HEADLINE >> INSPIRASI

Hari Perempuan Sedunia, Perjuangan Kaum Hawa Hapus Diskriminasi

IM.com – Hari Perempuan Internasional atau dikenal dengan Hari Perempuan Sedunia diperingati tiap tanggal 8 Maret. Google Doodle pun tak ketinggalan untuk memperingatinya dengan logo Google bertema istilah perempuan dalam berbagai bahasa di dunia pada halaman utamanya.

Sejarah Hari Perempuan Sedunia bermula dari aksi unjuk rasa pada 8 Maret 1909 dan dirintis oleh kaum sosialis di Amerika Serikat. Mereka mogok kerja karena kondisi kerja yang mengerikan. Berbagai tuntutan diungkapkan di antaranya untuk kesetaraan upah, pengurangan jam kerja, dan pemberian cuti yang masuk akal.

Nah, peringatan Hari Perempuan Sedunia awalnya bertujuan menghormati peristiwa mogok kerja para buruh perempuan di pabrik garmen New York tahun 1908. Tujuannya untuk mewujudkan kesetaraan gender secara utuh bagi perempuan.

Temma Kaplan melalui tulisannya “On the Socialist Origins of International Women’s Day”, dimuat dalam Feminist Studies (1985), mengungkapkan, riwayat perayaan Hari Perempuan Sedunia berawal pada 8 Maret 1857. 

Saat itu, tulis Kaplan, terjadi protes dari wanita buruh yang bekerja di pabrik tekstil di New York. Tindakan semena-mena dan upah rendah menjadi alasan aksi tersebut. Namun, belum ada dampak lanjutan yang signifikan setelah unjuk rasa itu.

Tepat 50 tahun berselang, tanggal 8 Maret 1907, seperti yang tertulis dalam buku The Feminism Book: Big Ideas Simply Explained (2019), dikabarkan telah terjadi aksi demonstrasi yang melibatkan lebih dari 15 ribu perempuan buruh pabrik tekstil di New York. 

Sampai hari ini, isu yang didengungkan kaum sosialis satu abad silam itu nampaknya masih relevan. Perempuan merasa masih diperlakukan secara diskriminatif dari para pekerja pria.

Di Indonesia, Kartini menjadi ikon pahlawan yang pertama kali penyuarakan ‘pembebasan kaum perempuan dari stigma konservatif. Pada generasi lebih modern, almarhum Marsinah menjadi simbol perjuangan kaum buruh perempuan.

Kini makin banyak lagi kasus yang berkembang dan menjadi tuntutan di Hari Perempuan Sedunia. Mulai dari pelecehan, penganiayaan, kekerasan dan perbedaan perlakuan.

Satu laporan PBB menemukan bahwa perempuan didiskriminasi hampir di setiap negara di dunia. Sementara satu dari tiga perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik atau pelecehan seksual. Berdasarkan keinginan untuk lebih dihargai dan dihormati, maka Hari Perempuan Sedunia masih tetap dirayakan hingga sekarang.

Hanya sikap dan ekspresinya yang barangkali berbeda dengan jaman dulu. Selain aksi unjuk rasa damai, peringatan Hari Perempuan Sedunia kini juga sering dirayakan dengan pertunjukan kesenian, diskusi, demonstrasi, pawai, hingga konferensi.

Menurut World Economic Forum, kesenjangan gender antar pria dan perempuan masih akan berlangsung hingga tahun 2186. Gerakan-gerakan perempuan sendiri makin berkembang dari tahun ke tahun. (im)

Berita Terkait

Komentar