Sampah Popok Capai 2,4 Juta per Hari
Beragam jenis sampah, termasuk popok bekas membanjiri sejumlah sungai di Mojokerto.

IM.com – Banyaknya sampah yang mengotori Sungai Ledeng di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Mojokerto melahirkan persoalan lain selain indikasi pencemaran limbah pabrik usus yang menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Pemerintah Kabupaten Mojokerto punya kewajiban memberi kesadaran kepada masyarakat yang memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai, selain menyediakan tempat pembuangan yang memadai.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin mengakui permasalahan tersebut. Menurut Didik, tidak mudah untuk mengubah kebiasan masyarakat membuang sampah ke  sungai.

“Kebiasaan itu kan sudah menjadi perilaku. Butuh proses untuk mengubah perilaku, tidak semudah membalikkan telapak tangan,” kata Didik.

Meski tidak mudah, Didik menegaskan, kebiasan buruk itu tetap harus diubah. Upaya memberi kesadaran kepada masyarakat tersebut menjadi semakin mendesak harus segera dilakukan mengingat kondisi sungai di Mojokerto dan seluruh Indonesia pada umumnya, semakin memperihatinkan karena pencemaran sampah. (Baca: Sampah Popok Banjiri Sungai di Mojokerto, Begini Dalih Dinas Lingkungan Hidup).


“Yang paling penting sekarang ini memang membuat masyarakat sadar. Kalau membersihkan (sungai dari sampah) itu kan mudah, tapi kan tidak menjamin sungai itu bersih selamanya. Jadi harus diatasi sumbernya, ya itu tadi mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan,” jelas Didik.

Data yang dikantongi DLH menyebutkan pola pikir masyarakat terhadap sampah dengan kondisi sungai yang memprihatinkan itu berjalan linier. Sebanyak 72 persen masyarakat tidak memiliki kepedulian  terhadap sampah. Pada saat yang sama sebanyak 82 persen sungai di seluruh Indonesia dalam kondisi kritis akibat pencemaran. (Baca juga: Sampah Popok Capai 2,4 Juta per Hari, Ini Rencana Gubernur Jawa Timur).

“Persoalan sampah ini seperti fenomena gunung es. Selama ini yang dilakukan hanya melakukan pembersihan seperti memotong pucuk gunungnya saja, tapi dalamnya ini yang lebih besar tidak tersentuh,” tandas Didik.

Karena itu, Didik menilai, permasalahan sampah ini tidak akan pernah bisa selesai kalau penanganannya hanya bersifat parsial dan kasuistis. Ia berpendapat, penangggulangan masalah pencemaran lingkungan akibat sampah yang dibuang sembarangan ini harus dimulai dari bawah dan langsung menyentuh akarnya.

Salah satu strategi penanggulangan dini yang diwacanakan Didik adalah melalui edukasi. Didik menegaskan, selain terus menerus mengingkatkan kesadaran kepada masyarakat melalui berbagai kampanye dan gerakan kebersihan lingkungan, edukasi tentang kepedulian terhadap sampah ini juga harus ditanamkan ke generasi muda sejak dini.

“Gerakan kepedulian membersihkan lingkungan itu kan jangka pendek, nah jangka panjangnya ini yang harus kita pikirkan. Makanya, saya berencana persoalan seperti ini bisa masuk ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah, dari tingkat pendidikan taman kanak-kanak (TK) kalau bisa,” tegasnya.

Terkait gerakan dan kampanye memelihara kebersihan lingkungan, Didik menyatakan, hal itu harus dilanjutkan, bahkan diperluas. Terutama, terkait pengelolaan sampah rumah tangga.

“Sumbernya sampah ini kan yang banyak dari rumah tangga, kita terapkan pemilahan sampah rumah tangga mulai tingkat RT, di kampung-kampung. Saya juga sangat mengapresiasi inisiatif gerakan Aliansi Air membersihkan sungai-sungai di Mojokerto. Menurut saya gerakan itu harus diperbesar dan diperluas,” demikian mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto ini.  (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here