Basarnas mengumpulkan dan memasukkan potongan jasad korban serta puing pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Tanung Karawang, kemarin, untuk dilakukan proses identifikasi.

IM.com – Hingga Selasa (20/10/2018) sore pukul 16.00 WIB, Badan SAR Nasional (BASARNAS) telah membawa 33 kantong jenazah. Dari jumlah itu, 13 kantong berisi potongan mayat, tidak ada satupun jasad yang ditemukan Basarnas dalam kondisi utuh.

Sementara 20 kantong jenasah lain berisi puing pesawat. Untuk kantong berisi mayat, sudah diserahkan ke Rumah Sakit Polri di Kramatjati, Jakarta Timur guna proses identifikasi.

Menurut Direktur Kesiapsiagaan BASARNAS Didi Hamzar, pihaknya menambah radius pencarian dari titik koordinat diduga pesawat jatuh sejauh 10 nautical mile (NM). Pada hari pertama pencarian kemarin, Basarnas melakukan penyisiran radius 5 NM.

“Kami butuh waktu karena memang pesawat kecepatan tinggi jatuh kalau kami asumsi enggak mungkin mengambang, pasti ada dorongan,” kata Didi, Selasa sore (30/10/2018).


Sementara dua kantong mayat terakhir tiba sekitar pukul 16.17 WIB dengan dua mobil ambulans terpisah. Setiba di lokasi, dua kantong jenazah itu langsung dibawa ke dalam kamar mayat RS Polri.

Kantong-kantong mayat itu tampak penuh dan tebal. Tim DVI Polri juga terus mengidentifikasi korban-korban itu.

“Kami harus katakan tentang ini bahwa yang kami terima itu body part; potongan-potongan tubuh. Tidak ada satu pun dari kantong jenazah itu yang kami terima dalam bentuk jenazah yang masih utuh,” kata Kepala Pusdokkes Polri Brigadir Jenderal Polisi Arthur Tampi.

Untuk proses identifikasi, Arthur mengatakan, bisa memakan waktu 4-8 hari. Proses identifikasi bergantung pada kondisi bagian tubuh korban yang diterima pihak Rumah Sakit Polri.

“Kita perlu waktu. Karena masyarakat pasti bertanya kenapa lama? Dengan body part yang kita temukan, paling cepat kita akan dapat mengidentifikasi yang sudah ada itu adalah sekitar 4-8 hari ke depan,” ujar Arthur.

Tim DVI Rumah Sakit Polri saat ini fokus melakukan rekonsiliasi untuk mencocokan data di kamar jenazah melalui data ante mortem yang didapat dari kerabat korban Lion Air JT-610.

Jika data korban cocok dengan data keluarga yang diterima tim DVI, maka akan segera dirilis identifikasinya, untuk kemudian diserahkan kepada pihak keluarga.

“Untuk pemahaman kita bersama bahwa pada gilirannya dengan kondisi seperti ini mungkin tidak semua korban bisa kita temukan. Pertama itu sertifikatnya seperti apa? Seperti yang sudah kita laksanakan yang lalu. Semua yang teridentifikasi kita keluarkan sertifikat kematiannya.” ujarnya. (vin/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here