Veteran Wartawan Tak Pernah Berhent
Para veteran wartawan reuni saat peluncuran buku Dahsyatnya Silaturahim. Kiri - kanan : Dhimam Abror Djunaid, Surya Aka, Rokimdakas

IM.com – Bagi yang dulu berprofesi wartawan kemudian pensiun, kemanakah para jurnalis senior berlabuh? Bagai ujaran serdadu, “Tentara tua tidak pernah mati. Mereka hanya menghilang.” Begitu pun jurnalis, tidak pernah berhenti. Jurnalis senior tetap bisa menemukan ruang ekspresi untuk menuangkan pikiran, manawarkan nilai-nilai.

Paseduluran Cowas JP menjawab pertanyaan tersebut dengan menerbitkan buku kompilasi bertajuk “Dahsyatnya Silaturahmi – Bersih Hati Bersih Pikiran”. Para veteran akan terus menulis. Nulis sampik tuwèk, kekancan sampik matèk, begitulah filosofi Cowas JP, kumpulan konco lawas – teman lama – yang pernah bekerja di Jawa Pos Grup.

Yang namanya teman sudah tentu merasa kangen untuk bertemu untuk bernostalgia kemudian menggelar reuni berulang kali, selain membahas bisnis juga menyiapkan media daring cowasjp.com sebagai ajang klangenan. Pada reuni kesembilan, bareng ulang tahun ketiganya di Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri), Sleman, Jogjakarta, Cowas dikompori Aqua Dwipayana untuk melombakan tulisan, sebanyak 43 naskah masuk.

Tema penuangannya inspiratif tentang kiprah manusia yang menampakkan nilai-nilai kebaikan dalam hubungan antar-sesama. “Sarapan Dengan Mbak Ti Serasa Muka Ditampar” tulisan Fuad Ariyanto berkisah tentang asisten rumah tangga Aqua Dwipayana bernama Mbak Ti. Semula dia berperan sebagai pembantu rumah tangga kemudian dijadikan kepala urusan rumah tangga. Karena rumah sering kosong ditinggal oleh si empunya yang memiliki berjibun agenda sehingga dia sering mewakili tuan rumah ketika ada pertemuan warga.


Obyek penulisannya bukan news maker, terkesan remeh namun ada ungkapan yang dirasa menyentak oleh penulisnya, “Karena Pak Aqua senang berbagi tanpa pilih kasih, maka saya pun ingin menirunya. Kalau saya dapat Rp 10 ribu maka yang Rp 3 ribu saya sisihkan untuk orang lain. Kalau tidak bisa dengan uang, saya bisa menyumbangkan tenaga,” tutur Mbak Ti pada Fuad.

Kata-kata Mbak Ti terasa menampar muka. “Selama ini apa yang saya lakun untuk orang lain? Rasa tidak ada,” tulis Fuad yang terpilih sebagai juara pertama lomba penulisan yang hadiahnya diberikan bagi Paseduluran Cowas JP.

Reuni adalah ajang untuk temu kangen kawan-kawan lama sekaligus berbagai cedrita kenangan mas alalu. Tetapi reuni Cowas JP yang digagak Pak Aqua, rounder The Power of Silaturahim ternyata bisa memberi makna yang jauh lebih dalam tentang esensi reuni. Sebab, dari reuni tersebut muncul berbagai kejutan yangmembahagian, mengharukan, sekaligus membanggakan bagi para peserta, tulis Mayjen TNI Arif Rahman, Pangdam V/Brawijaya.

Dr. Aqua Dwipayana, pakar komunikasi dan motivator juga berinisiatif membukukan. Maka terbitlah buku yang ditulis oleh 22 penulis dengan judul “Dahsyatnya Silaturahmi – Bersih Hati Bersih Pikiran” dengan tiras 5.000 eksemplar dan dalam tempo singkat telah terjual, kini memasuki proses cetakan kedua dengan oplag yang sama. Hal itu disampaikan saat peluncuran buku di di Graha Pangeran, Surabaya, Sabtu (10/11/2018).

Dhimam Abror Djuraid, arek Cowas yang pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi Jawa Pos menuturkan, ketrampilan menulis kurang lebih seperti ketrampilan naik sepeda. Awalnya harus dipaksa dengan terus menerus berlatih dan jatuh bangun. Tapi, setelah ketramplanitu didapat dan terus menerus diasah selama berbelas dan berpuluh tahun, ketrampilan itu akan terus melekat dan terlihat sampai tua. Itu sebabnya jurnalis tak pernah behenti menulis sampai mati. (kim/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here