
inilahmojokerto.com – Kebesaran Nasirun ternyata tidak hanya tertinggal di atas kanvas. Di balik lukisan-lukisannya yang menyerap tradisi, spiritualitas, dan pergulatan zaman, ada kehidupan yang ia bangun bersama banyak orang. Rumahnya terbuka bagi siapa saja, tangannya ringan memberi, dan percakapan sederhana dengannya kerap menjadi sumber energi bagi sesama seniman.
Ketika pelukis kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, itu meninggal dunia pada 1 Agustus 2026, yang hilang bukan sekadar seorang perupa. Bagi sahabat-sahabatnya, Nasirun adalah tempat berbagi cerita, mencari inspirasi, dan belajar memahami seni sebagai jalan hidup.
Kenangan itu mengemuka dalam diskusi “Mewicarakan Nasirun” di Balai Budaya, Sabtu sore (17/10). Dipandu Nirwan Dewanto, diskusi yang menghadirkan Jumaldi Alfi, Ugo Untoro, serta penulis dan peneliti budaya Sarah Monica tersebut membaca Nasirun bukan hanya sebagai maestro seni rupa, tetapi juga sebagai manusia dengan pengaruh sosial dan spiritual yang kuat.
Nasirun dikenal sebagai seniman ndeso. Ia tidak memegang telepon seluler, tidak bisa menyetir, dan tidak terlalu akrab dengan teknologi. Namun, dari kehidupan yang berakar pada budaya desa itulah ia membangun bahasa seni yang mampu menembus medan seni rupa kontemporer.
Ugo Untoro mengenal Nasirun sejak keduanya menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ugo masuk pada 1988, sedangkan Nasirun lebih dahulu, pada 1987. Kedekatan mereka bermula dari kesamaan latar budaya Banyumasan.
Menurut Ugo, karakter masyarakat Ngapak yang egaliter dan terus terang tercermin dalam diri Nasirun. Ia bisa bergaul dengan berbagai kalangan tanpa terlalu mempersoalkan status sosial.
Berasal dari keluarga keturunan kiai di sebuah desa terpencil di Cilacap, Nasirun merantau ke Yogyakarta dengan mengandalkan tekad dan kemandirian. Ketika lukisan belum menjanjikan penghasilan, ia bahkan mendirikan usaha batik dengan enam pegawai.
Kemampuannya membangun kehidupan bersama kemudian terlihat dari rumahnya di kompleks Bayeman Indah. Tempat itu terbuka bagi seniman, pekerja, tetangga, dan siapa saja yang datang.
Bagi Ugo, gaya ndeso Nasirun bukan strategi branding. Ia tidak sedang memainkan citra orang desa, melainkan jujur terhadap identitas yang membentuk dirinya.
Akar Banyumasan Nasirun juga terlihat dalam kecintaannya terhadap wayang. Ugo melihat kemiripan karakternya dengan Bawor, tokoh Punakawan yang egaliter, kritis, dan gemar mendobrak kemapanan.
Nasirun bukan sekadar mencintai wayang sebagai referensi visual. Ia juga gemar mendalang dan kerap diminta tetangga tampil dalam acara among-among maupun ulang tahun.
Sementara itu, Sarah Monica melihat Nasirun sebagai sosok paradoksal: mengambil bahan dari masa lalu, tetapi mengolahnya menjadi bahasa seni kontemporer.
Ingatan budayanya terbentuk melalui cerita sang ibu, tradisi Sunda Wiwitan, serta perjumpaannya dengan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah dari sang ayah. Pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai nostalgia, tetapi menjadi bahan untuk membaca persoalan masa kini.
Dalam karya Larut dalam Warna, misalnya, Nasirun menggunakan metafora visual untuk menggambarkan pergolakan politik dan pertarungan tiga partai besar yang menyingkirkan partai-partai kecil dalam suasana kacau.
Tradisi, bagi Nasirun, bukan masa lalu yang dibekukan, melainkan sumber untuk memahami perubahan zaman.
Nasirun pernah menyebut dirinya sebagai “petani seni rupa”. Sebutan itu menggambarkan sikapnya yang tidak mudah mengikuti kecenderungan pasar.
Ketika surealisme dan karya dekoratif mendapat perhatian besar, karya-karyanya pernah dicemooh dan dianggap sekadar hiasan karena belum memiliki pasar kuat. Namun, ia tetap menempuh jalannya sendiri.
Baginya, seni bukan sekadar pekerjaan untuk menghasilkan karya yang laku, melainkan jalan untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Pandangan tersebut juga membekas pada Jumaldi Alfi, pelukis asal Minang yang bertetangga dengan Nasirun. Setelah Nasirun meninggal, Jumaldi mengaku kehilangan gairah melukis dan merasa linglung.
Selama ini, ketika mengalami kebuntuan ide, ia kerap datang ke tempat Nasirun. Mereka tidak selalu membicarakan seni. Obrolan tentang hal-hal sederhana justru sering memberinya energi baru.
Dari Nasirun, Jumaldi juga menyerap pandangan bahwa kuas dapat menjadi media dakwah. Spiritualitas, menurut pemahaman itu, tidak harus disampaikan melalui ceramah, tetapi bisa hadir dalam karya seni yang mengajak orang merenung.
Namun, bagi Jumaldi, ada sisi Nasirun yang mungkin tidak sepenuhnya tertangkap melalui lukisan-lukisannya: kemurahan hati.
Ia mengenang Nasirun sebagai sosok yang nyah-nyoh, ringan tangan dan gemar memberikan apa yang dimilikinya. Peci, gantungan kunci, hingga benda-benda kecil buatannya dapat berpindah tangan tanpa banyak perhitungan.
Kedermawanannya bahkan melampaui pemberian benda. Nasirun pernah menampung dan menghidupi 14 tukang di rumahnya. Ia tidak semata-mata mengharapkan balasan materi, melainkan doa dari keluarga para pekerja tersebut.
Bagi Jumaldi, kemurahan hati itu menjadi bagian penting dari pribadi Nasirun. Ia bukan hanya berbicara tentang spiritualitas melalui seni, tetapi juga menerapkannya dalam hubungan sehari-hari.
Kisah tersebut memperlihatkan ukuran kebesaran Nasirun yang melampaui nilai lukisan di galeri atau koleksi para pencinta seni. Ada seniman yang kembali bersemangat setelah berbincang dengannya, pekerja yang pernah ia bantu, dan tetangga yang mengenalnya sebagai sosok yang selalu membuka ruang bagi orang lain.
Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang tidak mudah diisi. Karya-karyanya memang tetap hidup, tetapi hubungan antarmanusia yang ia bangun tidak bisa begitu saja digantikan.
Nasirun tidak hanya meninggalkan lukisan, tetapi juga teladan tentang bagaimana seni, spiritualitas, dan kemurahan hati dapat tumbuh dari akar yang sama: keinginan untuk membuat kehidupan lebih bermakna.









































