Grafik hasil survei The Initiative Institute tentang preferensi masyarakat Jawa Timur dalam memilih capres-cawapres 2019.

IM.com – Dominasi calon presiden incumbent Joko Widodo di Jawa Timur belum goyah. Hanya yang aneh, hasil survei The Initiative Institute memang menunjukkan dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf Amin jauh di atas Prabowo-Sandiaga Uno di Jatim, tetapi pasangan nomor urut 1 malah kalah telak di wilayah Madura yang mayoritas warga nahdliyin tulen seharusnya menjadi salah satu lumbung suara mereka.

The Initiative Institute memetakan empat kategori daerah di Jatim. Salah satunya, Madura.

Di wilayah yang masyarakatnya muslim moderat dan pengikut Nahdlatul Ulama tersebut, suara Jokowi-Ma’ruf malah tersungkur. Responden di empat kabupaten di Madura lebih banyak mendukung Prabowo-Sandi dengan raihan  43 persen. Sedangkan Jokowi-Ma’ruf hanya meraup 20,5 persen.

“Ini merupakan geo spasial atau geo politik. Tapi Jokowi hanya kalah di satu wilayah yaitu Madura. Sementara di wilayah Arek, Pandalungan, dan Mataraman masih memimpin,” jelas peneliti The Initiative Institute, Hari Fitrianto saat rilis hasil survey tentang preferensi masyarakat dalam Pemilihan Presiden 2019,Senin (17/12/2018).


Hal menarik lain yang diperoleh dari survei terhadap 5.500 responden tersebut adalah faktor penentu keputusan pemilih Jatim. Program dan visi misi yang ditawarkan capres-cawapres merupakan tolak ukur pertama pemilih dalam menentukan pilihannya.

Faktor kedua adalah kualitas dan kelayakan personal kandidat. Faktor ketiga adalah fatwa kiai/ulama.

“Bahkan posisi fatwa kiai/ulama lebih bisa mengubah pilihan masyarakat Jatim dari pada persepsi bersih dari korupsi yang menduduki sebagai faktor ke lima,” ujar Hari.

Secara keseluruhan di Jatim, pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul jauh dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Jatim. Jokowi-Ma’ruf meraup sebanyak 57,7 persen dari total responden. Sementara Prabowo-Sandiaga hanya 19,7 persen.

“Sedangkan yang belum memilih masih 21,1 persen. Ini undecided votersnya,” papar CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi pada kesempatan yang sama.

Survei The Initiative Institute yang digelar pada tanggal 10-18 Oktober 2018 diklaim memiliki margin kesalahan hanya sebesar 1,3 persen.

Airlangga menjelaskan bahwa hasil survei tersebut menunjukkan masyarakat Jatim cenderung memilih pemimpin berdasarkan rasionalitas. Hal ini ditunjukkan dari perolehan dukungan (berdasar survei) kepada calon incumbent Jokowi berdampingan dengan Ma’ruf Amin yang masih tinggi.

Menurut Airlangga, derasnya informasi dan berita hoaks yang menyasar incumbent belakangan ini nyatanya tak mengubah preferensi masyarakat Jatim dalam memilih.

“Dari 57 persensuara dari Pak Jokowi, kalau kita lihat dark keluasan responden pada kinerja jokowi 12+44 masih tidak beda jauh. Artinya publik di Jatim memilih berdasarkan kinerja. Seluruh yang ragu-ragu juga melihat bahwa kinerja Pak Jokowi baik,” tuturnya.

Namun angka ini masihdapat berubah. Airlangga mengatakan bahwa masih ada swing voters atau pemilih yang berpindah dari masing-masing Paslon. Hanya saja, kekuatan program yang dimiliki oleh Jokowi-Ma’ruf dapat lebih mempertahankan pemilihnya.

“Soliditaspemilih Pak Prabowo-Sandi masih lemah karena memilih bukan berdasarkan kepercayaan pada calon. Di sini kita bisa membedakan, Jokowi-Ma’ruf pemilihnya karena kepastian jauh lebih kuat. Menurut presepsi masyarakat Jatim, Jokowi akan lebih kuat dari Prabowo-Sandi,” jelas Airlangga. (ide/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here