HEADLINE >> SOSOK

Sang Suksesor Kepemimpinan Tebuireng (2): Restu Majelis Songo

Oleh:  Prima Sp Vardhana

DALAM setiap kesempatan memberikan sambutan di pesarean keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Hakim mengemukakan, Gus Sholah adalah sosok yang ikhlas dalam meningkatkan kualitas Pesantren Tebuireng.

Hasil kepemimpinan almarhum dalam melakukan revitalisasi sejak tahun 2006, kondisi pesantren yang berdiri pada tahun 1899 ini demikian membanggakan. Perkembangannya sangat pesat dalam meningkatkan pendidikan para santriwan dan santriwati, yang saat ini berjumlah nyaris sepuluh ribu.

Sebelum menjabat sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng. Menggantikan Gus Sholah yang berpulang, Gus Kikin awalnya menjabat Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng. Ulama yang pengusaha migas ini dipercaya meneruskan perjuangan Gus Sholah. Fakta itu terungkap dari keyakinan Gus Sholah memilihnya. Menyiapkan sebagai calon pengasuh pesantren sejak 2016 silam. Saat itu dirinya diminta adik kandung Gus Dur itu untuk menyiapkan diri.

Pemilihan dirinya sebagai calon Pengasuh Pesantren Tebuireng, dilakukan Gus Sholah melalui musyawarah keluarga. Melibatkan seluruh keturunan KH Hasyim Asy’ari, selaku pendiri pesantren. Sebanyak 200 lebih anggota keluarga Pesantren Tebuireng dikumpulkan Gus Sholah pada 2016 silam. Saat itu, setiap orang yang datang diminta menyampaikan usulan soal siapa sosok, yang tepat menjadi Pengasuh Tebuireng selanjutnya. Menggantikan Gus Sholah.

Berbagai usulan sekaligus kriteria calon pengasuh disampaikan oleh para anggota keluarga. Kriteria usulan itu kemudian dibahas oleh sebuah majelis keluarga. Majelis ini yang terdiri dari sembilan orang perwakilan keturunan KH M Hasyim Asy’ari. Di situ diputuskan siapa yang menjadi pengasuh.

Sembilan tokoh ulama yang merupakan anggota majelis keluarga itu, antara lain KH Abdul Hadi. Ulama yang biasa disapa Gus Didik itu merupakan zuriah dari jalur Nyai Aisyah, putri Mbah Hasyim Asy’ari. Kemudian, KH Abdul Haq (Gus Iqbal) yang merupakan zuriah dari keturunan Nyai Aisyah, putri Mbah Hasyim. Selanjutnya, KH Kholiq Tsani (Gus Aing) dari keturunan KH Kholiq Hasyim, putra Mbah Hasyim. Lalu, KH Umar Wahid yang merupakan adik kandung Gus Sholah dan KH Hasyim Karim yang sekaligus Ketua Majelis Songo.

Selain itu, ada Gus Irfan Yusuf (putra KH Yusuf Hasyim) dan Nyai Qurotul Aini yang merupakan keturunan Nyai Fatimah Hasyim, putri Mbah Hasyim. Juga, Gus Kikin sebagai anggota majelis dari jalur Nyai Khoiriyah Hasyim, putri Mhab Hasyim. Yang terakhir Gus Fahmi dari keturunan Nyai Khodijah Hasyim, putri Mbah Hasyim.

Hasil kesepakatan Majelis Songo itu, menyetujui usulan Gus Sholah memilih Gus Kikin sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng selanjutnya. Sejak 2016 itu, Gus Kikin diminta tinggal di Ndalem kasepuhan, kediaman pengasuh. Sementara Gus Sholah tinggal di rumah yang berlokasi dekat kompleks Maqbaroh atau makam keluarga KH Hasyim Asy’ari.

Pasca kesepakatan penetapan pengasuh pengganti itu, Gus Sholah sering menjalani perawatan di rumah sakit. Dengan persetujuan Gus Sholah, maka diputuskan Gus Kikin sebagai Wakil Pengasuh. Sejak penunjukan tersebut, Gus Kikin pun keram mendapat amanah. Mewakili Gus Sholah saat berhangan. Salah satunya menerima tamu dari berbagai kalangan.

Tidak hanya menerima tamu kenegaraan maupun para ulama, Gus Kikin juga pernah diminta meresmikan beberapa cabang Ponpes Tebuireng di luar pulau. Salah satunya peletakan batu pertama ponpes di Samarinda, Kalimantan Timur, pada September 2019.

Sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng yang baru, Gus Kikin bertekad melanjutkan berbagai pengembangan pesantren yang telah dilakukan Gus Sholah selama ini. Selama dipimpin cucu KH  Hasyim Asy’ari itu, Pesantren Tebuireng telah mempunyai 15 cabang di seluruh Indonesia.

Lebih rincinya Pesantren Tebuireng Pusat di Tebuireng, Cukir, Jombang. Tebuireng II di Jombok, Ngoro, Jombang. Tebuireng III di Hajarun Najah, Indragiri Hilir, Riau., Tebuireng IV di al-Islah Indradiri Hulu, Riau. Tebuireng V di Ciganjur, Jakarta. Tebuireng VI di Binaumma, Cianjur.

Demikian pula Tebuireng VII di Miftakhul Khoir, Bolaang Mongonowan Timur, Sulut Tebuireng VIII di Petir, Serang, Banten. Tebuireng IX di al-Kamal, Sibolangit, Deli Serdang, Sumatra Utara.  Tebuireng X di al-Hijaz, Rejang Lebong, Bengkulu. Tebuireng XI di Ambon Maluku. Tebuireng XII di Darul Shalihin, Tulang Bawang Barat, Lampung. Tebuireng XIII di Pandeglang, Banten. Tebuireng XIV di Madani, Bintan, Kepulauan Riau, serta Tebuireng XV di Samarinda, Kalimantan Timur.

“Kami berkomitmen siap melanjutkan dan menyempurnakan sebuah program yang dibuat almarhum Gus Sholah. Banyak kebutuhan, banyak hal yang harus kami lakukan. Kebutuhan pendidikan, kami tetap lanjutkan itu,” kata pemilik BBS TV Surabaya itu.

Sementara nasab Gus Kikin sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng, ulama murah senyum ini  adalah putra almarhum KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari, yang diperistri KH Ma’shum Ali, ahli falak asal Gresik dan pengarang kitab Amtsilah Tasrifiyah. Yang juga kakak kandung KH Adlan Ali Cukir.

Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Dari jalur ayah ini, Gus Kikin terhitung masih adik sepupu KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, yang saat ini menjabat Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim. Dan, usai perhelatan Konferensi Wilayah NU Jatim yang diselenggarakan di Pesantren Lirboyo Kota Kediri, beberapa waktu berselang, namanya masuk sebagai Mustasyar PWNU Jatim periode 2018-2023.

Kitab Amtsilatut Tashrifiyah karya kakek Gus Kikin itu merupakan kitab etimologi yang sampai sekarang masih diajarkan di Pondok Tebu Ireng. Kini Gus Kikin sendiri yang mengajarkan kitab kuning itu kepada para santrinya. Selain itu, juga mengajarkan kitab kuning populer lainnya Durusul Falaqiyah.

Berita Terkait

Komentar