
inilahmojokerto.com – Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), pengetahuan yang diwariskan melalui tangan para perajin gerabah menyimpan pertanyaan penting: masihkah tradisi memiliki tempat dalam seni masa kini?
Pertanyaan itu menjadi salah satu titik temu diskusi publik ARTSUBS pada Minggu (25/10/2026), yang mempertemukan seniman keramik Iftikhar Ahmad Rajwie dan seniman sekaligus kurator Arik S. Wartono. Keduanya menelusuri tradisi gerabah dari sudut berbeda, mulai dari praktik perajin Sitiwinangun, Cirebon, hingga jejak sejarah gerabah Gosari di Gresik.
Diskusi yang dimoderatori Asmujo Jono Irianto ini berlangsung pukul 15.00–17.00 WIB di selasar Balai Budaya, lantai 2, Balai Pemuda, Jalan Gubernur Suryo 15, Surabaya.

Bagi Iftikhar, gerabah bukan sekadar benda pakai, melainkan artefak budaya yang merekam pengetahuan material, identitas, dan ingatan masyarakat. Melalui kolaborasinya dengan perajin Sitiwinangun, ia mempertemukan teknik tradisional dengan eksplorasi seni rupa kontemporer.
Kekhasan patung dan ornamen bercitra makhluk mitologi, serta teknik pembakaran tradisional, menjadi bagian penting dari eksplorasi tersebut. Tradisi tidak hanya dipertahankan bentuknya, tetapi juga dibaca ulang untuk menemukan kemungkinan baru dalam praktik seni.
Iftikhar, lulusan seni rupa bidang keramik Institut Teknologi Bandung (ITB), mempertanyakan posisi keterampilan tangan dan pengetahuan lokal di tengah proses penciptaan yang semakin mengandalkan mesin dan teknologi digital.
Dalam ARTSUBS, karya kolaboratifnya bersama sejumlah perajin Sitiwinangun ditampilkan di Zona 6, ruang basement Balai Pemuda Surabaya. Para perajin yang terlibat antara lain Nurjaji, Eka Budiatmo, Asep Saptian, Fabianto, dan Suyandi. Karya Muhammad Hasbi Ariobimo juga ditampilkan secara mandiri.
Sementara itu, Arik S. Wartono menelusuri gerabah melalui pendekatan sejarah dan arsip. Perhatiannya tertuju pada Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, yang menyimpan jejak industri gerabah masa klasik serta Prasasti Gosari dari abad ke-14.
Melalui pameran tunggal Dari Gosari ke Kasongan di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, pada 17–18 September 2026, pendiri Sanggar Daun tersebut mempertemukan karya seni, artefak gerabah, dokumentasi fotografi, dan penelusuran sejarah.

Arik membaca Gosari dan Kasongan di Yogyakarta sebagai dua kawasan produksi gerabah yang dapat diperbandingkan melalui material, teknik, serta ingatan kebudayaan. Pendekatan artistik itu menjadi cara untuk menghidupkan kembali sejarah yang berisiko terputus dari kesadaran masyarakat.
Meski tidak menjadi peserta ARTSUBS, pengalaman Arik memperluas perspektif diskusi tentang bagaimana warisan gerabah dapat dibaca kembali melalui seni rupa.
Pertemuan kedua pendekatan tersebut menempatkan gerabah bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan, dan identitas yang terus diuji oleh perubahan zaman.
Persoalannya bukan hanya bagaimana tradisi bertahan, melainkan bagaimana pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap hidup, berkembang, dan menemukan makna baru tanpa kehilangan akar budayanya.









































