Musim yang tak menentu sepanjang tahun 2016 dan 2017 membuat pertumbuhan nyamuk semakin pesat dan jumlah penderita DBD tahun 2016 naik mencapai 23 orang

IM.com – Jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kota Mojokerto terus meningkat. Masih banyaknya lingkungan kumuh di Kota Onde-onde menjadi pemicu utamanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto, Christiana Indah Wahyu mengatakan, sepanjang tahun 2015, virus dengue menyerang 16 warganya. Bukannya turun, tahun 2016 jumlah penderita DBD justru naik mencapai 23 orang.

Menurut dia, kasus DBD paling banyak terjadi di wilayah kumuh, seperti Lingkungan Randegan Kelurahan Kedundung dan Lingkungan Sinoman Kelurahan Miji.

“Warga sudah melakukan gerakan 3M (menguras, mengubur, menutup), tapi limbah cair rumah tangga menggenang karena sanitasi buruk, rumah penduduk sangat rapat mejadi tempat yang baik untuk perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti,” kata Indah kepada wartawan, Rabu (25/1/2017).


Selain itu, lanjut Indah, musim yang tak menentu sepanjang tahun 2016 dan 2017 membuat pertumbuhan nyamuk semakin pesat. Oleh sebab itu, dia berharap warga Kota Mojokerto rajin menjaga kebersihan lingkungan.

“Jangan sampai lingkungan tak bersih, masalah penyakit akan menjadi lingkup lingkungan, berbagai penyakit lain akan muncul, seperti diare, difteri,” cetusnya.

Sementara awal 2017, tambah Indah, terdapat tiga orang warga Kota Mojokerto yang menderita DBD. Bahkan dua diantaranya berusia balita yang saat ini menjalani perawatan di RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo. Sementara seorang pasien lainnya dirawat di RSI Sakinah.

“Kami sudah meminta petugas kami untuk melacak lokasi korban terkena DBD supaya penanganan kami tepat untuk mencegah penyebaran,” tegasnya.

Sementara dokter spesialis anak RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, dr Vita Dwi Wijayanti menuturkan, jumlah pasien anak DBD cenderung fluktuatif. Jika pada November 2016 mencapai 36 pasien, Desember 18 pasien, sampai 20 Januari 2017, pihanya telah merawat 14 pasien anak positif DBD. Para pasien termasuk juga warga Kabupaten Mojokerto dan daerah lain.

“Selama musim hujan jangan hanya mengandalkan foging karena itu hanya untuk membasmi nyamuk dewasa. Masyarakat harus menggalakkan gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk),” tandasnya. (bud/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here