Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan 6 unit mesin pertanian kepada sejumlah gabungan kelompok tani di Desa Sumbertebu, Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (4/10/2026).

inilahmojokerto.com – Waktu menjadi salah satu persoalan penting bagi petani saat musim panen. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan berhari-hari kini bisa dipangkas hanya dalam hitungan jam dengan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Gambaran itu terlihat di Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (4/10/2026). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan enam unit alsintan kepada sejumlah gabungan kelompok tani (gapoktan).

Bantuan tersebut terdiri atas dua unit mesin panen padi atau combine harvester dan empat unit pompa air. Penyerahan dilakukan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Provinsi Jawa Timur.

Bagi petani, kehadiran mesin panen bukan sekadar mengganti tenaga manusia dengan mesin. Lebih dari itu, teknologi tersebut dapat mempercepat pekerjaan ketika padi sudah siap dipanen dan waktu menjadi sangat menentukan.

Khofifah mengatakan, penggunaan alsintan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, efektivitas, sekaligus produktivitas pertanian.

“Pemberian alsintan juga dirangkaikan dengan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur. Jadi memang alat mesin pertanian itu signifikan terhadap efisiensi, efektivitas, dan peningkatan produktivitas pertanian,” kata Khofifah kepada wartawan, Minggu (4/10/2026).

3 Hari Dipangkas Jadi 1 Jam

Berdasarkan informasi dari kelompok tani, panen satu hektare sawah secara manual paling cepat membutuhkan sekitar tiga hari. Dengan combine harvester, luas lahan yang sama dapat dipanen hanya sekitar satu jam.

“Kalau manual kira-kira paling cepat tiga hari. Kalau menggunakan combine harvester, satu hektarenya satu jam. Bisa dibayangkan dari tiga hari menjadi satu jam,” ujar Khofifah.

Kecepatan tersebut menjadi penting karena petani tidak hanya berhadapan dengan persoalan tenaga kerja. Keterlambatan panen juga dapat meningkatkan risiko kerusakan dan kehilangan hasil.

Menurut Khofifah, panen padi secara manual berpotensi menimbulkan kehilangan hasil (losses) sekitar 9 hingga 11 persen. Sementara penggunaan combine harvester dapat menekan kehilangan tersebut menjadi sekitar 1 hingga 2 persen.

“Jadi benar-benar bisa mengurangi potensi penyusutan atas produksi pertanian,” katanya.

Kekeringan 25 Daerah

Di sisi lain, bantuan alsintan diberikan ketika sebagian wilayah Jawa Timur masih menghadapi persoalan kekeringan. Khofifah sebelumnya mengungkapkan sebanyak 25 kabupaten telah mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada Pemprov Jatim.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian. Karena itu, selain distribusi air bersih, pemerintah menyiapkan langkah lain, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan mempertimbangkan data dan prediksi BMKG.

Dari 25 daerah tersebut, Kabupaten Mojokerto termasuk wilayah yang mengajukan status darurat kekeringan. Situasi ini membuat dukungan teknologi pertanian dan pengelolaan air menjadi dua kebutuhan yang saling berkaitan.

Bagi petani, panen yang lebih cepat berarti pekerjaan lebih ringan, sementara ketersediaan air menentukan apakah musim tanam berikutnya dapat berlangsung?.

11

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini