
inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku. Sekarang ini musim dingin dan salju maupun es menutupi tanah. Dapatkah kita pergi untuk berjalan-jalan? Lihatlah, ada sebuah gua di sana, dan beberapa orang sedang duduk di depannya, menghangatkan diri di sekitar api.
Lihatlah bagaimana mereka sedang menggigil dan menggosok-gosokkan kedua tangan mereka di atas nyala api itu?
Cucu-cucuku, api dapat menghangatkan tanganmu, tetapi juga dapat membakarnya. Engkau harus berhati-hati untuk mendapatkan jumlah panas yang tepat. Jika engkau berdiri terlalu jauh, maka tidak akan mendapatkan panas yang cukup, tetapi kalau engkau terlalu mendekat, maka panas itu akan berlebihan.
Kita memerlukan api. Api dapat memberi apa yang dapat kita gunakan dari zatnya untuk menghangatkan diri. Tetapi sebelum menggunakannya, kita harus mengetahui batas-batasnya dengan perasaan, kesadaran, akal, dan kearifan kita.
Kita harus menilai seberapa banyak panas yang kita perlukan untuk menghilangkan kekakuan dan kedinginan yang menggigil dan kemudian berdiri pada jarak yang benar dari api.
Seperti ini jugalah dengan Tuhan, cucu-cucuku. Kita membutuhkan Tuhan untuk membuang seluruh penyakit kita: penyakit kesombongan, karma, dan kesemuan (maya), penyakit pikiran, dan penyakit yang timbul dari kurangnya kebajikan kita.
Kita membutuhkan pertolongan Tuhan sebagaimana kita membutuhkan bantuan api untuk menghilangkan kedinginan, tetapi jika kita terlalu mendekat, maka tidak akan mampu menahannya. Kekuatan agung itu akan menghanguskan kita. Akan tetapi, jika kita tetap terlalu jauh dari Tuhan, maka kita tidak akan pernah memperoleh pertolongan-Nya untuk menyingkirkan penyakit karma kita, yang pada akhirnya akan menangkap dan memangsa kita.
Anak-anakku, Tuhan adalah suatu kekuatan yang sangat dahsyat. Dengan cara bagaimana engkau hendaknya berhubungan dengan kekuatan dahsyat itu untuk memperoleh kehangatan dan kedamaian yang engkau butuhkan? Engkau harus berdiri pada tempat yang tepat dalam jarak yang benar dan ulurkan kedua tanganmu.
Engkau harus berada dalam keadaan yang tepat. Engkau harus meraih sifat-sifat, tindakan-tindakan, cinta, dan kearifan dari kekuatan dahsyat itu. Jadi, sebagaimana api dapat bersatu dengan api, maka engkau dapat bersatu dengan kekuatan dahsyat itu.
Jika engkau berbuat demikian, maka seluruh kesulitanmu akan dimudahkan dan tetap terkendali, dan persoalan-persoalan yang tampak seperti gunung yang besar akan dihancurkan menjadi batu-batu kerikil yang sangat kecil. Namun kalau engkau tidak mencapai keadaan ini, maka engkau akan mengalami banyak kesulitan dan mendapatkan sedikit keuntungan. Pikirkan tentang hal ini!
Kasihku padamu, cucu-cucuku. Syekh juga memiliki berkah untuk diberikan kepadamu, tetapi engkau hanya mengetahui kebaikan ini sesuai kemampuanmu untuk menerimanya. Jika engkau terlalu tergesa-gesa, atau terlalu mendekat, maka dapat membahayakanmu. Engkau akan menjadi bingung dan tidak seimbang.
Engkau harus menggunakan akalmu, dan dengan penyerahan diri secara mutlak, konsentrasi penuh, keseimbangan, dan kearifan, dan melangkah pelan pada suatu waktu dan melihat bagaimana engkau rasakan. Lihatlah berapa banyak panas yang dapat engkau tahan?
Ketika engkau maju, sifat-sifat dan tindakan-tindakan, serta cinta Tuhan telah tumbuh di dalam dirimu, bergerak maju. Sekali engkau mendapatkan keadaan dari syekh atau mencapai keadaan Tuhan, maka engkau dan syekh akan bergabung menjadi satu. Namun engkau harus tetap berada pada tingkatan pengetahuan yang sesuai dengan perkembanganmu.
