
inilahmojokerto.com – Salam sayangku, cucu-cucuku. Marilah kita berjalan-jalan ke toko pandai besi dan melihat apa yang sedang dilakukannya di sana.
Lihatlah bagaimana dia mempersiapkan api dengan memompa udara melalui tungku dan api mulai terbakar dengan bara amat besar. Sekarang dia menambah kayu bakar dan mulai memompa udara lagi. Ketika dia berhenti untuk memompa, api akan segera mati, dan saat dirinya mulai memompa udara lagi maka lidah api akan menyala kembali.
Kemarilah, lebih dekat anak-anak, dan lihatlah bagaimana seorang pandai besi membuat sepatu kuda.
Pertama, dia akan memotong sebatang besi dan memasukkannya dalam api. Dia menungguinya sampai api menjadi panas dan merah, dan dia mulai memukul besi itu dan membengkokkannya menjadi bentuk U. Selanjutnya dia memotong besi menjadi tiga bagian, dan membuat tiga paku. Lantas dia mengambil peralatan lain, yakni bor, dan membuat lubang untuk ketiga paku itu, dan sepatu kuda itu berhasil diselesaikannya.
Sekarang lihatlah ketika dia membuat model sepatu lain untuk kerbau penarik gerobak.
Pertama dia akan mengambil sepotong besi panas yang pipih, kemudian membaginya menjadi dua bagian dan membengkokkan ujung-ujungnya, maka akan melindungi telapak kaki kerbau supaya tidak pecah ketika menginjak sesuatu. Inilah bagaimana seorang pandai besi membuat sepatu dalam berbagai bentuk untuk kegunaan yang berbeda.
Untuk kerbau dibuatnya sepatu yang cocok dengan potongan kuku kerbau, sedang untuk kuda dia akan membuat sepatu yang oval. Untuk roda gigi dia akan membuat lingkaran-lingkaran [peleg], dan untuk as roda dia akan membuat cetakan bundar.
Seorang pandai besi dapat membuat berbagai macam benda dari besi. Dia cukup membengkokkan baja dan membentuknya sesuai dengan kebutuhannya. Jika besi boleh melakukan apa saja sesuai dengan keinginan, dapatkah seorang pandai besi membuat segala macam benda dengan berbagai bentuknya?
Tidak, dia harus mengendalikan besi itu. Hanya setelah dibawanya besi itu sesuai dengan keinginannya, dapatkah dia mencetak besi ke dalam bentuk yang berguna bagi dirinya maupun orang lain.
Dengarlah cucu-cucuku, apakah engkau mendengar bunyi mendesis? Besi itu menangis karena diletakkan di atas api. Tapi si pandai besi tidak mengabaikan tangisan tersebut dan terus meniup lidah api itu. Dan ketika api menjadi merah dan panas, dia memukuli besi itu dan membentuknya sesuai yang dikehendaki.
Potongan besi itu berpikir, “Oh tidak! Pertama, dia membakarku di atas api, dan kini memukuliku!” Bahkan landasan menjadi terluka ketika si pandai besi meletakkan besi yang merah dan panas itu di atasnya. Baik landasan dan palu juga mengeluh, “Ketika dia memukul besi itu, kita jadi terpukul juga dan retak! Betapa pedihnya luka yang harus kita derita dari panas tersebut?”
Tetapi apakah si pandai besi itu akan berhenti karena palu dan landasan merasa terluka? Berhentikah dia karena tangisan besi? Tidak, ketika dia bekerja, dia membawa semua alat-alat tersebut di bawah kendalinya agar memenuhi maksudnya. Manakala seorang pandai besi menyelesaikan pekerjaannya, besi itu akan berubah menjadi barang yang bagus dan berguna. Selanjutnya besi, palu, dan landasan menghentikan tangisan mereka dan bergembira.
Cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku, kita harus seperti seorang pandai besi. Kita harus membakar pikiran kita dalam api kearifan. Kita harus meletakkan keinginan, lima unsur, karma, ilusi, dan kesombongan keakuan ke dalam api kearifan yang merah dan panas dan meniupinya dengan nafas dzikir, dengan ingatan kita kepada Tuhan, dan menetapkan hubungan dengan-Nya.
