Tol Surabaya-Mojokerto.

IM.com – Laba bersih PT Wijaya Karya (Persero) Tbk pada semester I/2019 ditaksir melesat naik dibanding periode sebelumnya. Peningkatan kinerja keuangan perusahaan kontraktor plat merah ini terpengaruh masuknya dana segar dari proses divestasi tol Surabaya-Mojokerto (Sumo).

Perusahaan BUMN itu telah melego 20,34 persen saham nya di ruas tol Surabaya-Mojokerto kepada Astra Infra melalui, PT Astra Tol Nusantara. Dari peralihan saham tersebut, WIKA mengantongi dana segar Rp 715 miliar. (Baca: Astra Borong 44,5 Persen Saham Tol Surabaya-Mojokerto).

“Divestasi ini akan mendongkrak laba bersih perusahaan,” ujar Direktur Keuangan Wijaya Karya Ade Wahyu.

Ade menuturkan perseroan belum memiliki rencana divestasi lain setelah tol Sumo. Menurutnya, proses divestasi akan dilakukan emiten berkode saham WIKA itu setelah konstruksi dari proyek infrastruktur yang dibangun telah rampung dikerjakan.


Sebelumnya, Direktur Human Capital dan Pengembangan Wijaya Karya Novel Arsyad menjelaskan bahwa aksi korporasi ini merupakan langkah strategis yang menguntungkan bagi kedua pihak. Menurutnya, Astra Infra ingin meningkatkan kontribusi di ruas tol Trans—Jawa.

Novel menyebut WIKA kini tengah bertransformasi dari perusahaan konstruksi menjadi perusahaan investasi. Karena itu, pihaknya ingin fokus mengoptimalkan portofolio usaha yang nantinya akan memberikan keuntungan bagi perseroan dari sisi recurring income.

“Kesepakatan ini menjadi bagian dari proses restrukturisasi portofolio investasi kami,” jelasnya.

WIKA merupakan pemegang saham mayoritas untuk sektor jalan tol milik PT Wijaya Karya Serang Panimbang. Perseroan juga mengempit kepemilikan di Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengelola tol Balikpapan—Samarinda, Manado—Bitung, Cengkareng—Kunciran, Soreang—Pasir Koja, jalan tol Bali.

Pada kuartal I/2019, WIKA membukukan pendapatan Rp 6,50 triliun. Realisasi itu tumbuh 4 persen dari Rp 6,25 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dari situ, perseroan mengantongi laba bersih Rp 285,89 miliar per akhir Maret 2019. Pencapaian itu naik 66,98 persen dari Rp 171,21 miliar pada kuartal I/2018.

Sampai dengan April 2019, WIKA telah merealisasikan kontrak baru Rp 10,95 triliun. Jumlah itu setara dengan 17,73% dari target Rp 61,74 triliun yang diincar pada tahun ini.

Secara detail, perolehan kontrak baru pada Januari 2019—April 2019 berasal dari segmen energi dan industrial plant senilai Rp 5,00 triliun.

Selanjutnya, segmen infrastruktur dan gedung berkontribusi senilai Rp 3,76 triliun. Disusul segmen industri Rp 1,67 triliun dan segmen properti Rp 523,62 miliar.

Kontribusi perolehan kontrak baru 2019 diproyeksikan berasal dari sektor swasta sebesar 29,73  persen, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebesar 29,62 persen, investasi yang dilakukan perseroan sebesar 24,17 persen, dan pemerintah sebesar 16,48 persen.

Perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure Rp 18,19 triliun pada 2019. Dana itu akan difokuskan untuk proyek investasi di bidang energi dan industrial plant, gedung dan properti, serta infrastruktur.

Dari situ, WIKA membidik penjualan Rp 42,13 triliun dan laba bersih Rp 3,01 triliun pada 2019.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Tim Analis PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia menuliskan bahwa lewat divestasi tersebut WIKA mendapatkan bonus arus kas ditambah dengan capital gain. Sebagai penjual, perseroan juga mendapat arus kas masuk Rp 715 miliar termasuk laba penjualan Rp 300 miliar yang dicatat dalam keuangan kuartal II/2019. (bis/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here