
Penulis : Dwi Tantriana – Mahasiswa Universitas Islam Majapahit
IM.com – Sendang Made, sebutan mata air di lereng perbukitan Pucangan Utara Jombang Jawa Timur. Dibutuhkan kurang lebih 55 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari arah Mojokerto.
Sendang Made yang terletak di Dusun/Desa Made Kecamatan Kudu tidak hanya menyimpan kekayaan alam sumber air yang melimpah, tetapi menyimpan cerita dan tradisi panjang yang mengakar kuat di masyarakat setempat.
Mata air Sendang Made dikenal memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Prabu Airlangga. Sebelum munculnya Airlangga, sendang ini sudah ada dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekitar.
Nama “Made” diyakini berasal dari Bali, yang dikaitkan dengan Prabu Airlangga, menunjukkan betapa sendang ini telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Nusantara. Keberadaan sendang yang sakral ini juga didukung dengan berbagai tradisi dan ritual yang masih dijaga hingga saat ini.
“Banyak orang yang datang ke sini untuk minta hajat pernikahan, usaha tidak laku, tujuan mandi di sendang setiap Kamis, Jum’at Legi, ungkap Mbah Supono (61) juru kunci Sendang Made.
Bahkan tradisi yang rutin diselenggarakan ada kumkum (berendam) sinden menuju ke Sendang Drajat diyakini agar para sinden memiliki suara merdu, ataupun menaikkan pamor.

Di sisi lain secara ekologis pengelolaan salah satu situs cagar budaya pariwisata ini warga sekitar sendang rutin ‘Sesuci Nguras Sendang’ bentuk masyarakat setempat menghargai dan menjaga kebersihan serta kesakralan tempat ini.
Mbah Supono, akrab dipanggil Mbah No mengakui tradisi nguras seluruh sendang memang dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan kesebelas. Selain menandai peralihan musim kemarau ke penghujan, untuk hari tanggal pelaksanaannya disesuaikan dengan perhitungan kalender Jawa pada saat itu.
Beberapa sumber air sendang tidak hanya menawarkan objek wisata kepada pengunjung, tetapi dimanfaatkan warga untuk irigasi lahan persawahan di sekitar sendang. Secara tidak langsung aliran air yang terus menerus sepanjang tahun menopang aktivitas warga sekitar.
Terdapat 7 sendang diyakini mempunyai khasiat berbeda di masing-masing sendang. 7 sendang keramat itu adalah sendang Pomben, Gede, Pangilon, Condong, Drajat, Payung, dan Kamulyan. Filosofis sumber mata air Sendang Made salah satunya sendang Pomben bisa diartikan dengan rezeki yang mana manusia diciptakan di bumi untuk mencari makan dan minum agar bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Di hari Sabtu dan Minggu, acara senam rutin yang dibuka untuk umum menunjukkan bahwa sendang ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan rekreasi. Masyarakat berkumpul, berinteraksi, dan merawat kesehatan mereka di sekitar sendang, menjadikannya sebagai tempat yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
Untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, berbagai fasilitas telah dibangun. Penyewaan kantin dan penyediaan fasilitas seperti mushala dan CCTV adalah langkah positif dalam upaya modernisasi sendang.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai tradisional. Ada beberapa perbaikan yang tidak boleh mengubah keindahan asli dan kesakralan sendang, menandakan betapa pentingnya menjaga warisan budaya ini tetap utuh.
Sendang Made bukan hanya sekadar sumber air, tetapi juga pusat dari berbagai kegiatan sosial dan budaya. Selain menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berbagai aktivitas, sendang ini juga memiliki fungsi penting dalam pengobatan tradisional. Banyak orang yang datang untuk mandi di sendang ini dengan keyakinan bahwa airnya memiliki khasiat penyembuhan.
Mata air Sendang Made Jombang adalah salah satu warisan sejarah yang harus kita jaga dan lestarikan. Keberadaannya sebagai pusat kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat menjadi tanda bahwa pentingnya tempat ini.
