Tulisan kuno (inskripsi) pada penggalan batu bata yang ditemukan dalam ekskavasi Situs Kumitir sektor A di Dusun Bendo, Desa Kumtir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto.

IM.com – Tim ekskavasi Situs Kumitir di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto menemukan batu bata berukir tulisan kuno (inskripsi) yang memperkuat hipotesa fungsi bangunan itu sebagai tempat suci keagamaan era Majapahit. Fragmen batu bata dengan tulisan kuno itu ditemukan di sektor A pada hari ke-27 ekskavasi.

Ukiran inskripsi yang terdiri dari tiga baris itu sudah tidak sempurna. Beberapa huruf terpenggal sehingga sulit diartikan secara tepat.

Namun ahli prasasti dan tulisan kuno, Ismail Lutfi berhasil menterjemahkan secara prediktif berdasarkan metode kelimuannya arti inskripsi tersebut. Baris pertama tulisan aksara jawa kuno itu menunjukkan kata ‘Rabut’ atau sebutan untuk tempat suci era kerajaan.

“Kemudian di bawahnya ada kata ‘da’ dan ‘ya’ diikuti garis agar miring yang bawah melengkung ke atas merupakan pasangan untuk menjadi kata ‘yang’. Artinya bisa kata ‘danyang’,” jelas Lutfi dalam tayangan video Arkeovlog tentang tulisan kuno di Situs Kumitir yang diunggah di Youtube, Sabtu (5/9/2020). Danyang, lanut Lutfi, merupakan sebutan untuk tokoh rohaniawan di era kuno.


Kemudian pada baris terakhir, Lutfi menterjemahkan tulisan jawa kuno itu sebagai kata Purbaya. Ia memperkirakan, kata itu menunjukkan nama orang yang menjadi saksi atau ikut dalam peristiwa sejarah di Situs Kumitir dahulu.

“Secara keseluruhan inskkripsi ini bisa diartikan tempat suci yang berkaitan dengan tokoh danyang itu dan disaksikan oleh Purbaya ini,” papar Epigraf dari Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Lutfi memastikan, gaya tulisan pada fragmen batu bata itu berasal dari era Majapahit. Ia menegaskan, setiap masa dinasti kerajaan memiliki model penulisan atau paleografi yang berbeda.

“Aksara yang ditulis pujanga kraton pasti bisa dibedakan. Tapi kalau pujangga atau masyarakat biasa cenderung sama,” ujarnya.

Yang pasti lagi, lanjut salah satu peneliti Arkeologi Nasional (Arkenas) Jakarta itu, tulisan kuno pada fragmen batu bata ini sangat penting bagi penelitian Situs Kumitir. Temuan ini nantinya akan dirangkai dengan potongan-potongan data lain untuk menghasilkan kesimpulan dan jawaban.

Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho, mengatakan, temuan inskripsi ini semakin mendekatkan penelitian Situs Kumitir ini pada hipotesa yang dibangun sebelumnya. Yakni sebagai tempat pendermaan (pemujaan) arwah Mahisa Cempaka, leluhur Raja Majapahit Sri Rajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya.

“Dari temuan inskripsi ini kita sepakat bahwa ada bangunan suci di Situs Kumitir ini. Terkait pendermaan untuk Mahisa Cempaka atau bukan, itu masih harus kita teliti lebih lanjut nanti,” terang Wicaksono.

Mulanya, struktur bangunan kuno yang ditemukan di Dusun Bendo, Desa Kumitir itu hanya bentangan tembok penahan banjir (talud). Talud ini membentang di area situs seluas 400 meter persegi. (Baca: Ekskavasi Tuntas, Situs Kumitir Diduga Kuat Tembok Penahan Banjir Bandang).

Bangunan yang dihipotesakan sebagai tempat pendermaan terungkap belakangan pada tahap pra ekskavasi Situs Kumitir. Struktur itu ditemukan di bawah talud.

Hipotesa ini juga merujuk pada Serat Pararaton dan Kidung Wargasari. Kidung ini menceritakan konsep nawasanga di peta situs prasejarah di Trowulan. Konsep tersebut menyatakan bahwa bagian tengah kota dianggap yang paling suci, yang akan menjadi lokasi istana. (Baca: Terkuak, Tembok Situs Kumitir Dibangun di Atas Pemakaman Kakek Pendiri Majapahit).

“Apakah (situs kumitir) ini tempat pendermaan Mahisa Cempaka seperti disebutkan dalam Nagarakertagama, Pararaton atau Kidung Wargasari? Nanti akan kita akan mengolah semua data temuan di situs ini, mudah-mudahan di hari-hari terakhir ekskavasi bisa kita temukan jawabannya,” tutur Wicaksono. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here