
IM.com – Sejumlah arkeolog dan sejarawan mengungkap fakta baru dari struktur bangunan kuno Situs Kumitir di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.
Struktur batu bata kuno setinggi 1,4 meter yang membentang dari utara ke selatan itu bukan sekadar dinding penahan (talud), melainkan bagian dari tanah pemakaman Narasinghamurti, kakek dari Raden Wijaya, sang pendiri Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto.
“Itu berarti Raden Wijaya membangun ibu kota di Trowulan, tidak jauh dari tanah pemakaman kakeknya. Ini menegaskan Majapahit sebagai kelanjutan dari Singasari,” kata arkeolog Wicaksono Dwi Nugroho.
Narasinghamurti juga merupakan cucu dari pendiri Kerajaan Singasari Ken Arok. Menurut catatan sejarah, Ken Arok berasal dari sebuah desa di Blitar dan kemudian merebut kerajaan Tumapel setelah membunuh penguasanya, Tunggul Ametung.
Ken Arok juga mengambil janda Tunggul Ametung, Ken Dedes, sebagai istrinya bersama dengan istrinya yang lain, Ken Umang. Ken Arok membangun dinasti Rajasa, yang memerintah Tumapel pada 1222 dan memberontak melawan kerajaan Kadiri.
Cerita versi Pararaton, Tumapel melihat pertumpahan darah yang konstan sebagai keturunan Tunggul Ametung, Ken Dedes, Ken Arok dan Ken Umang selalu berperang satu sama lain.
Banyak aksi balas dendam terhenti ketika Wisnuwardhana, cucu Tunggul Ametung dan Ken Dedes, berbagi takhta dengan Mahesa Cempaka, atau Narasinghamurthi, cucu Ken Arok dan Ken Dedes.
Wicaksono menerangkan, tembok yang baru ditemukan dan diekskavasi selama 10 hari pada akhir Oktober 2019 lalu merupakan bagian terluar dari kuil Kumêpêr. Dalam naskah kuno Kumêpêr disebutkan sebagai tanah pemakaman abu Narasinghamurti.
Naskah kuno yang dimaksud Wicaksono adalah Kitab Negarakertagama yang ditulis tokoh sastra Majapahit Mpu Prapanca; Pararaton yang memuat silsilah raja Singasari dan Majapahit ditulis pada awal abad ke-17; serta Kidung Wargasari dari Bali.
“Kumêpêr identik dengan “Kumitir” ini,” ujar Wicaksono.
Sebelumnya, tim ekskavasi dari BPCB Jatim berhasil membuka bangunan tembok sepanjang 200 meter dari situs Kumitir. Tingginya 1,4 m dan dibangun dari batu bata yang diyakini khas yang digunakan di era Majapahit.
“Sekitar 250 meter dari tempat terakhir kami, kami menemukan struktur dinding yang serupa. Ini berarti tembok itu membentang lebih dari 450 meter,” terang Wicaksono.
Ketika itu, Wicaksono mengatakan struktur itu memang berfungsi sebagai talud penahan erosi tanah. (Baca: Ekskavasi Tuntas, Situs Kumitir Diduga Kuat Tembok Penahan Banjir Bandang).
“Batu bata di bagian dalamnya kasar dan tertutup tanah. Selain itu, permukaan di luar tembok lebih rendah 1 m dari tanah di belakang,” katanya.
Bagian interior dinding diyakini sebagai candi dengan beberapa tingkatan. Sementara di bagian tengah yang menjadi tempat paling sakral, diperkirakan terletak di kuburan atau sekitar 200 meter dari tempat penggalian. Di kuburan, tim menemukan lusinan batu andesit dan antefix, yang bisa berarti reruntuhan kuil.
Belakangan, para arkeolog dari BPCB meyakini, dinding tersebut akan mengarah ke tiga struktur tembok lainnya yang mencakup situs keramat dengan total luas 16 hektar. (Baca: Luas Ekskavasi Situs Kumitir Diperkirakan 16 Hektar, Ini Langkah Ditjen Kebudayaan).

Foto: Dok/Martin
Wicaksono memperkuat keyakinanannya bahwa tembok Stius Kumitir merupakan tanaha kuburan cucu Ken Arok setelah mengkinfirmasikannya dengan konsep nawasanga di peta situs prasejarah di Trowulan. Konsep Nawangsa diceritakan dalam Kidung Wargasari.
“Jika kita mengasumsikan bahwa bagian tengah berada di sekitar Sumur Upas dan situs Kedaton di Trowulan, Kumitir berada di titik tenggara dalam konsep nawasanga,” jelasnya.
Dalam Kidung Wargasari disebutkan bahwa Kumitir adalah situs candi yang terletak di tenggara, berdasarkan konsep Hindu. Kidung itu juga menceritakan bahwa lokasi candi Kumitir tidak jauh dari ibu kota Majapahit.
Hal ini merujuk pada pembagian kawasan pusat kerajaan Majapahit menjadi sembilan bagian atau nawasanga. Konsep tersebut menyatakan bahwa bagian tengah kota dianggap yang paling suci, yang akan menjadi lokasi istana.
“Sementara di Pararaton, tertulis bahwa Mahesa Cempaka atau Narasinghamurti meninggal pada tahun 1268. Sebagian abunya dimakamkan di Kumĕpĕr atau Kumitir, sementara beberapa lainnya dimakamkan di Wudi Kuncir,” tutur sejarawan Ferry Riyandika. (im)