Koleksi beragam jenis wayang di Museum Gubug Wayang Kota Mojokerto yang disebut paling lengkap se-Indonesia.

IM.com – Eksistensi wayang sebagai kesenian bernilai luhur bangsa Indonesia yang diwariskan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang mulai memudar seiring kemajuan jaman. Makanya, keberadaan Museum Gubug Wayang di Kota Mojokerto, memberi nafas dan harapan baru dalam upaya melestarikan seni dan budaya khas masyarakat Jawa ini.

Wayang telah melekat dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia, secara khusus bagi masyarakat Jawa. Namun seiring dengan era moderinisasi, peminat pertunjukkan wayang kian tergerus oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Kendati demikian, secercah harapan terbit dari Kota Mojokerto yang memiliki Musem Gubung Wayang. Tempat itu menyimpan aneka ragam wayang yang sering dipublikasikan melalui even-even pameran maupun pertunjukkan.

Museum yang berada di Jalan Kartini, Kota Mojokerto dikenal sebagai tempat yang memiliki koleksi wayang terlengkap. Wayang sendiri secara umum terbagi menjadi dua jenis, yaitu wayang yang diperankan oleh orang dan wayang berbentuk boneka atau kulit yang dimainkan oleh dalang.


Nah di Museum Gubug Wayang, tersedia berbagai jenis wayang, mulai dari wayang kulit, wayang potehi, ataupun wayang golek. Menariknya, banyak karakter wayang yang ditampilkan dalam bentuk tokoh-tokoh terkemuka saat ini, mulai dari Lady Diana, Mahatma Gandhi, dan bahkan Joko Widodo.

Di sini terdapat beberapa koleksi boneka serial Si Unyil karya Drs Suyadi atau yang lebih dikenal dengan Pak Raden. Boneka serial Si Unyil ini bukan hanya boneka biasa, boneka ini telah tayang di salah satu stasiun televisi.

Adapun karya-karya Pak Raden yang terdapat di museum ini, antara lain boneka Si Unyil dan penduduk Desa Sukamaju, Si Unyil dari berbagai era, band Dekil di serial Si Unyil tahun 80-an dan Desa Sukamaju serial Si Unyil.

Tak hanya wayang, Beberapa koleksi selain wayang antara lain adalah keberadaan kuda lumping, keris, gamelan, reog ponorogo, mainan zaman dulu, topeng, cincin batu akik, dan lain-lain. Bagi Anda yang suka dengan koleksi barang kuno, di sini juga terdapat buku Samkok yang konon telah berusia kurang lebih 100 tahun.

Salah satu pengelola Gubug Wayang, Sa’dan mengatakan, total koleksi kurang lebih ada 9800 item. Seluruhnya, disebut dengan koleksi kamardikan. Yang artinya, koleksi tersebut hasil karya para seniman di era Indonesia merdeka. Kesuluruhan koleksi tergolong karya masterpiece. Tak terlalu jadul dan terbaru.

“Seperti koleksi karya Pak Raden atau Drs Suyadi bukanlah koleksi yang terlalu jadul dan terbaru. Jadi ada (ditengah-tengah. Antara koleksi yang lama dan baru masuk museum ini,” katanya, Senin , 12 Desember 2022.

Tak hanya karya Pak Raden, di Museum Gubug Wayang ini juga terdapat koleksi karya seniman lain yang tak kalah menarik. Diantaranya karya Ki Naptosabdo dan Nizar Purbaya.

“Ada wayang yang pernah di pagelarkan di gedung putih Amerika. Yaitu wayang golek Betawi milik alamarhum Nizar Purbaya dari Jakarta,” jelas Sa’dan.

Karakter tokoh dan tema wayang pun beragam. Misalnya, wayang dengan tema budaya keagamaan seperti yang digunakan Kanjeng Sunan Kalijogo dan Pastur Adi Suyono untuk berdakwa.

“Ada wayang wahyu yang digunakan pastur Adi Suyono, begitu juga pastur dari Semarang yang menggunakan wayang mamarta,” terang Sa’adan.

Museum Gubug Wayang ini buka setiap hari, mulai pukul 09.00 WIB. Tarifnya, Senin-Jum’at Rp 25 ribu untuk dewasa, Rp 20 ribu untuk anak. Sedangkan Sabtu-Minggu Rp 30 ribu untuk dewasa, Rp 20 ribu untuk anak.

“Untuk sekolahan ada harga tersendiri bisa menghubungi contact person. Batasnya 90 pengujung,” pungkas Sa’dan. (cw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here