Dengan menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai tradisional, kita dapat memastikan bahwa Sendang Made tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Jombang dan generasi mendatang.
Pemerintah daerah, masyarakat, dan para pemerhati budaya harus bersinergi untuk memastikan bahwa sendang ini tidak hanya terawat dengan baik, tetapi juga terus menjadi tempat yang memberikan manfaat bagi semua orang. Karena, di balik kejernihan airnya, Sendang Made menyimpan cerita dan nilai-nilai yang tak ternilai harganya.
Mendorong upaya pengembangan konsep wisata berkelanjutan yang dapat memberikan dampak jangka panjang. Diantaranya pengelolaan bisnis pariwisata, sosio ekonomi (ekonomi berkelanjutan), sustainable culture (keberlanjutan budaya), environment sustainability (aspek lingkungan) harus selalu dikembangkan dan dijaga.
Sehingga Sendang Made nantinya tidak tergerus zaman dari banyaknya sektor pariwisata yang ada. Pengelolaan wisata perlu mempertimbangkan daya dukung dalam wisatawan yang berkunjung. Kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk lain, dan keseimbangan antar keduanya (UU Nomer 32 Tahun 2008) tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Menjadi salah satu sumber air bersih dan situs sejarah penting di Jombang, apabila lalai dalam perawatannya bisa jadi akan menghadapi ancaman serius terkait kelestarian lingkungannya. Tentu mengundang perhatian berbagai pihak, mulai dari masyarakat lokal hingga para pemerhati lingkungan dan budaya.
Aspek yang perlu diperhatikan secara matang terkait peningkatan jumlah pengunjung tanpa disertai dengan pengelolaan yang memadai menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk keadaan. Selain itu, perbaikan dan pembangunan fasilitas modern tanpa memperhatikan aspek lingkungan juga berpotensi merusak keseimbangan ekosistem sendang.
Tradisi membersihkan sendang yang dilakukan memang masih berjalan, namun hal ini belum cukup untuk menjaga kebersihan dan kesakralan sendang maka harus lebih komprehensif memperhatikan prinsip-prinsip ramah lingkungan.
Pengelolaan limbah dari aktivitas pengunjung serta perlindungan terhadap sumber mata air dari kontaminasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Sampah plastik dan limbah lainnya kerap kali ditemukan di sekitar sendang, mengancam kebersihan air dan keseimbangan ekosistem.
Selain itu, penting untuk melibatkan masyarakat dalam upaya pelestarian ini. Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sendang harus terus digalakkan. Pengunjung juga diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan dan keasrian sendang selama mereka berada di sana.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap kelestarian mata air Sendang Made. Bahwasannya hingga detik ini pun pengelolaan dan perawatan sendang hanya sampai dilakukan oleh karang taruna setempat belum menjamah ke ranah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jombang.
Kebijakan yang mendukung pelestarian lingkungan serta pengawasan yang ketat terhadap aktivitas yang berpotensi merusak sendang perlu segera diterapkan. Komunitas lokal juga memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat sendang, mengingat mereka adalah penjaga warisan budaya dan lingkungan di kawasan tersebut.
Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat setempat, tetapi juga setiap individu yang mengunjungi sendang. Dengan menjaga kebersihan dan keasrian mata air Sendang Made, kita tidak hanya melestarikan sumber daya alam yang berharga, juga menjaga warisan budaya yang memiliki nilai historis tinggi.
Ancaman terhadap kelestariannya memerlukan perhatian serius berbagai pihak. Dengan pengelolaan yang baik dan partisipasi aktif masyarakat, kita dapat memastikan bahwa sendang ini tetap menjadi sumber kehidupan dan pusat kegiatan sosial, budaya, serta spiritual yang penting bagi generasi mendatang.
Aksi nyata untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Sendang Made harus segera dilakukan. Karena dibalik kejernihan airnya, sendang ini menyimpan nilai-nilai sangat berharga bagi kita semua. (*)