Bau tak sedap mirip kotoran hewan menyebar hingga ke permukiman, membuat warga resah dan khawatir akan kesehatan anak-anak mereka.

inilahmojokerto.com — Sepasang ibu tua di Dusun Pandisari masih mengingat benar pagi-pagi saat bau tajam itu pertama kali menusuk hidungnya. Hari itu seperti biasa ia menyapu halaman rumah sambil menunggu cucunya keluar sekolah. Namun, aroma tajam dari bekas galian C di pinggiran desa membuat napasnya serasa tertahan, seolah ada sesuatu yang salah pada tanah yang dulu sejuk itu.

“Kami tak bisa buka jendela, bahkan tidur pun terganggu,” kata warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Keluhan serupa datang dari puluhan rumah di dua desa sekitar. Bau tak sedap mirip kotoran hewan menyebar hingga ke permukiman, membuat warga resah dan khawatir akan kesehatan anak-anak mereka.

Keluhan warga akhirnya sampai di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto, yang segera turun tangan setelah menerima laporan. Tim DLH menemukan tiga titik pembuangan yang dipenuhi kotoran ayam di lahan bekas galian C di perbatasan Desa Sawo dan Desa Wonodadi. “Temuan sementara memang limbah dari kotoran ayam, dan sudah menimbulkan dampak bagi masyarakat,” ujar Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono.

DLH kemudian menghentikan sementara aktivitas pembuangan limbah tersebut dan memberikan arahan agar pengelolaan dilakukan dengan benar.

Namun tindakan ini hadir bukan tanpa kritik. Warga bertanya-tanya, mengapa pembuangan limbah bisa berlangsung begitu lama tanpa pengawasan, padahal dampaknya langsung dirasakan oleh mereka yang tinggal di lingkungan sekitar.

Sebagaimana diberitakan, limbah kotoran ayam ditemukan di tiga titik bekas galian C di Kutorejo, menimbulkan bau tidak sedap bagi warga setempat.

Para orang tua, yang setiap hari mengantar anaknya ke sekolah di pagi hari, kini sering terhenti di tengah jalan, menutup hidung dan menyeka air mata akibat bau yang menusuk. Ia pun bertanya, “Apakah desa kecil seperti kami harus terus menanggung beban udara tercemar agar pihak lain bebas membuang limbah tanpa tanggung jawab?”

Keprihatinan itu bukan sekadar keluhan. Ia mencerminkan keresahan warga terhadap kualitas lingkungan hidup yang mulai tergerus.

Di tengah upaya pemerintah daerah memperketat pengawasan pembuangan limbah, warga berharap adanya integrasi antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan. Tidak cukup hanya berhenti pada tindakan administratif, tetapi juga perlu adanya sistem pengelolaan limbah yang benar dan berkelanjutan agar desa yang dulu sejuk bisa kembali menjadi tempat yang layak dihuni.

“Ini bukan hanya soal bau,” ujar seorang guru sekolah dasar di Kutorejo. “Ini soal hak kami atas udara bersih, tentang masa depan anak-anak kami yang berlari di halaman sekolah tanpa harus mencium bau yang membuat mereka batuk.”

Harapannya sederhana, bagaimana lingkungan yang sehat untuk tumbuh kembang generasi berikutnya.
Dengan intervensi DLH, sementara warga berharap keluhannya didengar, kini tersisa pertanyaan besar, negara perlu menjamin bahwa setiap pembangunan dan aktivitas ekonomi tidak mengorbankan lingkungan dan kesehatan masyarakat. (kim)

10

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini