Proses produksi mesin pembakar sampah tanpa antpolusi INPOSAE Dusun Setoyo, RT 4 RW 2, Desa Talunblandong, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto.

IM.com – Sebuah inovasi teknologi untuk mengelola sampah tercipta di tengah semakin kritisnya kebersihan lingkungan dan maraknya pembuangan popok bekas sembarangan yang mencemari sungai.

Adalah INPOSAE (Insenerator Portable Sistem Aero), sebuah instrumen cukup sederhana dan fleksibel untuk membakar sampah anti polusi yang diproduksi Widianto dan Suwajib.

Mesin inovatif ini ditelurkan dua orang dari Dusun Setoyo, RT 4 RW 2, Desa Talunblandong, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto. Mesin ini diklaim bisa menjadi solusi untuk menanggulangi permasalahan sampah di lingkungan desa yang kerap tak terkelola.

“Mesin ini sangat praktis bisa dibawa kemana-mana karena ada rodanya. Bentuknya tabung berdiameter 70 cm, tinggi 80 cm,” terang Widianto kepada wartawan, Jumat (15/2/2019).  


Widianto menjelaskan, INPOSAE dirancang khusus dengan memanfaatkan sistem spray air yang multi fungsi. Anti polusi, bisa digunakan pupuk cair, organik, hingga penyulingan hasil pembakaran kayu putih.

Widianto mengatakan, hasil karyanya sudah menjadi komoditi yang dibeli beberapa pihak. Ia mengaku sudah memproduksi lima mesin, dan pernah dikirim ke desa-desa di Kabupaten Sidoarjo.

“Sudah produksi mulai pertengahan tahun 2018 lalu. Dipesan beberapa pihak. Seperti sejumlah desa di Sidoarjo, diantaranya Desa Ngeni, Kecamatan Waru, Desa Junwangi, Kecamatan Krian, dan Kantor Dishub Sidoarjo,” kata Widianto. Pesanan mesin INPOSAE juga terus meningkat.

“Kami sedang mememunhi permintaan dari Bandung, Jakarta dan beberapa daerah lain,” ungkapnya.

Menurut Widianto, INPOSAE juga terbilang lebih hemat dibandingkan dengan besarnya duit iuran dari warga untuk mengelola sampah di lingkungannya. Ia pun merinci biaya untuk menggunakan INPOSAE.

“Itung-itungannya gini mas, biaya pembakaran termasuk listrik dan lpg, estimasinya sekitar 3 juta per bulan jika sehari melakukan tiga kali pembakaran. Kemudian dibagi 300 KK, maka satu KK hanya mengeluarkan uang 10.000. Nah, kalau iuran di kota per bulan kan sampai 35.000,” paparnya.

Untuk harga INPOSAE, Widianto mematok Rp 25 juta per unit. Menurut Widianto, harga itu jauh lebih murah dibanding mesin pembakaran milik pabrik yang bisa menyentuh angka ratusan juta.

“Biaya produksi INPOSAE cukup mahal. Untuk alat-alat pendukung, mulai dari blower dinamo, water pump, hingga isolasi bisa sampai Rp 20 juta. Belum biaya lain. Jadi harga Rp 25 juta untuk pemerintah desa itu masih terjangkau,” jelas Widianto.

Meski mendapat laba yang tidak terlalu besar, namun Widianto dan rekannya Suwajib beserta kelompoknya mengaku bangga karena karya mereka ini bisa menciptakan lapangan kerja.

“Untuk satu unitnya, kami kerjakan bersama empat orang. Tuntas dikerjakan selama dua minggu per unit. Artinya, jika pesanan bertambah, kita bisa merekrut banyak orang,” terangnya.

Dalam hal ini, Widianto bersama komunitasnya berharap, produknya bisa dilirik pemerintah, khususnya pemerintah setempat. Sebab, menurutnya INPOSAE adalah Insenerator yang tepat untuk mengatasi masalah sampah, sehingga sampah tidak dibiarkan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). (joe/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here