Stok solar habis di SPBU Jalan Raya Bypass, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

IM.com – Kelangkaan bahan bakar solar di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Mojokerto membuat para sopir menjerit. Sampai hari ini, PT Pertamina Regional MOR V Jatimbalinus masih melakukan pembatasan distribusi solar.

Pantauan di sejumlah SPBU di wilayah Mojokerto sebagian besar kehabisan stok solar. Mulai dari SPBU Meri yang berada di Kota Mojokerto, SPBU Balongmojo Kecamatan Puri, SPBU Japan Kecamatan Sooko, SPBU Brangkal, Hingga SPBU di Wilayah Trowulan. Juga nampak, antrian panjang di SPBU Jabon tepatnya di depan Terminal Mojokerto.

Akibatnya, puluhan sopir truk dan kendaraan berbahan bakar solar lain putar balik. Ada juga yang memilih membeli BBM jenis Pertamina Dex yang harganya jauh lebih mahal.

Beberapa sopir terpaksa merogoh kocek 50 persen lebih banyak untuk membeli BBM Dex agar kendaraannya bisa tetap beroperasi. Harga Solar Rp 5.150 per liter, sementara Dex Rp 11.700 per liter.

“Baru pertama kali ini mengunakan Pertamina Dex, meskipun lumayan mahal dibanding solar ya terpaksa, mau gimana lagi,” ujar salah seorang sopir truk di SPBU Balongmojo yang hendak melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Blitar.

Pekerja Angkutan Sopir Trailer Indonesia Jatim, Achmad Nurrochim mengatakan, para sopir mengalami kerugian besar akibat kelangkaan solar. Kelangkaan solar ini akan berpengaruh pada perekonomian di Jatim mengingat sebagian besar truk digunakan untuk mengirim pasokan komoditi kebutuhan sehari-hari, seperti sayur dan buah-buahan.

“Kendaraan kami terganggu dengan kelangkaan ini. Padahal angkutan kami untuk mengangkut barang ekspor impor,” ungkapnya saat rapat dengar pendapat dengan DPRD Jatim terkait kelangkaan solar di Gedung Indrapura, Jumat (15/11/2019).

Bagian Administrasi SPBU Pertamina 54.613.01, Lilik Agustina mengatakan, jika Pertamina memang mengatasi permintaan solar sejak tanggal 4 November lalu. Menurut Lilik, biasanya setiap dua hari sekali SPBU Pertamina 54.613.01 mendapatkan kiriman solar sebanyak 32 ribu liter.

“Pertamina tidak menjelaskan terkait pembatasan. Biasanya tidak ada pembatasan, tanggal 4 kemarin Pertamina melakukan pembatasan,” katanya.

Saat ini, imbuhnya, Pertamina hanya memberikan 8 ribu liter per hari. Lilik mengaku, sejak Kamis (14/11/2019) kemarin, SPBU Pertamina 54.613.01 tidak dapat kiriman solar.

“Pengiriman tiap hari 8 ribu liter ini saja langsung habis, tidak sampai satu hari. Tapi sejak kemarin, tidak ada kiriman solar. Padahal disini, paling banyak solar karena banyak truk lewat jalur By Pass ini,” tuturnya.

Unit Manager Communication and CSR Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus Rustam mengakui jika stok solar semakin menipis. Untuk itu, PT Pertamina MOR V Jatimbalinus melakukan pengaturan dengan melakukan pengendalian agar solar tetap disalurkan.

“Kami Pertamina berusaha melakukan pengendalian dan pengaturan. Karena solar itu kebutuhan masyarakat, kita tidak bisa jika kuota habis kita stop sama sekali,” ujarnya.

Rustam merinci kuota solar untuk wilayah Jatim pada tahun 2019 sebesar 2,1 juta kilo liter (Kl). Sementara untuk konsumsi hingga Oktober 2019 sudah mencapai 1,9 juta Kl.

“Perhitungan awal kami realisasi Oktober hanya 1,7 juta Kl. Rata-rata setiap bulan konsumsi solar 200 ribu Kl. Nah nanti November dan Desember disalurkan 200 ribu Kl sama, kemungkinan sampai akhir tahun akan melebihi,” ucapnya. 

Sementara Wakil Gubenur Jatim, Emil Dardak mengatakan, pihaknya sudah menerima informasi tersebut dari PT Pertamina (Persero). Sesuai penjelasan Pertamina, kelangkaan solar terjadi karena permintaan solar sudah melebihi kuota yang ada.

Ia telah berkomunikasi dengan Kepala Dinas ESDM Provinsi Jatim untuk segera mengatasi masalah tersebut bersama Pertamina.

“Kita koordinasikan melalui dinas ESDM dengan Pertamina untuk memahami terlebih dahulu ada apa tentang situasi ini, apakah ada over kuota dan supaya segera ada penyikapan. Bagaimana Pertamina menyikapi kita harus tunggu dulu ESDM juga,” terang Emil di Gedung DPRD, Surabaya, Jumat (15/11/2019)

Emil enggan menerka-nerka adanya dugaan mafia penimbun solar. Pihaknya tengah mengkaji atas masalah over kuota solar yang disebabkan permintaan yang tinggi.

“Mereka (sopir) memang butuh solar untuk jalan, kalau tidak ada solar ya mereka protes, dan itu logis. Jadi ini memang ini harus diadakan solarnya, imbauan saya untuk para sopir kita sedang bekerja bersama-sama tentunya kewenangan ini bukan di Pemprov tapi kita berjuang untuk lancarnya arus barang dan jasa,” tuturnya. (im)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini