
inilahmojokerto.com – Pecahan gerabah, tungku pembakaran, dan jejak arkeologis di Gosari, Gresik, menyimpan cerita tentang aktivitas produksi pada masa lampau. Namun, di kawasan yang pernah menjadi tempat pembuatan gerabah tersebut, tradisi produksinya kini tidak lagi berlanjut.
Kontras antara jejak material yang masih bertahan dan keterampilan yang telah hilang menjadi perhatian seniman asal Gresik, Arik S. Wartono. Dalam Wicara Seniman “Desa Gerabah: Antara Tradisi, Modernitas, dan Seni Rupa Kontemporer” di Balai Pemuda, Surabaya, Minggu (25/10/2026), ia memaparkan penelusurannya terhadap sejarah gerabah Gosari.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari ARTSUBS 2026 dan dimoderatori kurator Asmudjo J. Irianto.
Dalam paparannya, Arik menyebut aktivitas produksi gerabah di Gosari berlangsung sekitar abad ke-12 hingga abad ke-15. Ia merujuk pada temuan arkeologis berupa fragmen gerabah, tungku pembakaran, keramik, koin, sendang, makam kuno, dan prasasti yang memperlihatkan kekayaan jejak sejarah kawasan tersebut.
Salah satu temuan yang membekas dalam ingatan Arik adalah timbunan pecahan gerabah yang dahulu membukit hingga setinggi menara masjid. Ia mengingat, pada 2003, timbunan tersebut masih terlihat jelas.
Bagi Arik, pecahan-pecahan itu bukan sekadar sisa benda yang gagal digunakan. Dalam jumlah besar, fragmen gerabah dapat menjadi petunjuk mengenai aktivitas produksi, teknologi pembakaran, dan kehidupan masyarakat yang pernah berkembang di kawasan tersebut.
Ironisnya, material yang menyimpan nilai sejarah itu pernah dipandang sebagai sesuatu yang tidak berguna. Arik mengisahkan sebagian kawasan sempat diratakan menggunakan buldoser untuk rencana pembangunan lapangan sepak bola.
Peristiwa tersebut memperlihatkan persoalan mendasar dalam pelestarian warisan budaya: nilai sebuah situs tidak selalu dipahami ketika pembangunan dan kebutuhan masa kini mengambil alih ruang.
Kini, tantangan Gosari bukan hanya merawat peninggalan fisik, tetapi juga membangun kembali hubungan masyarakat dengan sejarahnya. Tungku dan fragmen gerabah dapat dilestarikan, tetapi keduanya tidak serta-merta mengembalikan pengetahuan membuat gerabah yang telah terputus.
Arik menawarkan kemungkinan menjadikan Gosari sebagai ruang pembelajaran arkeologi bagi anak-anak. Melalui pengenalan situs dan fragmen, sejarah dapat dipelajari sebagai proses membaca bukti, bukan sekadar menghafal cerita masa lampau.
Ia juga membayangkan kawasan tersebut menjadi ruang residensi seniman. Seniman dari berbagai daerah dapat tinggal dan berkarya selama satu hingga dua minggu, sekaligus memperkenalkan potensi sejarah Gosari kepada publik yang lebih luas.
Gagasan lainnya ialah menjalin kolaborasi dengan perajin dari sentra gerabah yang masih aktif, seperti Kasongan, Yogyakarta. Pertukaran pengetahuan dan keterampilan diharapkan membuka kemungkinan bagi masyarakat Gosari untuk kembali mengenal produksi gerabah, termasuk mengembangkan produk bagi kebutuhan wisata.
Namun, gagasan menghidupkan kembali produksi harus berjalan seiring dengan penelitian dan perlindungan situs. Penelusuran hubungan sejarah Gosari dengan sentra gerabah lain juga membutuhkan pembuktian lebih lanjut agar tidak berhenti sebagai dugaan.
Bagi seni kontemporer, Gosari menawarkan lebih dari sekadar inspirasi visual. Kawasan ini menghadirkan pertanyaan tentang bagaimana benda-benda masa lalu dapat mengaktifkan kembali ingatan, pengetahuan, dan hubungan masyarakat dengan warisan budayanya.
Pelestarian tidak cukup membuat peninggalan sejarah tetap terlihat. Tantangan yang lebih besar adalah menjadikan sejarah itu bermakna bagi generasi sekarang, tanpa mengabaikan bukti arkeologis maupun kebutuhan masyarakat yang hidup di sekitarnya.









