Selanjutnya, dengan kekuatan kalam Tuhan, kita harus dapat memompa udara yang membuat api menjadi lebih besar. Ketika pikiran menjadi panas membara dan lunak, kita harus memukulnya untuk menjadi bentuk yang baru sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain. Kita harus mengontrol pikiran kita dan membuatnya berlaku seperti yang kita inginkan.
Jenis bentuk baru yang bagaimana hendaknya kita mengubah pikiran kita? Kita harus mencampurnya dalam sifat-sifat baik yang membawa cinta ke dalam setiap tindakan kita dan memeluk orang lain di dalam hati kita. Kita harus mengubahnya ke sifat-sifat yang berguna bagi orang lain.
Empat ratus triliun, sepuluh ribu energi, harus dipukul dan dibuat berguna. Kemarahan, kesombongan, dan seluruh bagian dari hati harus dipukul dan diubah menjadi tiga ribu sifat-sifat mulia dan sembilan puluh sembilan wilayah yang merupakan tindakan dan tugas-tugas Tuhan.
Cucu-cucuku, pukullah pikiranmu dan bakarlah di dalam api kearifan! Tentu saja, ketika engkau mulai memukul pikiran keramu, engkau akan sangat menderita. Keinginan akan menderita. Berbagai agama dan filsafat akan merasa disakiti. Rasial dan perbedaan warna, dan prasangka akan merasa sakit.
Keterpisahan engkau dan aku menyebabkan penderitaan. Sifat egois, kesombongan, dan amarah akan merasa disakiti. Perasaan bangga akan merasa sakit. Ilusi, kesombongan, dan karma akan menderita. Mereka semua akan merasa sakit, tetapi engkau harus tetap memukulnya.
Tanpa memperhatikan tangis mereka, engkau harus mengubah pikiran dan keinginanmu, dan kemudian mereka akan bekerja untukmu. Leburlah mereka di dalam api, lalu pukul mereka dan bawa ke dalam kondisi yang baik dalam kearifan, cinta, kasih, dan kesabaran. Di bawah pandangan Tuhan, bawalah mereka pada sifat-sifat baik yang berasal dari-Nya.
Bengkokkan pikiran ke dalam bentuk-bentuk yang dapat membentuk sebuah hubungan dengan Tuhan dan dengan yang lain. Buatlah sesuatu yang dapat memberikan keindahan kepada orang lain dan memuaskan kebutuhan mereka. Berikan sesuai dengan kondisi hati setiap orang yang engkau temui.
Jika engkau dapat melakukan ini, maka engkau akan menjadi sebenar-benar manusia. Barulah kemudian engkau tahu sejarah tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Barulah kemudian engkau mengetahui hati dan pikiran seluruh makhluk ciptaan. Engkau akan mampu membantu mereka memotong bagian-bagian yang dibutuhkan untuk dipotong dan memberikan kepada mereka kedamaian yang dibutuhkan di dalam hati terdalam, qalb mereka.
Namun demikian, jika engkau gagal mengendalikan diri [pikiran], jika engkau biarkan dirimu melakukan apa pun yang dikehendakinya, lantas engkau tidak pernah dapat mengubah segalanya dan memberikan sesuatu kepada orang lain.
Jika engkau biarkan kesombongan, karma, dan ilusi untuk melakukan apa pun yang mereka sukai, engkau tidak akan pernah dapat memberikan kedamaian terhadap orang lain. Pikirkan tentang hal ini. Ambillah hikmah dari pelajaran seorang pandai besi dan terapkan hal itu dalam kehidupanmu!
Janganlah tetap berjalan di neraka ilusi dan diikat oleh karma. Bakarlah pikiranmu di dalam api kearifan serta berikanlah kesejukan dengan nafas kalimah. Pukullah ia, jadikanlah sebuah bentuk, dan, ubahlah menjadi sesuatu yang berguna. Maka engkau akan menjadi orang bijak, seorang gnani, menjadi sebenar-benar manusia, insan.
Engkau akan menjadi seorang wakil Tuhan dan utusan-Nya. Jika engkau dapat sepenuhnya mengubah pikiranmu dengan cara yang benar, engkau dapat menjadi “anak” Tuhan. Pikirkanlah hal ini cucuku!
Kasihku padamu. Amin. Semoga Tuhan menolongmu.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen









































