Merosotnya gabah disebabkan tidak ada panen selama bulan Januari dan Februari sehingga pengadaan gabah minus 19 ribu ton dari target yang ditetapkan 30 ribu ton

IM.com – Kinerja Perum Bulog Divisi Regional Jawa Timur dalam pengadaan gabah dari petani, masih tergolong loyo. Bagaimana tidak, pada triwulan pertama 2017, serapan gabah di Jatim baru tercapai 160 ribu ton dari proyeksi 200 ribu ton, atau minus 40 ribu ton.

Kepala Bulog Divisi Regional Jatim, Usep Karyana mengatakan, taget penyerapan gabah petani di 2017 dipatok 900 ribu ton. Proyeksi pengadaan gabah itu ditetapkan naik dari realisasi tahun 2016 sebanyak 700 ribu ton. Namun, selama triwulan I (Januari-Maret) tahun ini, realisasi belum memuaskan.

“Realisasi kami saat ini 160 ribu ton dari kontrak 200 ribu ton,” kata Usep usai menyerahkan bantuan sembako untuk korban banjir Mojokerto di dapur umum Mojoanyar, Sabtu (1/4/2017).

Masih loyonya penyerapan gabah petani, lanjut Usep, salah satunya akibat banjir di sejumlah daerah di Jatim, seperti Kabupaten Mojokerto, Gresik, dan Jombang. Sementara faktor utama minusnya realisasi penyerapan gabah karena bulan Januari-Februari belum masa panen. Sehingga pengadaan gabah di Jatim baru efektif sejak awal Maret.


“Saat ini rata-rata penyerapan harian 8-9 ribu ton. Pertengahan April mulai panen raya. Melihat realisasi harian, kami optimis target 2017 akan tercapai karena sudah berkalilipat dibandingkan 2016,” ujarnya.

Kendati begitu, tambah Usep, untuk menyerap gabah petani sesuai ketentuan Inpres No 5 Tahun 2015, bakal terkendala curah hujan yang tinggi. Standar gabah kering panen (GKP) seharga Rp 3.700 per Kg, ditetapkan dengan kadar air 25%, hampa kotoran 3%, gabah kering giling (GKG) dengan kadar air 14% dan hampa kotoran 3% dibeli Rp 4.650 per Kg, sedangkan beras kualitas medium dengan kadar air 14% broken 20% menir 2% diserap seharga Rp 7.300 per Kg.

“Bulog punya driyer (mesin pengering gabah), kami kerjasama dengan gapoktan yang difasilitasi Kementan. Musim hujan begini, kadar air memang cukup tinggi, namun ada mesin driyer bisa diatasi,” terangnya.

Lemahnya penyerapan gabah petani juga terjadi di wilayah Mojokerto dan Jombang. Kepala Bulog Sub Divre Surabaya Selatan yang membawahi kedua daerah tersebut, Arsyad mengatakan, realisasi pengadaan gabah pada triwulan I 2017 baru 11 ribu ton.

Selama tiga bulan ini, pengadaan gabah minus 19 ribu ton dari target yang ditetapkan 30 ribu ton. “Faktornya karena panen baru awal Maret, Januari-Februari tak ada panen,” kilahnya.

Meski pengadaan gabah di awal tahun kurang memuaskan, Arsyad tetap optimis target tahun 2017 sebanyak 90 ribu ton akan tercapai. Meski curah hujan yang masih tinggi, ditambah lagi faktor banjir, mengakibatkan standar gabah sesuai ketentuan bakal sulit direalisasikan.

“Banjir pengaruhnya sedikit tajam, hanya faktor pengeringan, diupayakan gapoktan mengirim gabah ke kami sesuai standar Bulog meski waktu agak mundur,” tandasnya.(kus/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here