Pengunjung antusias memberi makan jerapah di Kebun Binatang Surabaya.

‎inilahmojokerto.com – Berlibur bersama keluarga kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan sekunder yang kian disadari masyarakat.

‎Di tengah rutinitas kerja yang padat dan tekanan hidup perkotaan, wisata keluarga menjadi ruang penting untuk menjaga keharmonisan, menyegarkan jiwa-raga, sekaligus menanamkan memori positif lintas generasi.

‎Fenomena ini tampak nyata pada momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di Jawa Timur.
‎Dua destinasi favorit, Wana Wisata Padusan Air Panas di Pacet, Kabupaten Mojokerto, dan Kebun Binatang Surabaya (KBS), mencatat lonjakan kunjungan signifikan.

‎Angka-angka tersebut bukan hanya mencerminkan geliat sektor pariwisata, tetapi juga perubahan pola kebutuhan rekreasi masyarakat.

‎Wisata Alam Inklusif

‎Di kawasan lereng Gunung Welirang, Wana Wisata Padusan Air Panas kembali menjadi magnet wisatawan. Pada puncak libur Tahun Baru 2026, jumlah pengunjung tercatat menembus sekitar 4.600 orang dalam satu hari. Kepadatan mulai terlihat sejak dini hari hingga sore pada 1 Januari 2026.

‎Koordinator Wana Wisata Padusan Air Panas, Heru Utomo, menjelaskan bahwa lonjakan tertinggi terjadi saat malam pergantian tahun. Sementara di hari kedua awal tahun, jumlah pengunjung mulai menurun secara alami.

‎“Alhamdulillah, volume pengunjung masih terkendali. Pada puncaknya bisa tembus sekitar 4.600 orang.

‎Hari berikutnya turun sekitar 10 persen, ini wajar karena sebagian sekolah sudah mulai masuk,” ujarnya.

‎Daya tarik Padusan tak hanya terletak pada kolam pemandian air panas alami yang bersumber langsung dari kaki Gunung Welirang. Pengunjung juga dimanjakan panorama alam pegunungan yang sejuk serta beragam pilihan wisata.

‎Dua jalur pendakian, Gunung Pundak dan Puthuk Siwur, bahkan tengah naik daun sebagai wisata minat khusus. Selain itu, kawasan ini menawarkan destinasi pendukung seperti Air Terjun Grenjengan dan Coban Canggu

‎Ada juga wisata petualangan arung jeram, paintball, airsoft gun, hingga wisata keluarga dan edukasi seperti Taman Kelinci, kebun stroberi, taman bunga, berkuda, dan kebun binatang mini.

‎Fasilitas penunjang pun lengkap, mulai dari glamping, cottage, vila, hingga kafe dan restoran. Dengan tiket masuk yang relatif terjangkau, Padusan menjadi contoh wisata alam yang inklusif bagi berbagai lapisan masyarakat.

50 Ribu Pengunjung

‎Sementara itu, di jantung Kota Surabaya, Kebun Binatang Surabaya mencatat lonjakan yang jauh lebih besar. Hingga Kamis (1/1/2026) pukul 14.00 WIB, jumlah pengunjung telah mencapai sekitar 30.000 orang.

‎Angka tersebut terus bertambah hingga jam operasional berakhir, dengan target harian menyentuh 50.000 pengunjung.

‎Kepala Seksi Humas KBS, Lintang Ratri, menyebut tingginya animo masyarakat dipicu oleh beragam program hiburan dan edukasi yang disiapkan khusus selama libur Nataru.

‎“Program interaksi langsung dengan satwa seperti feeding, ditambah live music dan hiburan lainnya, menjadi daya tarik utama,” ungkapnya.

‎Untuk mengantisipasi lonjakan massa, manajemen KBS melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait, melibatkan personel gabungan demi menjaga keamanan, kenyamanan, serta kelancaran parkir dan lalu lintas.

‎Sepanjang periode libur Nataru 2026, KBS menargetkan total 200.000 pengunjung. Capaian 30.000 orang di hari pertama dinilai sebagai sinyal positif.

‎Lonjakan kunjungan di Padusan dan KBS menunjukkan bahwa wisata tak lagi semata hiburan, melainkan sarana pemulihan sosial dan psikologis keluarga.

‎Di balik angka-angka tersebut, tersimpan pesan penting, bahwa rekreasi yang sehat, edukatif, dan terjangkau menjadi fondasi keseimbangan hidup masyarakat modern.

‎Momentum libur Nataru menjadi cermin bagaimana sektor pariwisata berperan strategis dalam menjaga kualitas hidup publik. (kim)

18

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini