
inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Sekarang hari menjelang malam. Kemarilah, ayo kita pergi berjalan-jalan di sepanjang jalan utama ini. Lihatlah pada semua pepohonan yang berada di kedua sisi jalan. Dahan-dahannya dipenuhi dengan ribuan burung dari segala corak yang berbeda-beda.
Beberapa burung mempunyai paruh berwarna merah, sedangkan yang lain berparuh hitam. Beberapa burung mempunyai kaki berwarna kuning, dan beberapa burung yang lain mempunyai kaki berwarna jingga tua. Beberapa burung mempunyai mata berwarna putih, beberapa burung yang lain bermata merah. Semua burung yang bercorak indah tersebut datang ke sini untuk beristirahat.
Tetapi dengarkan kicauan yang mereka buat! Engkau dapat mendengarkan lebih dari seribu suara yang berbeda-beda.
Anak-anak, hati-hatilah kalau engkau berjalan di bawah pohon-pohon tersebut! Semua jalan ini dipenuhi dengan berbagai kotoran burung yang berwarna hitam, kuning, dan coklat. Engkau bisa terpeleset jatuh dan kotoran itu mengenai seluruh tubuhmu. Engkau mungkin akan sakit dibuatnya.
Kotoran ini menyebar di mana-mana. Dan baunya amat busuk! Awas! Berhati-hatilah! Barangsiapa lewat di bawah pepohonan tersebut bisa dihujani kotoran burung. Kotoran ini bisa menimpa kepala atau pundaknya. Kotoran itu bahkan mendarat di wajah dan menetesi hidungnya.
Tetapi apakah engkau pikir burung-burung itu menyadari bahwa mereka tidak semestinya berak di sini karena orang-orang sedang berjalan di bawah mereka? Tidak, mereka sekadar melakukan apa yang alamiah bagi mereka.
Berhati-hatilah! Burung itu tidak membeda-bedakan mereka, entah itu seorang raja, seorang bijak, orang umum, atau seekor binatang yang berjalan di bawah pohon-pohon tersebut. Mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan.
Burung-burung tersebut tidak tahu yang diperbuatnya itu benar atau salah. Maka, jika engkau memilih untuk berjalan di bawah pepohonan tersebut, sementara burung-burung sedang beristirahat di dahan, maka kesalahanmu sendirilah jika engkau berlepotan kotorannya.
Kasihku padamu, cucu-cucuku. Pikirkan sedikit hal ini! Shalat adalah jalan utama antara manusia dengan Tuhan. Tetapi banyak sekali pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan shalat: ego, kesombongan, karma, dan kesemuan (maya), atau ilusi; sifat-sifat kesemuan dan tiga anak maya yang dikenal dengan tarahan, singhan, dan suran; sifat-sifat obsesif, amarah, ketamakan, permusuhan, kecemburuan, mabuk-mabukan, hawa nafsu, pencurian, pembunuhan, dan kebodohan, dendam, ketergesa-gesaan, kebohongan, kebanggaan diri, pengkhianatan, keraguan, pembedaan aku dan engkau, dan perbedaan antara ras, bangsa, agama, warna kulit, dan bahasa yang berbeda-beda.
Semuanya itu adalah pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan ibadah. Mereka adalah bagian gelap di dalam hati manusia. Di luar pohon-pohon itu, namun demikian, jauh di ruang terbuka, terdapat cahaya.
Tetapi apakah burung itu pergi ke sana? Tidak, mereka memilih untuk datang dan bertengger di dalam kegelapan, mengotori siapa saja yang berjalan-jalan di sepanjang jalan shalat.
Shalat tentu saja baik. Tetapi kita harus waspada terhadap bahaya-bahaya tertentu. Karena, sebagaimana burung-burung bertengger di pepohonan dan mengotori mereka yang lewat di bawahnya, banyak energi-energi jahat datang untuk mengotori shalat-shalat kita: semuanya berjumlah 400 triliun, 10 ribu energi, enam puluh empat jenis seni dan ilmu, permainan seksual, sakti dan siddhi, dan banyak mantra-mantra serta tantra-tantra.
Dan sebagaimana setiap jenis (spesies) dari burung mengeluarkan suara tersendiri yang unik, masing-masing jenis energi jahat pun membuat kegaduhan sendiri-sendiri. Manusia mengambil energi tersebut, yakni mantra-mantra tersebut, dan menyebutnya shalat, seraya berkata, “Inilah jalan itu.” Tetapi, anak-anakku, ini bukanlah shalat.
Apakah engkau pernah mendengarkan kokok yang dibuat oleh burung-burung gagak pada pukul enam pagi? “Kwak! Kwak! Kwak!” demikian kokok mereka. Kemudian mereka terbang dan kembali pada pukul enam sore untuk berkokok-kokok sekali lagi.
Seperti burung-burung gagak tersebut, pikiran manusia selalu gaduh. Pemikiran-pemikiran dan sifat-sifat jahatnya membuat kegaduhan yang amat sangat.
Energi-energi jahat tersebut adalah setan yang sesungguhnya melemparkan kotorannya kepada setiap orang dan berusaha untuk menghalangi mereka dari meneruskan perjalanan mereka.
Setan-setan menghujani orang-orang dan mengirimi mereka teriakan yang memaksa mereka lari dalam arah yang berlawanan, di mana mereka dapat tergelincir dan jatuh dalam kotoran najis dan melupakan tujuan mereka. Kita harus menyelamatkan diri dari burung-burung tersebut, agar dapat meneruskan perjalanan kita.
Shalat adalah jalan utama, yakni jalan yang Jurus. Untuk melewatinya dengan aman di sepanjang jalan utama ini, cucu-cucuku, kita memerlukan kebajikan. Kita harus mengetahui kapan energi-energi jahat akan datang ke sini untuk beristirahat, berapa lama mereka tinggal, dan apa yang akan mereka lakukan.
Kita harus membuat suatu perkiraan, suatu perhitungan tentang apa yang bakal terjadi, dan kemudian menghindari bahaya-bahaya yang menunggu kita di sepanjang jalan ini. Kita harus dapat menebang pohon-pohon amarah, cemburu, kebencian, kedustaan, keraguan, dan pemilah-milahan. Jika kita membersihkan jalan itu, maka energi-energi jahat tidak akan ada di tempat mana pun untuk bertengger.
Kemudian jalan shalat, yakni hubungan antara Tuhan dengan manusia, akan bersih. Tetapi sepanjang kita tidak menebang pohon-pohon di mana energi-energi jahat itu berkumpul, maka kotoran mereka akan menjatuhi kepala dan menjauhkan kita dari tujuan. Kita akan lupa bahwa ada Tuhan Yang Satu, Kebenaran Yang Satu, Sesembahan Yang Satu, dan masyarakat manusia yang satu.
Kasihku padamu, cucu-cucuku. Apakah engkau memahami hal ini? Engkau harus mengetahui kemampuan energi-energi tersebut, dan menganalisa setiap situasi, agar dapat membuat suatu keputusan yang bijak. Baru kemudian engkau akan menemukan kedamaian.
Jika engkau tidak dapat menebang pohon-pohon besar tersebut, maka engkau harus mengetahui setidak-tidaknya kapan burung-burung neraka yang jahat itu akan berkumpul di sana dan kapan mereka akan pergi. Awasi dan tunggullah, serta mulailah perjalananmu hanya setelah mereka pergi! Maka engkau dapat menyelamatkan diri.
Cucu-cucuku, kalau engkau tidak mengetahui cara untuk menghindari energi-energi tersebut, maka engkau tidak dapat berjalan di atas jalan utama shalat, ibadah, dan ketaatan ini tanpa terkotori.
Jadi, banyak hal yang akan menghujanimu: nafsu terhadap popularitas dan gelar-gelar yang merupakan plakat-plakat besar neraka; nafsu-nafsu dasar, atau nafsu amarah (nafs ammarah); lima unsur alami, lima (panca) indera; kesombongan, karma, ilusi; dan nafsu terhadap tanah, perempuan, serta emas.
Semuanya itu akan bertengger dalam pikiranmu dan menyelimuti hatimu, mengotori tempat shalat. Tanpa memiliki kearifan, engkau akan terjerat dalam kesulitan-kesulitan tersebut.
Berhati-hatilah sekali! Belajarlah untuk melarikan diri dari 400 triliun, 10 ribu energi-energi jahat yang menunggumu. Engkau akan mampu menyelamatkan diri kalau melintasi bagian magis dan mempesona ini. Barulah kemudian engkau dapat melewati jalan shalat dan mencapai tujuanmu.
Cucu-cucuku, pergilah ke tempat di mana ada cahaya. Pergilah ke jalan yang menghubungkan timur ke barat. Inilah jalan utama itu, yakni jalan lurus dari shalat yang satu, keluarga yang satu, tujuan yang satu, dan Tuhan Yang Satu. Semoga Tuhan Yang Esa melindungi kita dalam perjalanan kita. Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen







































