
inilahmojokerto.com – Sebuah foto bisa merekam peristiwa, tetapi pada saat yang sama juga mengajak publik membaca persoalan yang lebih luas. Di titik itulah fotografi mulai menyeberang dari wilayah jurnalistik menuju seni rupa kontemporer.
Persinggungan tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi publik “Perspektif Fotografi sebagai Karya Seni” dalam rangkaian Artsubs di Balai Budaya Surabaya, Minggu (4/10/2026). Fotografer Bea Wiharta dan Mamuk Ismuntoro hadir sebagai pembicara, dengan Asmudjo J. Irianto sebagai moderator.
Bagi Mamuk, fotografi dokumenter memiliki peluang besar memasuki ruang seni rupa ketika foto tidak berhenti sebagai catatan sebuah kejadian, tetapi mampu menghadirkan pembacaan baru terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Ia mencontohkan proyek kolaborasi 32 fotografer yang merekam perjalanan sekitar dua dekade bencana lumpur Lapindo. Rangkaian foto tersebut tidak hanya menyimpan jejak sebuah bencana, tetapi juga memperlihatkan perubahan ruang, kehidupan masyarakat, hingga lingkungan yang perlahan hilang.
Praktik serupa menjadi bagian dari perjalanan artistik Mamuk melalui fotografi dokumenter. Buku fotonya, Tanah yang Hilang, lahir dari kegelisahan terhadap perubahan lingkungan dan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
“Ini adalah angin segar dan mungkin pengingat bahwa karya kami bisa menembus batas antara jurnalistik dan seni rupa kontemporer,” ujar Mamuk.
Asmudjo melihat fotografi sebagai bagian yang terbuka dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Ia lebih memilih istilah “fotografi seni” ketimbang “seni fotografi” untuk menjelaskan posisi fotografi dalam praktik seni rupa.
Menurut dia, tidak setiap foto otomatis menjadi karya seni hanya karena dibuat oleh seorang fotografer. Yang membuatnya menarik dalam konteks seni adalah gagasan, konteks, serta bagaimana karya tersebut dibaca oleh publik, kurator, dan kritikus.
Dengan demikian, kualitas fotografi tidak semata-mata ditentukan oleh ketajaman teknis atau keindahan visual. Sebuah foto dapat memiliki dimensi sosial dan politik ketika terdapat gagasan serta konteks yang memungkinkan publik menafsirkan lebih jauh.
Pandangan itu memperluas cara melihat fotografi. Kamera bukan hanya alat untuk membekukan momentum, melainkan juga medium untuk menyampaikan pengalaman, ingatan, kegelisahan, bahkan sikap seorang fotografer terhadap realitas di sekelilingnya.
Bea Wiharta mengalami persinggungan tersebut sepanjang kariernya sebagai fotografer Reuters sejak 1999 hingga kemudian bekerja secara independen pada 2019. Berbagai peristiwa besar pernah ia dokumentasikan, mulai dari kerusuhan Trisakti dan Glodok hingga tsunami Aceh serta gempa Nias dan Palu.
Pengalaman panjang itu kemudian menjadi bagian dari buku memoarnya, Unbreakable, yang diluncurkan di ARTJOG. Bagi Bea, foto bukan sekadar hasil pengamatan, tetapi juga menyimpan pengalaman dan sudut pandang fotografer.
Di balik peluang fotografi masuk lebih jauh ke dunia seni rupa, masih terdapat persoalan yang belum selesai: ekosistem fotografi di Indonesia belum cukup kuat.
Persoalan itu mencakup minimnya kritik, terbatasnya ruang kuratorial, hingga apresiasi dan pasar fotografi yang belum berkembang secara optimal.
Kehadiran kritikus dan kurator dinilai penting agar fotografi tidak hanya diproduksi, tetapi juga mendapatkan ruang untuk dibaca dan diperdebatkan. Dengan kritik yang lebih kuat, fotografi memiliki kesempatan untuk berkembang sebagai praktik artistik sekaligus profesi.
Mamuk menunjukkan bahwa fotografi sebenarnya memiliki nilai ekonomi. Ia mencontohkan salah satu fotonya tentang Kawah Ijen yang dibuat pada 2013 dan kemudian dilisensikan melalui sebuah agensi kepada Red Bull Media untuk sebuah majalah di Jerman.
Nilai lisensinya mencapai 5.000 euro untuk penggunaan selama tiga bulan. Skema tersebut bukan penjualan putus, melainkan hak penggunaan atas karya.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa fotografi dapat memiliki nilai komersial. Namun, pasar saja tidak cukup untuk membangun ekosistem yang sehat. Karya tetap membutuhkan ruang pamer, kurasi, kritik, apresiasi publik, serta mekanisme profesional dalam pencetakan dan penyajiannya.
Diskusi Artsubs akhirnya membawa fotografi ke pertanyaan yang lebih luas: apakah sebuah foto harus berhenti sebagai bukti peristiwa, atau dapat berkembang menjadi cara untuk membaca realitas?
Di antara jurnalistik dan seni rupa, fotografi menemukan wilayah yang semakin terbuka. Di sana, sebuah gambar tidak hanya berbicara tentang apa yang pernah terjadi, tetapi juga tentang bagaimana manusia memandang, mengingat, dan menafsirkan dunia.










