Anak-anakku, tetaplah mendekat kepada syekh demi kebajikan yang engkau butuhkan dan kemudian teruskan perjalananmu menuju Tuhan. Jangan berdiri terlalu jauh, tetapi jangan ulurkan kedua tanganmu sebelum engkau siap menerima kekuatan dahsyat itu, atau kekuatan itu akan membakarmu! Apakah engkau menjadi hangat atau terbakar, itu akan tergantung pada keadaanmu.
Jika engkau berdiri tepat di tempat yang benar, maka engkau akan memperoleh semacam kedamaian ketika persoalan-persoalan itu muncul. Jika engkau menginginkan kemanfaatan dari syekh, maka engkau harus mengembangkan kebajikannya serta sifat-sifat dan tindakan-tindakannya. Maka engkau selalu dapat mendekat.
Dengan cara demikian pula kayu itu terbakar dan [terus] terbakar hingga akhirnya habis, engkau juga harus tetap bergerak maju dan berkembang, sampai akhirnya engkau bergabung dengan syekh.
Syekh juga harus berkembang dan bahkan melangkah lebih dekat kepada Tuhan. Seorang yang bijak, seorang syekh, seorang bapa harus berpasrah diri kepada Tuhan dan menjadi hamba-Nya. Syekh harus mempunyai sifat-sifat Tuhan seperti cara api mempunyai panas. Dia mempunyai tindakan-tindakan Tuhan, yaitu cinta, kasih, sabar, toleran, dan persamaan.
Jika syekh memiliki sifat-sifat tersebut dan jika dia memiliki kearifan, maka seluruh penyakit yang datang pada murid-muridnya melalui kebodohan, karma, ilusi, dan berbagai kecintaan dapat disembuhkan. Dengan cinta serta kearifan dan pemikiran-pemikiran yang baik dari syekh, dengan tatapan dan ucapannya, dengan sifat-sifat baik, tindakan-tindakan, perilaku, kasih, sayang, kebenaran, dan imannya, dia dapat menolong murid-muridnya, dan mereka dapat menemukan kedamaian.
Tetapi jika syekh tidak mempunyai sifat-sifat ini, jika dia dalam keadaan yang sama sebagaimana orang lain atau lebih buruk lagi, maka dia tidak dapat menjadi penolong bagi mereka. Jika anak-anak datang dengan karma dan syekh sendiri bahkan mempunyai karma yang lebih besar, maka anak-anak itu akan menderita.
Jika anak-anak itu dipenuhi dengan ilusi dan syekh sendiri malah lebih terjerat dalam dunia ilusi, maka anak-anak itu akan lebih menderita. Jika tidak terdapat kehangatan apa pun dalam api, bagaimana dapat seseorang yang sedang menggigil karena kedinginan dinyamankan? Jika api melelehkan es, tidak akankah membuat manusia kedinginan?
Seperti itulah jika orang-orang yang kedinginan datang kepada seseorang yang seperti es, maka dia dapat menyebabkan kematian mereka. Dia dapat membunuh mereka.
Cucu-cucuku, syekh itu haruslah menjadi seperti api yang dapat menghangatkan anak-anaknya dan menghilangkan kekakuan serta kedinginan dari karma mereka. Kearifan seorang syekh harus datang dari kearifan Tuhan, firman, tindakan-tindakan, kebenaran, dan cinta-Nya. Jika kebajikan semacam itu berasal dari syekh, maka dia akan memberi kedamaian dan kemanfaatan bagi orang lain.
Cucu-cucuku, engkau harus memikirkan hal ini! Dari api engkau memperoleh kehangatan, dan dari syekh, engkau mendapatkan kearifan dan sifat-sifat baik. Engkau harus mencapai sifat-sifat Tuhan, tetapi untuk mendapatkannya engkau harus berada dalam keadaan yang benar.
Ketahuilah batas-batasmu dan ambillah jumlah panas yang sesuai dengan keadaanmu. Maka engkau akan menemukan kedamaian. Inilah hal yang sangat penting bagi kehidupanmu. Kasihku padamu.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen









































