Suasana ArtSubs 2025 di Balai Pemuda Surabaya Jawa Timur

IM.com – ‎Gelaran akbar seni rupa ArtSubs 2025 yang menghadirkan 141 perupa dari dalam dan luar negeri terpaksa ditutup seminggu lebih cepat.

‎Ajang yang dijadwalkan berlangsung di Balai Pemuda Surabaya pada 2 Agustus hingga 7 September itu hanya bertahan sampai Minggu, 31 Agustus 2025, menyusul situasi sosial politik yang memanas dan amuk massa yang menjalar di berbagai kota, termasuk Surabaya.

‎Penutupan mendadak diumumkan dini hari oleh panitia melalui pesan resmi yang disampaikan media relation ArtSubs, Heti Palestina Yunani. “Menimbang situasi di Surabaya dan nasional yang kian tidak menentu, serta demi keselamatan pemirsa dan peserta, kami memutuskan hari Minggu, 31 Agustus 2025 sebagai hari terakhir penyelenggaraan ArtSubs 2025,” demikian kutipan pengumuman tersebut.

‎Keputusan ini sontak mengejutkan publik seni, sebab ArtSubs baru kali kedua digelar di Surabaya dengan animo masyarakat yang menggembirakan. Dalam sehari ditonton oleh lebih 1.000 pengunjung dengan harga tiket Rp 100 ribu.

‎Selain menampilkan karya seni rupa dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Australia, Amerika Serikat hingga sejumlah negara Eropa, pameran ini juga dimeriahkan pertunjukan teater, diskusi publik, serta instalasi ruang alternatif yang menjadi magnet warga kota.

‎Namun posisi Balai Pemuda yang bertetangga dengan Gedung Negara Grahadi di jl. Gubernur Suryo Surabaya Jawa Timur, menjadi alasan paling krusial. Pada 29 Agustus, kompleks Grahadi menjadi sasaran amuk massa. Bahkan sehari kemudian, gedung sisi barat terbakar akibat lemparan bom molotov dalam gelombang kemarahan nasional.

‎Setidaknya 25 sepeda motor, press room, ruang kerja Wakil Gubernur ikut hangus. Bara api dan amarah massa membuat panitia tak punya pilihan selain mengakhiri hajatan lebih awal.

‎Penutupan mendadak ini meninggalkan tanda tanya besar, terutama terkait keamanan ratusan karya seni yang ditaksir bernilai miliaran rupiah. Panitia dalam keterangannya menekankan “keselamatan pemirsa” sebagai alasan, namun jelas keselamatan koleksi seni menjadi pertimbangan utama.

‎Sebelumnya, panitia sebenarnya telah merilis pemberitauan lain yang menyatakan ArtSubs tetap buka, tetapi bisa ditutup sewaktu-waktu jika keamanan tidak mendukung.

‎Bahkan ada rencana menutup sehari penuh pada Rabu, 3 September 2025, bertepatan dengan rencana aksi unjuk rasa yang dimotori Cak Sholeh, aktivis kawakan di depan Grahadi.

‎Sayangnya situasinya justru memburuk lebih cepat. Gelombang amuk massa yang dipicu meninggalnya Affan Kurniawan, pekerja ojek yang tewas dilindas kendaraan taktis polisi di Jakarta serta kemarahan atas kenaikan gaji DPR, meluas ke Surabaya, Makassar, Bandung, Medan hingga NTB. Gedung pemerintahan, rumah politisi, hingga pos polisi jadi sasaran pembakaran dan penjarahan.

‎PESTA KEMARAHAN

‎Menurut sosiolog Universitas Airlangga, Dr. Andi Nugroho, kerusuhan ini tak sekadar dipicu oleh kematian Affan, isu pajak atau tunjangan pejabat. “Ini akumulasi frustrasi sosial. Ketika rakyat merasa dicekik, sementara elit hidup hedonis, demonstrasi berubah menjadi pesta kemarahan,” ujarnya.

‎Pengamat politik Arum Dwi Santosa menyebut pembakaran Grahadi sebagai simbol runtuhnya kepercayaan publik pada negara. “Graha­di itu ikon kekuasaan Jawa Timur. Ketika terbakar, itu lebih dari sekadar bangunan yang hangus.”

‎Bagi dunia seni, penutupan ArtSubs sebelum waktunya menjadi bukti lain betapa rapuhnya ruang kultural ketika masyarakat dilanda krisis sosial. Seni yang seharusnya menjadi ruang dialog dan refleksi, justru terseret arus ketidakpastian politik.

‎Malam 30 Agustus 2025 akan dikenang sebagai malam ketika Surabaya terbakar, bukan hanya oleh api fisik tetapi juga oleh api amarah rakyat.

‎Dalam bara itu, panggung seni harus rela ditutup lebih cepat, meninggalkan pesan getir, “Seni bisa juga kalah oleh amuk massa.” (kim)

20

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini