Ufa Faizah membagikan perjalanan hidup dan proses kreatifnya sebagai pelukis dalam Wicara Seniman di Balai Budaya Surabaya, bagian dari ARTSUBS 2026.

inilahmojokerto.com – Gelar magister hukum dan pengalaman bekerja di kantor advokat tidak membuat Ufa Faizah meninggalkan dunia seni. Perempuan asal Situbondo itu justru memilih jalan yang berbeda dari latar belakang pendidikannya: menekuni seni lukis, bidang yang telah menarik perhatiannya sejak remaja.

Pilihan tersebut bukan keputusan yang datang tanpa pergulatan. Ufa tumbuh dalam keluarga dengan aturan ketat, termasuk dalam menentukan pendidikan dan pekerjaan. Menjadi seniman bukan pilihan yang mudah diterima, terlebih ketika profesi di bidang hukum dipandang sebagai jalan hidup yang lebih jelas.

Ufa menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA di Ngawi sebelum melanjutkan studi S1 Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya dan magister hukum di Universitas Airlangga. Di tengah perjalanan akademiknya, ketertarikan terhadap seni lukis tetap bertahan.

Ia sempat diarahkan untuk menekuni profesi jaksa atau hakim. Namun, Ufa akhirnya memilih bekerja sebagai advokat karena pertimbangan hati nurani. Di balik perjalanan tersebut, keinginan untuk melukis tidak pernah benar-benar hilang.

Titik penting dalam hidupnya datang setelah sang ibu meninggal dunia. Ufa kembali ke Situbondo untuk menemani ayahnya yang tinggal sendirian. Kepulangannya juga disertai harapan keluarga agar ia meneruskan usaha produksi bibit padi.

Di hadapan pilihan itu, Ufa menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar menentukan pekerjaan. Ia harus memutuskan apakah akan mengikuti jalan yang telah disiapkan keluarga atau memperjuangkan kehidupan yang sesuai dengan minat dan keyakinannya sendiri.

Keputusan itu membawa konsekuensi. Ia harus menghadapi tuntutan keluarga, lingkungan yang belum sepenuhnya memahami pilihannya, serta ketidakpastian ekonomi ketika seni lukis dijadikan sumber penghidupan. Bahkan, pencapaian berpameran belum selalu membuat orang-orang terdekat memahami mengapa seni begitu penting baginya.

Dalam situasi tersebut, dukungan suami menjadi salah satu penopang bagi Ufa untuk terus melukis. Ia juga berusaha membangun kemandirian dengan menerima pesanan karya, mulai dari drawing hingga painting, sembari mengembangkan gagasan dan teknik artistiknya.

Bagi Ufa, berkarya tidak cukup hanya mengandalkan keinginan. Ia harus menjaga konsistensi, mencari kesempatan berpameran, dan terus menemukan bahasa visual yang dapat mewakili pengalaman serta pemikirannya.

Pengalaman personal kemudian menjadi salah satu sumber utama dalam penciptaan karyanya. Boneka, misalnya, memiliki arti khusus karena berkaitan dengan pengalaman masa kecil ketika ia menghadapi perundungan dan kesulitan menyuarakan perasaannya.

Dalam lukisan Ufa, boneka bukan sekadar objek dekoratif. Ia menjadi simbol ingatan, ketakutan, kekecewaan, dan pengalaman emosional yang kemudian diolah menjadi bahasa artistik.

Eksplorasinya berkembang ke tema krisis identitas, perubahan, dan transformasi diri. Salah satu karya yang mencerminkan gagasan tersebut adalah Metamorphosis: The Self Architect, yang berbicara tentang proses membangun kembali diri melalui pengalaman personal.

Ufa juga terus mengeksplorasi teknik. Setelah mencoba drawing, arang, akrilik, dan cat air, ia memilih cat minyak dengan pendekatan direct painting atau alla prima serta karakter realis-impresif. Medium tersebut dianggap lebih sesuai untuk menyampaikan intensitas emosi yang ingin dihadirkannya.

Perjalanan artistiknya tidak berhenti di Situbondo. Aktif berpameran sejak 2018, Ufa membangun jejaring dengan komunitas dan perupa di Jawa Timur, mengikuti berbagai pameran nasional, hingga berpartisipasi dalam ARTSUBS 2026 di Surabaya. Dalam ajang tersebut, ia menghadirkan karya Rooted in Grace, Beyond The Spotlight, Dream Catcher, dan Society of Wonders.

Perjalanan Ufa menjadi bagian dari Wicara Seniman di Balai Budaya Surabaya, Sabtu (17/10/2026), dalam rangkaian program publik ARTSUBS 2026. Dalam acara yang dipandu Nirwan Dewanto itu, ia berbagi cerita bersama Dwi Januartanto dari Lamongan dan Garis Edelweis dari Pasuruan.

Kisah Ufa memperlihatkan bahwa pendidikan dan profesi yang pernah ditempuh seseorang tidak selalu menentukan arah hidupnya untuk selamanya. Bagi dirinya, jalan menjadi seniman justru menuntut keberanian untuk menghadapi ketidakpastian sekaligus kesediaan menjalani proses panjang dalam menemukan bentuk dan makna karya.

Tetap berkarya dari Situbondo, Ufa terus membangun ruangnya di dunia seni rupa. Ia tidak hanya berusaha memperkenalkan karya kepada publik, tetapi juga menjadikan melukis sebagai cara memahami pengalaman dan menentukan arah hidupnya sendiri.

Pada akhirnya, gelar akademik dan pengalaman profesional yang pernah dimilikinya menjadi bagian dari perjalanan, bukan batas yang menghalangi pilihan berikutnya. Ufa memilih seni lukis bukan karena jalannya lebih mudah, melainkan karena di sanalah ia menemukan ruang untuk terus berkarya dan menjadi dirinya sendiri.

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini