagi penonton untuk mengamati lebih dekat. Rasa ingin tahu menjadi dorongan untuk mencari tahu apa yang tersembunyi di balik kemasan.

Pendekatan ini juga menggeser peran penonton. Mereka tidak hanya menerima gambar yang terpampang di hadapan mata, tetapi ikut menjalani proses menemukan.

Ada perbedaan antara melihat karya secara sekilas dan meluangkan waktu untuk mendekatinya. Dalam penyajian seperti ini, perhatian penonton menjadi bagian penting dari pengalaman menikmati karya.

Judul Jelma, Temu, dan Cangkang pun menawarkan titik awal untuk membaca hubungan antara objek, keberadaan, dan sesuatu yang berada di balik permukaan. Namun, pemaknaan lebih jauh terhadap masing-masing karya tetap perlu merujuk pada penjelasan Garis mengenai gagasan yang mendasarinya.

Pendekatan Garis terhadap penyajian karya tidak dapat dilepaskan dari latar belakangnya sebagai desainer grafis. Sebelum dikenal sebagai perupa, ia bekerja membuat berbagai kebutuhan visual, mulai dari spanduk, desain kaus, hingga tata letak.

Pengalaman tersebut membuatnya akrab dengan cara mengatur elemen visual agar dapat dilihat dan dibaca. Namun, dalam seni rupa, visual tidak selalu harus menyampaikan pesan secara langsung.

Garis mulai mengikuti pameran pada 2012. Ia kemudian bergabung dengan Komunitas Guru Seni dan Perupa Pasuruan serta mengikuti kegiatan pameran tahunan Gandeng Renteng. Sejak itu, pekerjaan desain dan praktik seni rupanya berkembang berdampingan.

Perjalanan artistiknya juga mencakup perubahan pendekatan visual. Setelah banyak menghasilkan karya monokrom, ia mulai mengeksplorasi warna secara lebih intensif pada 2021. Pengalamannya dalam ekosistem NFT turut memperluas perjumpaannya dengan medium digital.

Pada 2023, karya The Healer meraih iCanvas Digital Art Award dalam ajang Beautiful Bizarre Art Prize. Pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak dalam perjalanan Garis dari Pasuruan menuju jejaring seni yang lebih luas.

Di ARTSUBS 2026, perhatian kembali diarahkan pada bagaimana ia mengolah hubungan antara karya dan penonton. Kali ini, bukan hanya gambar atau medium yang menjadi perhatian, melainkan juga cara karya itu ditempatkan di ruang pamer.

Karya-karya tersebut menjadi bagian dari pameran seni kontemporer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda, Surabaya, yang berlangsung hingga 8 November 2026.

Dalam Wicara Seniman pada Sabtu (17/10/2026), Garis juga membagikan perjalanan keseniannya bersama Ufa Faizah dari Situbondo dan Dwi Januartanto dari Lamongan. Diskusi yang dipandu kurator Nirwan Dewanto itu membahas pengalaman ketiga seniman yang membangun praktik kreatif dari luar pusat utama seni rupa Indonesia.

Kisah Garis memperlihatkan bahwa proses berkarya tidak selalu berakhir pada benda yang selesai dibuat. Cara sebuah karya ditempatkan, diperlihatkan, atau sebagian disembunyikan juga dapat memengaruhi bagaimana publik mengalaminya.

Melalui Jelma, Temu, dan Cangkang, pengunjung dihadapkan pada sebuah pilihan sederhana: cukup melihat apa yang tampak, atau mendekat untuk menemukan lebih banyak.

Di ruang pamer itu, melihat bukan lagi sekadar kegiatan menerima gambar. Ia menjadi proses mencari, memperhatikan, dan menyusun kemungkinan makna.

11

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini