Cangkruan Babinsa Menggali Info Pak Tani 


IM.com – Babinsa Papar, Pelda Ermat Sulaiman, menyambangi beberapa kelompok tani yang sedang cangkruan di warung, di pertigaan Desa Papar arah menuju jembatan penghubung Kediri – Nganjuk lewat Papar Minggu (3/2/2019)

Bergenre “Babinsa Sobo Warung”, bincang santai di warung milik ibu Kasiyati, seputar dunia pertanian dibahas di depan warung berukuran 5 x 4 meter.

Pelda Ermat cenderung fokus melempar pertanyaan kepada Nur Hadi, (58 tahun) warga Desa Papar. Nur Hadi dikenal sebagai salah satu petani sukses.

Walaupun lahan pertanian yang dimilikinya tidaklah seluas lainnya. Nur Hadi mengaku, saat ini ia mengelola lahan pertanian seluas 1,5 bahu atau 1,05 hektar, dan lahan tersebut berada di sebelah selatan Desa Papar.


Menanggapi musim panen padi, Nur Hadi menceritakan kondisi terkini lahan pertanian miliknya serta rekan-rekan seprofesi petani. Diceritakannya, musim panen padi di Desa Papar masih belum seberapa, kalaupun ada panen di bulan Februari ini, jumlahnya tidak lebih dari 4 bahu (2,8 hektar). Sebagian besar panen, lokasi sawahnya berada di sebelah utara Desa Papar.

“Buan Februari ini, belum masa puncak panen, paling-paling yang panen hanya 4 bahu. Panen di bulan Februari, kebanyakan ada di sebelah utara (Desa Papar), yang selatan cuma sedikit,” kata Nur Hadi.

Nur Hadi menambahkan, hasil panen di Desa Papar, rata-rata hasil gabah sebahunya (0,7 hektar) mencapai 760 kwintal atau 7,6 ton sekali panen, tiap sebahu (0,7 hektar) hasilnya tidak pasti, bisa naik turun.

Menurutnya, kalau bagus gabah bisa mencapai 790 kwintal atau 7,9 ton per bahu (0,7 hektar), kalau agak kurang bagus gabah cuma dapat 720 kwintal atau 7,2 ton. Kalau ada halangan, biasanya gabah cuma panen 630 kwintal atau 6,3 ton per bahu (0,7 hektar).

“Sebahu, paling-paling bisa panen sekitar 760 kwintal, itu rata-rata sebahu. Kalau bagus, panen bisa dapat 790 kwintal perbahu. Kalau jelek cuma dapat 720 kwintal. Kalau ada halangan, biasanya cuma dapat 630 kwintal,” jelas Nur Hadi.

Menjawab kendala non teknis di musim hujan, dijelaskan Nur Hadi, diakui memang ada, hal ini disebabkan pasokan air dianggap terlalu melimpah dan sangat memungkinkan menggangu pertumbuhan padi secara normal.

Kendati pasokan air melimpah, saat ini aliran irigasi masih bisa dikatakan mampu mengalirkan kelebihan air, tetapi hal ini tidak bisa diprediksi di hari-hari kemudian.

Hasil panen, Nur Hadi mengatakan, sebagian besar warga Desa Papar lebih memilih menyimpan gabah ketimbang menjualnya ke pasar. Disimpannya gabah yang kemudian digiling dan keluar berwujud beras, lebih dipilih untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga. Tetapi Nur Hadi tidak mengelak, kalau ada petani yang lebih mengutamakan menjual secara keseluruhan hasil panennya.

Bincang santai sambil ngopi bareng ini bisa dijadikan acuan kondisi terkini seputar dunia pertanian, khususnya di Desa Papar. Kendati tidak 100%, setidaknya apa yang diperbincangkan tersebut bisa dijadikan gambaran singkat kondisi tanam padi di Desa Papar. (penrem 082)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here