Petugas dan relawan mengevakuasi jenazah Andri Budi Santoso (46) di makam istrinya, tempat pemakaman islam, Desa/Kecamatan Gedeg, Mojokerto, Senin (20/6/2022) malam.

IM.com – Pengusaha produksi sepatu di Mojokerto, Andri Budi Santoso (46), diduga bunuh diri meminum racun tikus. Jasad korban ditemukan tergeletak di makam istrinya, Desa/Kecamatan Gedeg, Senin (20/6/2022) sore.

Mayat Andri ditemukan Juru Kunci Makam Islam Dusun/Desa Gedeg, Bambang Utomo (52) sekitar pukul 17.30 WIB. Awalnya, saksi mengira korban sedang berziarah.

“Saya datang untuk menyalakan lampu makam, tapi melihat ada orang sedang berziarah kok sampai maghrib,” ujarnya di lokasi, Senin (20/6/2022).

Posisi korban saat itu duduk bersila menghadap barat, tepat di sebelah timur makam istrinya, Sutiyaningsih. Namun, badannya tengkurap di atas makam.

Bambang kemudian mendekati dan menyapa dengan salam kepada korban. Karena tak mendapat respon, Bambang memberanikan diri mengecek denyut nadi pada tangan korban.

“Denyut nadi di tangannya sudah tidak ada, tangannya sudah dingin, mulutnya mengeluarkan busa campur darah,” terangnya.

Setelah memastikan Andri sudah tidak bernyawa, Bambang membaringkan jasad korban dengan kepala menghadap ke timur. Saat itulah, juru kunci makam itumelihat ada sisa racun serangga dan tikus kemasan saset di bawah tubuh korban.

Ada juga muntahan korban yang bercampur dengan darah. Selain itu, Bambang menemukan sebuah gunting yang dipakai korban membuka bungkus racun.

“Saya memberi tahu keluarga korban dan melapor ke Kepala Dusun Gedeg. Warga yang lain lapor ke Polsek Gedeg,” jelasnya.

Polisi tiba di lokasi langsung melakukan olah TKP. Sementara jenazah korban dievakuasi ke RSUD RA Basoeni untuk divisum sekitar pukul 19.30 WIB.

Sementara anak sulung korban Bima Santoso (18) mengatakan, terakhir kali bertemu bapaknya Senin sore sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, Andri baru saja pulang dari rumah calon istrinya, Fitri, janda warga Dusun Losari, Desa Sidoharjo.

Korban kembali meninggalkan rumah seorang diri setelah berganti pakaian kaus oranye dan celana jins cokelat. Andri juga tidak berpamitan kepada anaknya.

“Saya juga tidak tahu bawa apa saja. Tapi perasaan saya tidak enak sore tadi,” ungkapnya.

Perasaan Bima yang tidak karuan sore tadi akhirnya terjawab. Ia mendapat kabar kematian bapaknya setelah magrib.

Namun Bima tidak mengetahui alasan bapaknya bunuh diri. Menurutnya, tidak ada masalah dengan bisnis ayahnya sebagai pengusaha sepatu.

“Aslinya bisnisnya lancar-lancar saja,” ungkap pelajar kelas 2 SMK ini.

Korban diketahui mempunyai 2 industri rumahan sepatu di Dusun Gedeg dan di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg. Di lokasi terakhir itu, karyawannya berjumlah 15 orang.

“Usaha di Losari yang baru berjalan dipegang bapak sendiri. Yang di Gedeg saya disuruh mengurusi,” ungkapnya.

Sejak istrinya meninggal karena Covid-19 tahun lalu, Andri tinggal bersama 3 anaknya. Bima adalah anak sulung yang kini duduk di bangku kelas 2 SMK.

Anak kedua baru naik kelas 1 SMP. Serta anak ketiga baru TK B. (im)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini