Masjid Baitul Muslimin yang berada di Gang Kauman 1, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto adalah salah satu masjid tertua yang dibangun sekitar tiga abad yang lalu.

inilahmojokerto.com – Sejarah sebuah kota tidak selalu tersimpan dalam buku atau museum. Rumah tua, bekas bangunan industri, pasar, tempat ibadah, hingga nama jalan juga menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Jejak-jejak itulah yang akan ditelusuri melalui Tour de Historia Seri 2 Mojosari, Minggu (25/10/2026). Kegiatan berjalan kaki ini mengajak peserta mengenali sejarah lokal sekaligus mendengarkan kisah warga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perjalanan dijadwalkan berlangsung pukul 06.30–08.30 WIB dengan titik awal dan akhir di PerumDAM Mojopahit, Jalan Pahlawan, Mojosari.

Cak Gangsar menjadi pemandu dalam perjalanan menyusuri sejumlah lokasi bersejarah di kawasan tersebut.

Rute yang disiapkan mencakup 12 titik, mulai dari bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Mojosari, rumah Martawi Soeroso di Jalan Airlangga, Masjid Baitul Muslimin di Kauman, kawasan Widya Gama dan Kampung London–Paris, hingga Kantor Pos dan Telegraf.

Peserta juga akan melewati Jalan Niaga, Kampung Pecinan, Pasar Pon Sawahan, GKI Mojosari, rumah Mbah Malik di Jalan Pahlawan, serta Makam Pahlawan sebelum kembali ke titik keberangkatan.

Rumah Tua dan Kisah Pejuang dari Mojosari

Salah satu cerita yang diangkat dalam perjalanan ini adalah Martawi Soeroso, putra Mojosari yang dikisahkan pernah memimpin Batalyon 503 Mayangkara dan menjadi Bupati Tulungagung.

Rumah Martawi di Jalan Airlangga dibangun pada akhir 1970-an. Bangunan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenal perjalanan hidup seorang prajurit yang terlibat dalam perjuangan setelah Indonesia merdeka.

Dalam cerita lisan yang disampaikan pemandu, Martawi dikenal dengan julukan “Dhug Dheng”, yang menggambarkan sosok yang dianggap kebal senjata. Ia juga dijuluki “Alap-alap” karena mengandalkan informasi intelijen dalam menjalankan tugas.

Ada pula ungkapan yang dikenang dari sosok tersebut, “Sing penting yakin.”

Kisah lain menceritakan pengalamannya dalam pengejaran Musso, pemimpin pemberontakan Madiun 1948. Cerita tentang penangkapan dan pesta daging kuda menjadi bagian dari ingatan lisan yang berkembang di kalangan komunitas.

Kisah-kisah itu menarik untuk ditelusuri, tetapi detail adegan dan dialognya tetap perlu dipahami sebagai cerita lisan yang memerlukan pembandingan dengan arsip sejarah.

Dari Masjid Tua hingga Kampung London dan Paris

Jejak sejarah Mojosari juga terlihat dari keberadaan Masjid Baitul Muslimin di Kauman. Warga setempat mengenalnya sebagai salah satu masjid tertua di Mojosari. Para sesepuh bahkan memperkirakan usianya mencapai sekitar tiga abad.

Meski bangunannya telah mengalami renovasi, menara lama masih menjadi penanda yang dikenali warga. Masjid tersebut memperlihatkan peran Kauman sebagai pusat kehidupan keagamaan masyarakat.

Dari kawasan ini, perjalanan berlanjut ke Sekolah Widya Gama dan Kampung London–Paris. Pemandu akan mengangkat cerita tentang Sutan Takdir Alisjahbana serta perkembangan kawasan yang dikaitkan dengan sejarah industri gula.

Menurut cerita lokal yang dirangkum dalam panduan, kawasan industri tersebut pernah berkaitan dengan Pabrik Gula Koning Willem II.

Bangunannya kemudian disebut beralih fungsi menjadi pabrik beras, sebelum digunakan Pabrik Kertas Eureka Aba yang memproduksi kertas untuk kebutuhan sembahyang masyarakat Tionghoa.

Kehadiran pekerja Eropa dalam cerita perkembangan kawasan itu juga dikaitkan dengan munculnya nama Kampung London dan Paris, yang dalam pelafalan lokal disebut Lenden dan Parés.

Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana sejarah kota tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan, tetapi juga industri, pendidikan, bahasa, dan perjumpaan antarkelompok masyarakat.

Pasar dan Rumah Ibadah Menyimpan Ingatan Kota

Rute berikutnya menyentuh Jalan Niaga, Kampung Pecinan, kawasan pedagang Arab, dan Pasar Pon Sawahan Mojosari.

Panduan kegiatan menyebut peta pendaftaran tanah tahun 1887 telah mencatat lokasi pasar tersebut. Sementara itu, pasar hewan yang dahulu berada di sekitarnya dipindahkan ke Jalan Pemuda pada 1970.

Keberadaan kawasan perdagangan menjadi bagian penting dalam membaca perkembangan Mojosari. Pasar bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang pertemuan warga, pertukaran kabar, dan tumbuhnya hubungan sosial.

Perjalanan juga melewati GKI Mojosari, yang dikenal warga sebagai salah satu gereja tertua di kawasan tersebut, serta rumah Mbah Malik, tokoh Muhammadiyah Mojokerto.

Masjid, gereja, kampung dagang, dan pasar menunjukkan bahwa kehidupan kota dibentuk oleh beragam komunitas dengan latar belakang berbeda.

Di Jalan Masjid, peserta juga diajak memperhatikan rumah-rumah lama, bentuk fasad, pagar, pintu, dan jarak antarrumah. Detail arsitektur itu menjadi petunjuk untuk membaca kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pada zamannya.

Berjalan Kaki untuk Merawat Sejarah Lokal

Tour de Historia Seri 2 Mojosari menempatkan perjalanan kaki sebagai cara sederhana untuk mendekati sejarah.

Peserta tidak hanya berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga diajak mengamati bangunan, mendengar penuturan warga, dan menghubungkan cerita masa lalu dengan kehidupan sekarang.

Sejumlah keterangan dalam panduan bersumber dari cerita komunitas dan pemandu. Karena itu, penelusuran arsip, dokumen lama, serta wawancara dengan narasumber yang kompeten tetap diperlukan agar cerita lokal dapat diperkaya dan diuji secara historis.

Namun, upaya mendokumentasikan ingatan warga memiliki arti tersendiri. Bangunan dapat berubah fungsi, rumah lama bisa direnovasi, dan nama tempat perlahan kehilangan asal-usulnya ketika tidak lagi diceritakan.

Melalui kegiatan ini, Mojosari tidak hanya dipandang sebagai kawasan yang terus tumbuh, tetapi juga sebagai kota yang memiliki lapisan sejarah dan pengalaman manusia.

Sebab, mengenali sejarah sebuah kota tidak cukup dengan mengetahui nama tempat dan tahun kejadian. Ada kehidupan warga, perjuangan, kegiatan ekonomi, serta perjumpaan budaya yang ikut membentuk identitasnya.

Dari PerumDAM Mojopahit hingga Makam Pahlawan, perjalanan ini menjadi ajakan untuk berjalan lebih pelan, mendengarkan lebih seksama, dan melihat Mojosari melalui cerita yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini