Sekjen Persatuan SMK Kesehatan Indonesia (Persemki), Nano Priyanto saat meninjau stan pameran salah satu SMK Kesehatan di acara HUT Persemki ketiga di Atrium Maspion Square Surabaya, Selasa (13/11/2018).

IM.com – Animo pelajar untuk masuk SMK, khususnya vokasi kesehatan tak terpengaruh dengan hasil penelitian Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini. Persatuan SMK Kesehatan Indonesia (Persemki) mengklaim 90 persen dari 70.000 lulusan SMK Kesehatan setiap tahun terserap dunia kerja, bahkan ada yang bekerja di luar negeri.

“Banyak yang terserap di rumah sakit, klinik, industri farmasi dan berbagai industri bidang kesehatan. Yang 10 persennya berwirausaha, dan melanjutkan pendidikan,” tutur Sekjen Persemki, Nano Priyanto saat pembukaan HUT Persemki ke-tiga di Atrium Maspion Square Surabaya, Selasa (13/11/2018).

Klaim Persemki ini berbanding terbalik dengan hasil survei BPS terbaru, khususnya di Provinsi Jawa Timur yang menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jatim terbesar justru berasal dari lulusan SMK. Pengangguran dari lulusan SMK bahkan terbesar di antara strata pendidikan lain yang menyebabkan kecilnya penurunan angka TPT di Jatim.

BPS mencatat, angka pengangguran terbuka di Jatim hanya turun 0,01 poin selama setahun terakhir. Dari 4 persen menjadi 3,99 persen pada Agustus 2018. (Baca: Pengangguran Terbanyak di Jatim dari Lulusan SMK, Ini Penyebabnya).


Namun data ini tak berlaku bagi SMK Kesehatan. Nano Priyanto menyatakan, lulusan SMK Kesehatan sangat kompetitif di dunia kerja. Karena dibekali berbagai ilmu dan materi yang dibutuhkan dunia kerja.

“Siswa SMK Kesehatan mendapatkan 70 persen materi sekolah plus pelatihan bahasa dan pemenuhan standar yang diakui negara lain,” tuturnya. Selain itu, imbuh Nano, lulusan SMK Kesehatan juga dikenal tekun dan lebih kompeten dengan upah yang terjangkau dibandingkan lulusan pendidikan tinggi.

“Makanya kami juga sedang menggiatkan untuk teaching factory agar bisa meningkatkan kualitas lulusan. Apalagi tiga tahun terakhir beberapa SMK mulai menerapkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi sebagai pendukung ijazah lulusan,” jelasnya.

Selain itu, lulusan SMK juga dibekali dengan kewirausahaan agar bisa menciptakan produk hingga mengatur manajemen usaha. Sekolah dan Persemki juga menambah jaringan kerja sama dengan dinas kesehatan hingga industri untuk penyaluran lulusan.

“Menurut data saat ini 90 persen alumni sudah banyak terserap di dunia kerja, dan 10 persen sisanya para lulusan itu berwirausaha serta melanjutkan pendidikan,” kata Kepala SMK Citra Medika Sragen ini.

Nano menjelaskan, tenaga lulusan SMK Kesehatan yang masih dibutuhkan di antaranya bidang jurusan farmasi, asisten keperawatan, teknologi laboratorium medis, farmasi industri, asisten dental dan care giver. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here