Karya Ufa Faizah, pelukis asal Situbondo, mengolah pengalaman masa kecil melalui simbol boneka dan membangun perjalanan seni rupa hingga ARTSUBS 2026.

inilahmojokerto.com – Boneka bagi Ufa Faizah bukan sekadar benda yang identik dengan dunia anak-anak. Dalam karya pelukis asal Situbondo ini, boneka menjadi simbol pengalaman masa kecil yang membekas, sekaligus cara untuk mengungkapkan perasaan yang dahulu sulit ia suarakan.

Pengalaman personal tersebut menjadi salah satu pintu untuk memahami perjalanan artistik Ufa, yang meninggalkan profesi di bidang hukum demi menekuni seni lukis. Kisahnya mengemuka dalam Wicara Seniman di Balai Budaya Surabaya, Sabtu (17/10/2026), sebagai bagian dari program publik ARTSUBS 2026.

Dalam perbincangan yang dipandu Nirwan Dewanto itu, Ufa hadir bersama dua seniman lain, Dwi Januartanto dari Lamongan dan Garis Edelweis dari Pasuruan. Namun, bagi Ufa, perjalanan menjadi seniman tidak bisa dilepaskan dari pergulatan panjang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Sejak duduk di bangku SMP dan SMA di Ngawi, ia telah menyadari bahwa melukis bukan sekadar kegiatan pengisi waktu. Ketertarikan itu terus bertahan ketika ia menempuh pendidikan S1 Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya dan melanjutkan magister hukum di Universitas Airlangga.

Latar belakang keluarganya membuat pilihan menjadi seniman bukan jalan yang mudah. Ia tumbuh dalam lingkungan dengan aturan ketat, termasuk dalam menentukan pendidikan dan pekerjaan. Ufa sempat diarahkan menuju profesi jaksa atau hakim, sebelum akhirnya bekerja di kantor advokat.

Namun, pendidikan dan pekerjaan tersebut tidak menghapus keinginannya untuk berkarya.

Setelah ibunya meninggal dunia, Ufa kembali ke Situbondo untuk menemani ayahnya yang tinggal sendirian. Kepulangannya juga disertai harapan keluarga agar ia meneruskan usaha produksi bibit padi.

Di titik itulah, Ufa menghadapi pilihan yang tidak sederhana: mengikuti jalan yang telah disiapkan keluarga atau memperjuangkan kehidupannya sendiri sebagai seniman.

Ia memilih terus melukis, meskipun keputusan tersebut tidak serta-merta mendapat dukungan dan pemahaman dari lingkungan terdekat.

Pengalaman masa kecil memberi pengaruh besar terhadap cara Ufa memandang benda-benda di sekitarnya. Salah satu yang paling membekas adalah perundungan berulang yang dialaminya ketika berusia sekitar tujuh tahun.

Sebagai anak bungsu dengan jarak usia 18 tahun dari kakaknya, Ufa berada dalam situasi ketika ia belum sepenuhnya mampu memahami maupun menyuarakan pengalaman yang dialaminya. Ia yang semula ceria kemudian menjadi lebih murung.

Dalam situasi tersebut, boneka hadir sebagai teman. Benda itu menjadi ruang untuk berinteraksi ketika ia merasa tidak memiliki cukup ruang untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.

Pengalaman itulah yang memberi boneka tempat tersendiri dalam bahasa visual Ufa. Boneka tidak lagi semata-mata hadir sebagai objek, tetapi menjadi simbol ingatan, ketakutan, kekecewaan, dan dinamika emosional yang berlangsung di ruang domestik.

Melalui lukisan, pengalaman yang sebelumnya bersifat pribadi mendapatkan bentuk visual yang dapat dihadirkan kepada publik.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana benda sehari-hari dapat memperoleh makna baru ketika ditempatkan dalam pengalaman dan tafsir seorang seniman. Sesuatu yang tampak akrab dapat menyimpan cerita yang tidak selalu terlihat dari permukaannya.

Sebelum mengeksplorasi boneka, Ufa lebih dahulu mengembangkan gagasan melalui benda-benda rumah tangga. Kebiasaannya menghabiskan waktu di rumah membuat lingkungan domestik menjadi sumber pengamatan sekaligus bahan untuk mengembangkan gagasan artistik.

Dari objek-objek yang dekat dengan kesehariannya, eksplorasi Ufa berkembang menuju tema krisis identitas, rasa takut, perubahan, dan transformasi diri. Salah satu karya yang menandai perjalanan tersebut adalah Metamorphosis: The Self Architect, yang merefleksikan proses membangun kembali diri melalui pengalaman personal.

Perjalanan artistik Ufa juga berlangsung melalui eksplorasi teknik dan medium. Ia pernah menggunakan drawing, arang, akrilik, dan cat air sebelum akhirnya memilih cat minyak sebagai medium yang dirasanya paling sesuai untuk mengungkapkan intensitas emosional.

Ufa menggunakan pendekatan direct painting atau alla prima, dengan karakter realis-impresif. Sifat cat minyak yang kental dan memiliki bobot visual menjadi bagian dari pertimbangannya dalam membangun ekspresi pada lukisan.

Pilihan medium tersebut bukan sekadar persoalan teknis. Material, cara mengolah permukaan, dan proses pengerjaan menjadi bagian dari upayanya menemukan bahasa visual yang sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.

Di luar persoalan penciptaan, Ufa juga harus membangun keberlanjutan hidup sebagai seniman. Ia menerima pesanan karya, mulai dari drawing hingga painting, sembari terus mengembangkan praktik artistiknya.

Dukungan suami menjadi salah satu penopang dalam proses tersebut. Selebihnya, Ufa berusaha menjaga motivasi untuk terus berkarya, meskipun perjalanan sebagai seniman tidak selalu memberikan kepastian ekonomi maupun penerimaan dari lingkungan.

Perlahan, ia membangun jejaring seni rupa melalui berbagai kesempatan pameran di Surabaya, bergabung dengan komunitas cat air, dan berinteraksi dengan perupa di Jawa Timur. Ia aktif berpameran sejak 2018, termasuk mengikuti pameran nasional dan ARTSUBS 2026.

Dalam ajang tersebut, Ufa menghadirkan karya Rooted in Grace, Beyond The Spotlight, Dream Catcher, dan Society of Wonders.

Tetap berkarya dari Situbondo, ia menunjukkan bahwa perjalanan seorang seniman tidak harus berhenti pada batas geografis tempat tinggalnya.

Bagi Ufa, melukis pada akhirnya bukan hanya tentang menghasilkan gambar di atas kanvas. Seni menjadi ruang untuk memahami pengalaman, mengolah ingatan, dan membangun kembali hubungan dengan dirinya sendiri.

Dari benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk boneka yang menemaninya sejak kecil, Ufa menemukan cara untuk mengubah pengalaman personal menjadi bahasa artistik.

11

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini