
inilahmojokerto.com – Di tengah bulan Ramadan yang biasanya sunyi, Jalan Raya Desa Pacing, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, sempat riuh oleh suara mesin sepeda motor yang berpacu.
Balap liar yang membahayakan itu berhasil dibubarkan jajaran Polres Mojokerto, Minggu (22/2/2026), di bawah pimpinan AKBP Dr.(C) Andi Yudha Pranata, S.H., S.I.K., M.Si.
Patroli awal Satlantas Polres Mojokerto menemukan 21 sepeda motor yang mayoritas tidak sesuai spesifikasi teknis (spektek), dan 37 remaja—kebanyakan pelajar SMP dan SMA kelas 1—yang diduga sebagai pelaku maupun penonton.
Saat petugas mendekat, sebagian peserta dan penonton melarikan diri ke selatan, menuju wilayah Kecamatan Dlanggu.
Petugas gabungan dari Polsek Dlanggu, Satlantas, dan Satsamapta Polres Mojokerto melakukan penyekatan di Jalan Raya Desa Tumapel, perbatasan Bangsal-Dlanggu.
Dalam waktu singkat, seluruh kendaraan dan remaja berhasil diamankan untuk pendataan, pembinaan, dan penindakan tilang. Sepeda motor yang diamankan dapat dikembalikan dengan syarat dikembalikan ke kondisi sesuai spesifikasi teknis standar.
Di balik angka dan prosedur itu, tersimpan cerita tentang malam Ramadan yang seharusnya diisi dengan ketenangan. Namun, aroma bensin dan deru mesin menggantikan suara adzan dan tadarus.
Roda-roda itu berputar di aspal, menantang kesunyian dan norma, sekaligus menjadi pengingat bahwa godaan bagi anak muda kadang lebih keras dari imbauan keselamatan.
Kasi Humas Polres Mojokerto mengimbau orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka.
“Sepeda motor yang diamankan dapat diambil kembali oleh pemiliknya dengan syarat wajib mengembalikan kendaraan ke kondisi sesuai spesifikasi teknis standar sebelum proses pengambilan” terangnya.
Balap liar bukan sekadar pelanggaran hukum; ia juga mengancam keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.
Malam itu, Jalan Raya Desa Pacing kembali hening. Knalpot dan sorak remaja hilang, digantikan bayangan bulan Ramadhan yang menenangkan.
Tapi peringatan tersirat tetap ada: di balik gelapnya malam, ada adrenalin muda yang perlu diarahkan agar tidak merusak masa depan, dan Ramadhan tetap menjadi waktu untuk menata diri, bukan menantang nyawa. (anto)
.







































